2

Siapa yang menduga ternyata aktivis PKS yang selalu tampak santun, alim dan sholehah adalah seorang pelacur high class? Sehari-hari ia bukan hanya senantiasa menjaga diri dari pergaulan dan menutup auratnya dengan jubah panjang longgar dan jilbab lebar, tetapi sangat rajin dalam kegiatan dakwah dan pengajian.

Ifah, demikian panggilannya akrabnya, memang terkenal sebagai seorang akhwat muda yang disegani. Ia sering diundang ceramah terutama tentang “pentingnya seorang muslimah menjaga aurat dan pergaulan” ke berbagai tempat, di samping memimpin sebuah majelis pengajian ibu-ibu.

Hal itulah yang membuatku tak percaya sama sekali kalau ia bisa “dipakai”. Sampai akhirnya karena penasaran, aku mengontak nomor yang diberikan Diana, sekretaris cantik sebuah perusahaan yang sering kugarap itu. Ohya, sebelumnya perkenalkan. Namaku Suhendra, 43 tahun, seorang direktur perusahaan minyak.

Terdengar “Assalamulaikum” yang sangat merdu dan lembut dari seberang, sehingga membuat jantungku berdebar keras. “Walaikum Salam,” jawabku agak gugup, lalu dengan ragu-ragu menyebutkan “kode” yang diberikan Diana.

Hasilnya di luar dugaan, membuatku tercengang-cengang.
“Bayaran saya 20 juta semalam, Pak. Tidak bisa ditawar-tawar,” terdengar jawaban dari seberang, tetap dengan nada yang sangat santun, “Apakah Bapak sanggup?”

“Ya saya sanggup,” jawabku dengan dada berdegup kencang, “Kapan kita bisa bertemu?”
“Saya hanya “bekerja” setiap malam Minggu. Tapi sebelumnya saya punya syarat sendiri. Jika Bapak bersedia dan menyanggupi syarat-syarat ini, saya baru bersedia melayani Bapak.”
“Apa syaratnya Mbak Ifah? Ohya panggil saya Mas saja, jangan Bapak. Mas Hendra.”
“Baiklah Mas Hendra, syarat saya yang pertama, saya tidak mau main di hotel, jadi silahkan Mas cari rumah atau villa. Saya tidak mau mengambil resiko identitas saya terungkap. Kedua, saya tidak akan pernah membuka jilbab saya apapun kondisinya kecuali mandi. Hal ini sudah komitmen saya sejak awal. Bagaimana?”

“Oke, saya setuju. Tapi ada satu hal yang saya ingin tanyakan pada Mbak. Sebelumnya perlu Mbak ketahui, saya ini maniak seks, kalau menikmati tubuh perempuan tak ada yang mau saya lewatkan seinci pun. Apakah saya boleh mencicipi lubang dubur Mbak Ifah juga?”

Terdengar suara tertawa lembut di sana, “Boleh saja Mas Hendra. Mas boleh menikmati seluruh lubang yang ada di tubuh saya… Kalau sudah menetapkan tempatnya, silahkan SMS saya ke nomor ini. Terima kasih dan sampai ketemu, Mas. Assalamualaikum…”

Akhirnya hari yang saya nanti-nantikan pun tiba. Sesuai kesepakatan, Afifah tidak mau dijemput atau bertemu di luar. Ia akan datang sendiri ke alamat villa yang telah saya sewa ini dengan taksi.
“Assalamualaikum…” terdengar sapa lembut nan santun yang sangat khas lalu menyusul dering bel. Buru-buru aku berlari ke depan dan membukakan pintu. Dan saat itu juga, serta merta aku terpana takjub. Bahkan terpaku di ambang pintu laksana patung hidup. Betapa tidak, seumur hidupku belum pernah kulihat gadis seanggun, semanis, dan secantik gadis berjilbab lebar berwarna ungu yang berdiri dengan santunnya di hadapanku ini. Kedua matanya bening menyejukan dan menatapku dengan malu-malu. Hidungnya mancung, dengan sebentuk bibir mungil yang tipis namun penuh. Tampak merah basah dan segar. Begitu serasi dengan bentuk wajahnya yang bujur telur. Kulit wajahnya halus sekali, putih bersih dengan pipi merona kemerah-merahan dan dagu berbelah.

“Assalamualaikum… Mas Hendra?” ia mengurangi salamnya dan bertanya.
“Wa-walaikum Salam… I-iya, iya, saya sendiri. Ini Mbak Ifah kan?” jawabku belum juga bisa menutupi kegugupan. Ah, memalukan sekali!
“Benar Mas. Saya Afifah…,” ia tersenyum tipis, “Dan saya telah datang sesuai dengan kesepakatan di telepon.” Aduh, Mak! Cantiknya. Senyumnya betul-betul memikat dengan sebaris gigi yang putih bersih dan dua buah lesung pipit di pipinya di kiri kanan.

Aku mengulurkan tangan hendak mengajaknya bersalaman, tetapi seperti umumnya akhwat-akhwat alim, ia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Hal itu membuatku jadi kikuk sekali dan dengan wajah bersemu merah menarik kembali tanganku yang terlanjur terulur. Sialan! Untunglah dengan cepat aku bisa menguasai diri kembali.

“Ah, silahkan masuk Mbak,” kataku kemudian bergegas menepi dari ambang pintu membuka jalan. Ifah kembali tersenyum dan melangkah masuk dengan anggun. Kedua telapak kakinya dibungkus sandal berhak sedang dan tertutup rapat kaus kaki. Setiap langkah yang dibuatnya begitu gemulai. Sayang, pinggulnya tertutup baju kurung panjang berwarna sama dengan jilbab lebarnya dan rok panjang lebar berwarna putih yang menutupi sampai mata kaki. Kalau tidak, batinku, goyangannya pasti memabukkan.

Ia kemudian duduk di sofa ruang tamu di hadapanku dengan sangat santun. Kedua tangannya diletakkan di atas pangkuan kakinya yang tertutup rapat, badannya tegak. Tas kecilnya diletakkan di sampingnya. Benar-benar bikin gemas! Membuatku bingung bagaimana cara memulai. Untunglah tak lama Bi Sumi datang menghantarkan minuman. Kupersilahkan ia minum.

“Saya tahu, Mas Hendra sudah tidak sabar lagi menggeluti tubuh saya, menelanjangi dan merasakan kenikmatan memek saya… Tapi saya ingin pastikan dulu, apakah Mas Hendra sanggup mematuhi syarat saya kedua itu. Yaitu tidak pernah membuka jilbab saya kecuali kalau Mas hendak memandikan saya?”

“Tentu saja saya sanggup, Mbak! Justru saya sendiri ingin Mbak tetap mengenakan jilbab! Soalnya Mbak lebih cantik dan merangsang kalau dingentot dengan tetap pakai jilbab!” kataku dengan bernafsu. Ifah tertawa kecil, dan mengulurkan tangan padaku, “Kalau begitu, kita sekarang sudah boleh salaman! Anggap saja kita sudah muhrim!”

Langsung saja kusambar tangan mungilnya yang putih mulus itu, hingga Ifah terpekik, “Aaauuww! Mas, yang lembut dong! Bringas sekali!”

“Habis kamu nafsuin banget! Kungentot kau sampai tak bisa berdiri, lonte berjilbab!” teriakku kalap dan menerkamnya. Sekali lagi Ifah memekik, tapi detik berikutnya ia sudah berada dalam dekapanku. Kuserbu bibir tipisnya yang ranum hingga ia gelagapan. Begitu lembut, kenyal, manis dan segar. Kulumat habis-habisan, hingga kedua mata muslimah binal sok alim santun ini terbeliak-beliak. Kusedot sampai mengeluarkan bunyi kecipak, dan lidahku menyelinap masuk ke dalam mulutnya membelit-belit lidahnya. Tanpa diduga, ia membalas serangan ganasku dengan balas melumat dan menyedot. Lidahnya mulai bergerak liar, beradu dengan lidahku.

Mulai terdengar desahan demi desahannya yang merdu. Sebelah tanganku bergerak meremas buah dadanya yang masih tertutup rapat jilbab dan baju panjang. Terasa kenyal, padat membusung walau tidak besar.

“Oougghh, Masss.. Enaaak..!” rintihnya lirih ketika ciuman kami terlepas. Tanganku yang satu lagi dengan tak sabaran menyingkap rok panjangnya, ternyata ia masih memakai sehelai rok dalam warna krem. Dengan penuh nafsu, kusingkap saja rok dalam itu sekalian, dan tanganku pun menyelinap masuk. Ssseeerrrrhhh…! Pahanya mulus sekali! Kuelus dengan penuh nafsu, lalu kuremas-remas dengan kuat. Begitu kencang dan padat.

Ia merintih, mendesah-desah, dan mengerang. Rok panjang dan rok dalamnya kini sudah tersibak lebar memperlihatkan segala keindahan aurat yang selama ini selalu ditutup-tutupinya dalam perannya sebagai seorang akhwat alim sholehah. Kedua kakinya, dari betis sampai pangkal paha, sungguh super mulus dan super putih menggiurkan! Sehingga kurasa air liurku pasti sudah meleleh di luar kesadaranku. Celana dalam putih yang dikenakannya membuatku melotot besar tak berkerdip. Cd mungil itu begitu tipis menerawang dan tampak mengembung padat hingga tak mampu menyembunyikan lekuk lipatan memek muslimahnya.

“Massss Sayaaanggg… Celana dalam Ifah udah basah, Masss… Bukain dong!” pintanya mendesah manja sambil membuka kedua pahanya semakin lebar. Pinta itu membuat tanganku yang masih mengelus pahanya segera merayap naik hingga menyentuh bukit kecil di tengah selangkangannya. Ia emang tidak bohong, jari-jariku merasakan permukaan celana dalam itu sudah basah kuyup! “Iiihh..!” keluh akhwat manis ini tertahan.

Kutarik celana dalam itu ke bawah dan terus menanggalkannya dari ujung kakinya yang masih terbalut kaos kaki. Kubuang jauh-jauh. Ifah dengan penuh inisiatif mengangkang selebar-lebarnya yang ia mampu. Senyum teramat manis terbit di bibirnya, “Indah kan memekku, Mas?”

Jangan dikata lagi! Aku mau gila rasanya menyaksikan memek perempuan termolek yang pernah kulihat seumur hidupku ini. Apalagi pemiliknya masih mengenakan pakaian muslimah dan jilbab lebar lengkap! Kemaluan akhwat ini bagiku sungguh tak ada tandingannya! Bentuknya mungil tapi mengembung tembam. Berwarna kemerah-merahan, tampak basah, dan dicukur bersih tanpa sehelai bulu jembut pun. Meskipun terkangkang lebar sedemikian rupa, tapi memek itu tampak cukup rapat. Liang vaginanya hanya terkuak sedikit memamerkan isinya yang merah basah, dengan itil mencuat mungil.
Dibandingkan memek Afifah ini, memek Desi, Diana, dan Lydia kalah telak. Meskipun tentu saja memek masing-masing punya keistimewaannya tersendiri.

“Mas boleh jilati memekku sampai puas…”

Kuhirup habis cairan orgasme yang melimpah keluar dari dalam liang memek akhwat cantik ini dengan rakus. Ifah mengeluh lirih membiarkan aku mengulas sisa-sisa lender encer harum nan gurih itu. Wajahnya yang cantik dalam balutan jilbab lebar ungu tampak setengah tengadah bersandar pada sofa, memperlihatkan ekspresi kenikmatan tiada tara pasca keluarnya cairan suci dari dalam rahimnya yang subur.
Kemudian aku membuka celana panjangku berikut celana dalam dan duduk di sofa. Batang kejantananku tampak mengacung tegang dengan kerasnya. Terangguk-angguk. Ifah sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Setelah membenahi roknya yang awut-awutan, kini gantian akhwat berwajah alim itu berjongkok di depan kedua kakiku. Ia tersenyum tipis demi menyaksikan betapa panjang dan besarnya batang penisku yang perkasa.
Perlahan, demi lembut diulurkannya tangannya menyentuh kontolku. Jari-jarinya begitu lentik dan halus. Membuatku mengeluh lirih. Dibelai-belainya kepala kontolku yang merah dan berbentuk seperti kepala jamur lalu turun ke batang. Kemudian digenggamnya dan dikocok-kocok dengan lembut.
“Oooh, enaaak Sayaannngg.. Ennaaaak..! Aaah!” keluhku gak tahan nikmatnya.
“Mau yang lebih enak lagi?” tanyanya genit sambil terus mengocok sesekali memelintir lembut.
“Maauu, maaauu!” teriakku dalam derita surga dunia itu. Maka sambil tersenyum, ia pun mendekatkan mulutnya ke kepala kontolku. Tanpa sungkan-sungkan, bibir mungilnya yang ranum terbuka dan mengulum batang kejantananku. Kulumannya benar-benar dashyat. Lalu dengan begitu piawai dijilat-jilatnya kepala penis dan seluruh batang kontol kebanggaanku itu selama beberapa waktu, sebelum akhirnya dikulum lagi dan dihisap-hisap dengan keras.

Entah sudah berapa puluh kali aku dioral cewek, baik ABG, mahasiswi, gadis-gadis desa, ibu rumah tangga, janda, sekretaris cantik, bahkan artis. Tapi belum pernah sekalipun kurasakan oral seks yang senikmat ini. Jilbaber ini benar-benar ahli hisap kontol alias nyepong!

Aku semakin blingsatan ketika melihat wajahnya yang keibuan. Wajah cantik memikat yang masih tetap dibalut jilbab itu tampak begitu lugu dan tanpa dosa dalam kesibukannya mengoral batang kejantananku. Lidahnya yang merdu mengaji itu semakin trampil saja mencari dan mengulas titik-titik kelemahan batang kontolku.
Ada sekitar 30 menit oral seks itu berlangsung, hingga akhirnya aku tak tahan lagi. Sekujur tubuhku bergetar menahan rasa nikmat yang sulit dilukiskan, batang kontolku pun berdenyut-denyut keras. Ifah tampaknya tahu benar apa yang akan segera terjadi. Dimasukkannya batang kejantananku sampai separuh dalam kuluman mulutnya dan ia pun menyedot kuat-kuat. Jari-jarinya yang melingkari pangkal batang membantu dengan kocokan. Akibatnya….
“Aaaaaaaaakkkkhhhhhh, Ifaaaaahhhh! Ooohhh, Ifaaaahh!” aku meraung dashyat dan menyemburkan berliter-liter sperma kental ke dalam mulut akhwat bertampang tanpa dosa yang sudah ngelontekan diri dua tahun ini! Nikmatnya luarbiasa!! Saking banyaknya spermaku yang tersembur, sebagian tak tertampung lagi dalam mulutnya yang mungil dan meleleh keluar ke sela bibir dan dagunya. Terdengar jelas olehku bagaimana ia menelan air maniku di dalam mulutnya itu.
Tak sampai di situ, ia juga menjilati bibirnya, dan dengan jari menyeka sperma yang meleleh keluar dan memasukkannya ke mulut. Setelah itu, dengan telaten dijilatinya sisa-sisa cairan putih kental itu yang masih melekat di batang kontolku. Lalu masih dihisapnya kepala kontolku sampai tetesan yang terakhir ludes.
“Istirahat sebentar ya Mas? Ifah mau sholat dzuhur dulu,” bisiknya mesra sambil mengerdipkan sebelah mata lalu berdiri meninggalkanku terkapar di sofa ruang tamu.
Tak lama kemudian, ia mengirim SMS padaku bahwa ia sudah menungguku di kamar terbesar di villa itu. Buru-buru aku bangkit dan menuju ke sana. Sekilas aku melihat celana dalamnya masih tergeletak di lantai ruang tamu, berarti… Jangan-jangan ia sholat tanpa mengenakan celana dalam??? Waaah!!
Pintu kamar tertutup rapat. Dengan perlahan kuputar gerendel dan mendorongnya halus. Jantungku berdebar keras ketika melihat jilbab lebar, baju kurung dan rok panjang tersampir di sandaran kursi depan meja rias. Lalu kulihat juga sajadah lebar berwarna merah bergambar kabah terhampar di lantai kamar. Ah, apakah ia telanjang bulat? Apakah akhirnya ia memutuskan melanggar syaratnya sendiri dengan membuka jilbabnya?
Ternyata tidak! Tapi pemandangan di atas ranjang itu lebih luarbiasa lagi dari yang bisa kubayangkan. Akhwat cantik itu duduk di tepi ranjang mengenakan mukenah putih bersih dengan sebelah kaki ditekuk dan sebelah kaki lagi terjuntai ke bawah hingga mukenahnya tersingkap lebar di bagian paha memperlihatkan pangkal pahanya yang putih mulus dan bukit memeknya yang terbuka polos tanpa celana dalam! Luarbiasa!!!
Aku sampai tertegak di ambang pintu dengan mata melotot besar tak berkerdip.
“Kok cuma bengong, Mas? Terpukau ya sama memekku?” tanyanya genit lalu tertawa kecil.
“Ka-kamuu sholat tidak pake cd?” aku balas bertanya dengan tergagap-gagap karena dilanda oleh sensasi yang demikian hebat. Dengan wajah tersipu-sipu, ia menggeleng, “Nggak Mas. Di rumah kalau sholat, Ifah juga sering gak pake cd dan bra. Polos aja di balik mukenah…”

“Oooh, dasar lonteee berjilbab!!! Kungentot kau sampai nangis-nangis minta ampuun…!” teriakku lalu melompat ke atas ranjang menerkamnya. Ifah terpekik lalu cekikikan, disambutnya terkaman ganasku dengan membuka kedua pahanya seluas-luasnya. Liang memeknya megap-megap menerima sodokan kontolku. Lubang nikmat itu seolah menyedot batang kejantananku.
Kedua kaki mulusnya melingkar ketat di pinggulku, kedua tangannya mencengkram kuat bahuku. Rintihan nikmat begitu merdu keluar tiada henti dari mulutnya, “Ooohh, enaaaak Masss, enaaaakk! Yaaa Alllaaahh, eeenaaaakkknyaaa dingentttooot Masss!”
Aku seperti kesetanan menghentakkan batang penisku yang perkasa menghujami liang vaginanya. Tentu saja, seumur hidup baru kali inilah aku menyetubuhi seorang perempuan yang sedang mengenakan mukenah. Sebuah sensasi yang sangat luarbiasa bagiku!
Setengah jam berlalu, tapi belum ada di antara kami yang mau menyerah. Sudah tiga kali berganti posisi. Kini Ifahlah yang berada di atas. Sambil merintih-rintih hebat ia menaik turunkan pantatnya dengan deras di atas tubuhku, sehingga membuat kontolku yang tertegak keras terhujam-hujam ke liang memeknya yang kain becek.
Kuseret ia turun dari ranjang, lalu sebelum ia sadar apa yang kulakukan, aku sudah mendorongnya hingga ternungging di atas hamparan sajadah. Batang kontolku kembali melesat dan sekali tembak langsung tertanam dalam di liang kemaluannya yang ternganga merah.
“Aaarrrrggghhh!!! Maaasss, jangaan di atas sajadaaah… Jangaaan di atas sajaadaaah, Masss!” ia berusaha meronta, tapi pinggulnya yang montok kucengkram erat-erat. Liang nikmatnya kungenjot dengan dashyat. Ia mengerang-erang, lalu tak sampai 10 menit kemudian: “Aaaakhhh, keluaaaarrr…! Keluuaaarrr…! Ya ampuuuun…”
Kurasakan batang kejantananku disembur cairan hangat di dalam lubang memeknya. Spermaku sendiri sudah tak terbendung lagi, muncrat dengan deras…
“Aaahh… kotor deh sajadah Ifaah…,” keluhnya ketika kucabut batang kontolku. Sebagian lendir memeknya dan spermaku meleleh keluar dan menetes ke atas hamparan sajadah bergambar kabah itu. Kubersihkan kontolku dengan ujung mukenahnya…
“Ntar Mas beliin sajadah baru deh, Sayang…,” bisikku lembut sambil menciumi pipinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s