4

Tia cemburu berat. Tidak kurang tiga kali ia melihat pacarnya meraba-raba tubuh Uswatun. Semula ia lah yang membantu Tody membius Uswatun dan membiarkannya meraba dan memelototi tubuh gadis itu. Belakangan ia jadi sebal, karena Tody justru menaruh perhatian kepada gadis itu dan mulai mengabaikannya. Uswatun anak kost baru di pondokan yang dikelola Bu Lik Tia. Sebetulnya rumahnya masih di Yogya. Tapi karena terlalu jauh dari Bulaksumur, ia memutuskan kost di sana, sebab hanya 5 menit ia butuhkan untuk sampai ke kampus dengan angkutan umum.

Meski keponakan ibu kos, Tia punya kamar sendiri, bercampur dengan 6 anak kos lainnya, termasuk Uswatun. Yang menyenangkan baginya. Bu Lik-nya tak mau tahu urusan anak kos. Itu sebabnya, Tody bisa bebas keluar masuk pondokan, bahkan keluar masuk kamar Tia. Bahkan, Tody pernah menginap di kamar Tia dan menghabiskan malam Minggu bersamanya dengan “pertempuran” yang dahsyat. Ketika Tody pulang pada Minggu pagi, Tia bahkan tak sanggup membuka matanya karena kelelahan dan baru bangun sore harinya. Sejak awal Uswatun masuk, Tia memang sudah memendam kecemburuan. Pertama, Uswatun jauh lebih cantik darinya. Bahkan diam-diam ia mengagumi wajah cantiknya yang mirip Maudy Koesnaedi itu. Kedua, Uswatun diterima kuliah di PTN favorit, sedangkan ia hanya di akademi yang tak terlalu ngetop. Ketiga, mahasiswi baru ini tampak sangat alim dengan busana panjangnya yang longgar dan jilbab yang panjangnya sampai ke pinggul. Tentu saja, Tia merasa rikuh jika menerima Tody di kamarnya, sementara Uswatun melihatnya. Rasa rikuh itu akhirnya menjadi kejengkelan ketika suatu hari Uswatun menegurnya.

“Mbak, mbok jangan terima tamu lelaki di kamar tho…,” katanya lembut.
“Memangnya kenapa? Kami nggak ngapa-ngapain kok!” sahut Tia ketus.
“Ya nggak pantes aja… ” timpal Uswatun kalem.
Melihat ketenangan dan kelembutan gadis itu, Tia makin jengkel. Apalagi, tak cuma sekali itu Uswatun menasehatinya. Kejengkelan itu mencapai puncaknya ketika Uswatun justru menegur Tody yang baru saja akan masuk pondokan.
“Mas, mbok nemuin Mbak Tia-nya di teras saja, jangan di kamar…” katanya.
“Memangnya kamu ibu kos baru ya?” sahut Tody jengkel sambil nekad tetap masuk.

Di kamar Tia, Tody terus ngomel-ngomel.
“Iya, aku juga sebel sama dia. Enaknya diapain ya tuh anak?” kata Tia.
“Kamu suruh saja Bu Lik-mu mengusir dia,” timpal Tody jengkel.
“Alasannya?” sahut Tia.
Tody diam, tak punya alasan memang.
“Huh, aku jadi pengen memperkosa dia,” lanjut Tody.
“Memperkosa?”
“Iya, aku pengen gigit pentilnya sampai dia teriak minta ampun,” kata Tody gemas.
“Kamu serius?”
“Tentu saja, tapi bagaimana?”
“Aku tahu caranya.”
“Bagaimana?”
“Nanti kuberitahu. Tapi, sekarang perkosa aku dulu dooong…” Tia menggelendot manja di leher Toddy.

Lalu tiba-tiba kedua tangan Tody mencengkeram kedua payudaranya dan mendorong Tia hingga terhempas ke ranjang. Mungkin terbawa emosi, Tody mencengkeram payudara Tia yang tak seberapa besar dengan agak kasar. Akibatnya, Tia menjerit kesakitan.
“Aduhhh… pelan-pelan dong, Tod,” katanya.
Tody nyengir.
“Katanya minta diperkosa?”
“Iya, tapi merkosanya pelan-pelan, biar enak gitu…” sahut Tia yang mulai mendesah karena t-shirt ketatnya telah terdorong ke atas dan payudaranya yang terbuka bebas kini diremas lembut kekasihnya.
“Iya deh, nanti saja kasarnya kalau memperkosa cewek sok alim itu,” kata Tody.
Lalu, malam panjang pun diawali dengan pergumulan penuh aroma nafsu di kamar kos yang sempit itu.

Hari perkosaan itu pun tiba. Tia menunggu Uswatun pulang. Biasanya, tiap Jumat mahasiswi baru itu pulang petang. Tia tak tahu apa kegiatan calon korbannya itu sampai harus pulang setelah gelap. Yang jelas, tadi ia telah menyelinap masuk ke kamar Uswatun dengan kunci cadangan yang disimpan Bu Liknya. Lalu, ke dalam wadah air bening milik Uswatun dimasukkannya serbuk obat tidur. Dilebihkannya sedikit agar gadis itu betul-betul menikmati tidur panjang hingga esok hari. Tia tahu betul kebiasaan Uswatun. Pulang kuliah, masuk kamar, minum segelas air putih, lalu tiduran-tiduran sambil membaca majalah. Entah majalah apa, yang jelas cover-nya bergambar gadis berjilbab. Tia tak pernah tertarik membaca majalah seperti itu. Ia lebih suka membaca majalah anak muda masa kini.

Akhirnya yang ditunggu pun datang. Tia yang duduk di depan TV berlagak tidak melihat. Tapi diam-diam dia tercengang ketika melirik dan menyaksikan betapa cantiknya Uswatun hari itu. Ia seperti biasanya mengenakan jilbab putih sepanjang pinggang dan kali ini memakai busana longgar panjang semata kaki (Uswatun menyebutnya jubah) berwarna hijau muda dengan kembang-kembang putih. Sambil terus berpura-pura menonton TV, Tia melirik lewat pintu kamar yang tak ditutup. Ritual rutin itu sudah mulai berjalan. Uswatun duduk di tepi ranjang, melepas sepatu berhak tipis dan membiarkan kaus kaki tetap terpasang. Lalu, diraihnya wadah air bening dan menuangkan isinya ke dalam gelas. Tia tersenyum, rencananya berjalan mulus.

Uswatun tampak sangat haus. Air segelas pun langsung tandas. Lalu, ia membuka tasnya dan mengambil majalah kesayangannya. Disusunnya bantal untuk bersandar di dinding. Lalu kakinya pun selonjor di atas kasur dan ia mulai membaca. Tia mulai melakukan perhitungan mundur. Dilihatnya jarum detik jam dinding. Senyum Tia makin lebar. Pada hitungan detik ke-30, ia melihat tubuh Uswatun mulai miring ke kanan, tapi kemudian tegak kembali. Rupanya ia mencoba melawan kantuk. 10 detik kemudian, kembali miring ke kanan dan tegak lagi. Tapi kali ini Uswatun menggeser tubuhnya hingga pada posisi berbaring dengan kepala diganjal dua bantal dan mulai membaca lagi. 10 detik kemudian, Uswatun menyerah. Tangannya yang memegang majalah melemas dan terkulai ke bawah ranjang dan majalah itu pun tergeletak di lantai. Tia menghitung lagi hingga 10, Uswatun tak bergerak lagi.

Perlahan Tia masuk ke kamar Uswatun. Wajah gadis cantik itu betul-betul damai. Tia kini berdiri di sisinya dan melihat bagian dada Uswatun naik-turun dengan tenang, seperti orang yang tidur lelap. “Mbak… Mbak Us… Mbak…” Tia memanggil, tapi gadis itu tetap diam. Diulangnya lebih keras di dekat telinga, juga diam. Diguncang-guncangnya pundak gadis itu, juga diam. Nekad, Tia membuka kedua kelopak mata Uswatun. Tetap tak ada reaksi. “Hi hi hi… kena kamu anak sok tahu… tetekmu bakal dimakan si Tody,” kata Tia sambil meremas-remas kedua payudara Uswatun yang masih tertutup berlapis kain. “Memekmu ini juga bakal disodok kontolnya anak badung itu,” lanjut Tia sambil meremas-remas pangkal paha Uswatun dari luar jubahnya. Diperlakukan seperti itu, Uswatun tetap tak bereaksi. “Tood… hei… ini udah siap!” teriak Tia. Tia memang bisa berteriak sekeras itu karena yakin tak ada yang mendengar. Di lantai dua ini, cuma ada 3 kamar. Yang terisi cuma kamarnya dan kamar Uswatun, sedang anak-anak kost di lantai satu, jarang sekali main ke lantai dua.

Tody yang sejak tadi bersembunyi di kamar Tia langsung menghambur ke kamar Uswatun. Tody menyeringai melihat gadis yang dibencinya itu dalam keadaan tak berdaya. Seperti singa kelaparan menerkam mangsanya, kedua tangan mahasiswa itu langsung mencengkeram gundukan di dada Uswatun yang tertutup jilbab. Tody terus meremas dan menarik-narik gumpalan daging dalam genggamannya itu ke kanan, kiri dan atas. Akibatnya, jilbab Uswatun di bagian dada kusut. “Hmmm… memeknya boleh juga, tebel kayak kue apem,” kata Tody sambil kini meremas pangkal paha Uswatun. Tia senyum-senyum saja melihat pacarnya seperti anak kecil mendapat mainan baru. Ia tengkurap di ranjang sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, saat Tody mengangkat ujung jilbab Uswatun dan menyampirkan ke pundaknya. Tody kini mulai melepas 3 kancing di bagian atas jubah Uswatun. Lalu, bagian bawah jubah ditariknya melewati kepala.

Sepasang kekasih itu tertawa ketika melihat di balik jubahnya, Uswatun ternyata mengenakan kaus lengan pendek bodyshape yang membuat payudaranya tampak menonjol dan kemulusan lengannya terlihat bebas. Tak berlama-lama, Tody melepas kaus itu. Perhatian Tody beralih ke bagian bawah tubuh Uswatun yang tertutup rok dalam transparan. Rok dalam itu pun segera lepas. Tody kini berlutut di sisi Uswatun yang tetap berbaring dalam damai. Di sisi berseberangan, Tia masih telungkup bertopang dagu, menonton aksi pacarnya. Tapi kini ia membantu Tody melepaskan kaitan BH Uswstun. Bola mata Tody seperti akan meloncat keluar melihat keindahan payudara Uswatun. Begitu segar, mulus dan putih. Saking putihnya, pembuluh darah kebiruan di balik kulit mulusnya terlihat jelas. Putingnya mungil tapi cukup menonjol, seperti karet penghapus di kepala pensil. Tia tampak iri, payudaranya tak sebesar dan seindah milik Uswatun.

Sambil merengut, dipandanginya pacarnya melahap keindahan itu. Kedua tangan Tody tak henti-henti meremas sementara mulutnya terus melahap, mengulum dan menggigit-gigit puting susu Uswatun. Tiba-tiba Tody berhenti, lalu memandangi “hasil karyanya”. Sekujur permukaan buah dada Uswatun kini basah oleh liur Tody, terutama di bagian kedua pucuknya yang kini makin tegak. Bagian itulah yang kemudian masing-masing dijepit ibu jari dan telunjuk Tody. Ditariknya ke atas sampai batas maksimal. Dalam keadaan sadar, Uswatun pasti sudah menjerit-jerit kesakitan. Tody lalu melepas jepitannya, hingga kini gumpalan daging itu terjatuh dan berguncang ke sisi kanan dan kiri tubuhnya. Tody melakukannya berulang-ulang, seperti tengah menguji tingkat kekenyalannya. Tody kembali berhenti. Perhatiannya kini tertuju ke CD Uswatun yang tampak penuh. Diremasnya dengan penuh nafsu, sambil jari tengahnya mencari-cari jalan masuk.

Tak sabar, ditariknya CD Uswatun turun. “Edan, ini memek yang indah,” katanya sambil melorot hingga wajahnya tepat di muka pangkal paha Uswatun. Direnggangkannya paha gadis itu, lalu dengan rakus dijilatinya kemaluan cewek alim itu. Tia memandangi dengan cemburu ketika Tody dengan jari-jarinya menguakkan liang kemaluan di depannya. Perlahan daging segar itu membuka, memperlihatkan bagian dalam yang kemerahan dan basah. “Asyiikk… cewek ini masih perawan. Nggak kayak kamu dulu waktu pertama kali tak kenthu,” kata Tody sambil membuka celananya. Tia mencibirkan bibirnya, sebel. Tia makin sebel ketika Tody menyuruhnya mengulum penisnya. “Biar gampang, memeknya masih seret… maklum perawan,” kata Tody sambil meringis-ringis karena Tia mengulum penisnya kuat-kuat.
Kini Tody bersiap-siap menyetubuhi gadis berjilbab itu. Kepala penisnya sudah terjepit bibir vagina Uswatun, sementara kedua tangannya berpegangan pada kedua payudara Uswatun yang tetap terpejam.
“Eh, tunggu dulu…” tiba-tiba Tia menahan dada Tody.
“Kenapa?” kata Tody jengkel karena terganggu.
“Kamu bilang dia masih perawan?”
“Iya, kenapa?”
“Bagaimana kalau nanti dia curiga, karena memeknya sakit dan berdarah? Dia pasti menuduh kamu…”
“Terus bagaimana?”
“Kamu jangan perkosa dia di rumah ini, karena dia pasti menuduh kamu. Kan kamu lelaki yang paling sering dia lihat di sini…” ujar Tia.

Omongan Tia termakan juga oleh Tody. Bagaimanapun, dia tak mau berurusan dengan polisi.
“Terus, bagaimana aku membawa dia keluar rumah ini sekarang? Di bawah banyak orang kan?”
“Ya bukan sekarang dong Tod… Lain waktu kamu culik dia. Entar aku bikinin skenarionya deh…”
“Terus sekarang gimana, udah nanggung nih!”
“Udah deh, kamu selesaikan sama aku. Sambil, kamu apain kek cewek ini. Kamu jilatin kek, remes kek asal bukan kontolmu masuk ke memeknya…” lanjut Tia sambil melepas celananya.

Akhirnya, sambil menahan kesal, Tody pun menyelesaikan hajatnya dengan Tia. Emosinya bahkan sempat membuat Tia kesakitan. Tentu saja ia tak melupakan Uswatun. Sepanjang memompa penisnya ke dalam milik Tia, lidah dan tangannya tak pernah berhenti menikmati tubuh telanjang Uswatun. Bahkan, sekali telunjuknya menusuk anus gadis itu. Menjelang pagi, Tody akhirnya ambruk dengan penis menancap jauh di dalam vagina Tia. Namun, wajahnya melekat erat di selangkangan Uswatun. Tia tak membiarkannya berlama-lama seperti itu. Cepat disuruhnya Tody merapikan kembali korbannya. Tak lama kemudian, Uswatun kembali dalam posisi tidur nyenyaknya, lengkap dengan jubah dan jilbab panjangnya.

Uswatun baru bangun menjelang matahari terbit. Kaget juga ia menyadari telah tidur begitu lama, masih lengkap dengan pakaian yang dikenakannya saat kuliah. Gadis itu duduk di ranjang dan merasakan heran karena sekujur tubuhnya terasa seperti habis bekerja keras. Padahal, ia habis tidur begitu lama. Tapi ia tak membiarkan dirinya berdiam diri berlama-lama. Cepat ia bangkit, menyambar handuknya dan ke kamar mandi. Di kamar mandi, Uswatun keheranan karena merasakan ngilu pada kedua payudaranya, terutama pada putingnya. Hal yang sama juga dirasakannya pada pangkal paha. Yang juga membuatnya khawatir adalah pedih di anusnya. Tetapi Uswatun lagi-lagi tak ingin berlama-lama di kamar mandi. Apalagi, ia ada janji bertemu teman pukul 07.00 pagi nanti.

Pengalaman malam Sabtu di kamar gadis berjilbab itu membuat Tody ketagihan. Sejak Sabtu sore ini, ia sudah kembali berada di rumah kos pacarnya. Tia jadi jengkel, karena Tody menyuruhnya melakukan hal yang sama seperti Minggu lalu. Betul saja, malam itu pun ia cuma jadi penonton ketika Tody habis-habisan mencumbu tubuh telanjang Uswatun yang tak sadarkan diri akibat obat tidur. Bedanya, kali ini Tody bawa kamera foto. Dipotretnya Uswatun yang berjilbab tapi tak mengenakan apapun di bagian bawah tubuhnya. Disuruhnya pula Tia memotretnya tengah berlagak menjepitkan kepala penisnya di antara bibir vagina Uswatun dan saat ia memasukkan penisnya ke mulut mungil gadis itu. Lagi-lagi, Tia cuma jadi keranjang sampah. Jadi pelampiasan nafsu Tody yang sudah sampai ke puncak.

Seminggu kemudian, Tody meminta hal yang sama. Tapi kali ini Tia menolak. Diam-diam ia cemburu. Apalagi, Tody sering membanding-bandingkan tubuhnya dengan tubuh gadis itu. “Memek Uswatun wangi, memekmu bau kecut,” atau “Tetekmu melorot, nggak kayak punya Uswatun, masih kenyalll…” begitu Tody biasa mengatakannya. Meski Tia tak mau, Tody nekat melakukannya sendiri. Menjilati, meremas, mengulum atau sekadar menggesekkan penisnya ke bibir vagina Uswatun. Bagaimanapun, Tody masih tak mau merusak keperawanan gadis itu di kamar kosnya. Kali ini, Tody keasyikan memperkosa mulut Uswatun. Ia lupa daratan dan satu semprotan spermanya masuk ke mulut gadis itu. Lima semprotan lagi menodai wajah sendu Uswatun. Sebagian bahkan menumpuk di kelopak matanya yang memejam. “Wah gawat, dia bisa tahu nih!” pikirnya sambil susah payah melap wajah dan bagian dalam mulut Uswatun dengan tisu. Tapi Tody masih beruntung. Saat bangun, Uswatun memang merasakan sesuatu yang amis di mulutnya. Ia muntah, tapi tentu saja tak terpikir olehnya bahwa spermalah yang ada di mulutnya. Ia malah menduga, mulutnya diberaki cecak!

Empat minggu sudah Tody berlaku seperti itu. Tapi belum juga ia menemukan cara untuk membawa Uswatun keluar dari kostnya dan memperkosanya. Sementara Tia makin cemburu. Cemburu akhirnya membangkitkan dendam. Tia kemudian meminta tolong lima teman lelakinya untuk membalaskan dendamnya. Pembalasan dendam itu menemukan jalannya ketika Uswatun pulang agak malam dari kampus. Di tepi jalan, temannya yang mengantar dengan sepeda motor barusan bergerak pergi. Uswatun melangkah menuju tangga ke ruang bawah. Dari tempat tersembunyi, Tia memberi kode pada lima temannya. Dekat tangga, di tepi jalan, sebuah mobil Kijang tahu-tahu terbuka pintunya. Uswatun menengok sebentar, seorang lelaki turun. “Mbak, numpang tanya…” katanya. Uswatun berhenti, tapi tahu-tahu ada yang meringkus dan membekap mulutnya dari belakang lalu menyeretnya ke mobil yang langsung melesat pergi. Di dalam mobil Uswatun meronta-ronta, tapi percuma, kedua tangannya dipegangi kuat-kuat. “Toloongg… akhhh… aufff… tollong,” teriaknya. Tapi empat lelaki yang menghadapinya justru tertawa-tawa. “Tidak ada yang mendengar kamu, suara musik di mobil ini yang justru terdengar di luar. Jadi lebih baik kamu diam dan menurut,” kata salah seorang.

Tapi tak urung Uswatun meronta dan menjerit-jerit ketika jubahnya mulai dilucuti, lalu seluruh kain yang melekat di tubuhnya, tinggal jilbabnya saja. Empat orang itu terus menciumi dan meraba sekujur tubuhnya sepanjang jalan sambil tertawa-tawa. Mobil akhirnya berhenti di sebuah rumah besar di tempat yang sunyi. Tubuh telanjang Uswatun digotong ke dalam lalu dihempaskan di lantai keramik. Lima lelaki itu langsung menelanjangi diri mereka sendiri. “Kamu harus tahu, ini peringatan buatmu agar tidak sombong,” kata seorang yang tampaknya pemimpin mereka sambil mengacungkan penis telanjangnya. “Sa… saya… nggak ngerti,” sahut Uswatun kebingungan. “Tidak usah belagak bego, rasakan ini,” kata lelaki itu sambil menindihinya. Uswatun memekik, sesuatu yang besar, keras dan panas menekan liang vaginanya. Meronta pun percuma, empat temannya membantu memegangi tangan dan kakinya sambil merabai seluruh tubuhnya. Uswatun menjerit histeris saat vaginanya akhirnya ditembus penis lelaki itu.

Nafasnya tersengal-sengal saat akhirnya ia merasakan cairan yang hangat memenuhi rongga vaginanya. Lalu lelaki pertama menarik penisnya keluar. Seseorang mendorong kepalanya yang masih berjilbab dan memaksanya melihat cairan putih kental meleleh keluar dari rongga vaginanya. Ia terisak melihat cairan putih itu berwarna kemerahan. Tak lama kemudian, orang kedua memperkosanya juga. Lalu ketiga, keempat dan kelima. Uswatun nyaris kehilangan kesadarannya. Ia tergolek miring di lantai yang dingin. “Babak kedua,” kata pemimpin kelompok itu ketika dilihatnya Uswatun meringkuk di lantai. Empat orang lalu merenggut jilbabnya. Rambutnya yang panjang tergerai kemudian ditarik. Gadis itu menjerit. Dengan rambut itu, ia diikat tergantung hingga kakinya jinjit. Tangannya diikat dengan BH-nya sendiri. Kelima lelaki itu kemudian mengguyur tubuhnya hingga bekas pemerkosaan hilang.

Dalam keadaan tubuh basah kuyup kembali ia diperkosa. Sepanjang pemerkosaan, seorang di antara pemerkosanya memotretnya dari segala sudut, termasuk ketika Uswatun disodomi dan berkali-kali menerima semburan sperma di mulutnya. “Foto-foto ini akan kami sebar kalau kamu melapor kepada siapapun. Dan dengan foto ini pula, kamu harus mau melakukan apapun yang kami inginkan kapan saja kami mau,” kata si pemotret. Akhirnya Uswatun tak tahan. Ketika lelaki terbesar memperkosanya lagi, padahal anusnya tengah dimasuki sebatang penis, mahasiswi baru itu semaput. Dalam keadaan pingsan, ia dikembalikan ke kamarnya, digeletakkan begitu saja di kasur. Telentang, telanjang, seorang pemerkosanya bahkan menyelipkan pisang ambon ke lubang vaginanya. Tia tahu kedatangan teman-temannya yang membalaskan dendamnya, melarang Tody keluar kamar. Tapi Tody bukan tak tahu, maka kini Tia yang dibiusnya lewat minuman. Saat Tia tertidur, Tody mendatangi kamar Uswatun. Ia geleng-geleng kepala melihat vagina mahasiswi itu disodok pisang ambon besar lengkap dengan kulitnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s