8

Aku mempunyai pacar, sebut saja namanya Liza. Selama pacaran aku hanya pernah menciumnya sekali saja, yaitu pada saat kami jadian kurang lebih sebulan yang lalu. Setiap aku memboncengkannya dengan sepeda motor, punggungku sering menjadi sasaran payudaranya yang lumayan besar kurang lebih ukurannya 36 B pada saat aku mengerem mendadak. Aku jadi semakin terangsang melihat tubuhnya yang mulai mekar di usianya yang seminggu lagi genap 20 tahun. Aku sendiri sudah berumur 24 tahun. Aku sering memimpikan bisa tidur dengannya.

Suatu siang Liza datang ke rumahku, yang pada saat itu aku dan penghuni rumah lainnya belum pulang . Ketika tiba dirumah aku melihatnya tertidur di atas kursi teras rumah. Aku pun membangunkannya lalu mengajaknya masuk. Karena masih mengantuk ia tidak melihat kalau di depannya ada kursi kecil sehingga ia tersandung dan akan terjatuh, secara refleks aku menarik tubuhnya agar tidak jatuh hingga kami berpelukan. Namun karena tidak siap aku juga kehilangan keseimbangan dan ikut terjatuh menindih tubuhnya. Liza terjatuh terlentang dan kepalanya membentur lantai dengan cukup keras sampai ia pingsan.

Perlahan aku membangunkan Liza yang tidak bergerak, namun ia tidak segera sadar. Sejenak aku melihat bagian dada Liza naik-turun dengan tenang, seperti orang yang tidur lelap.
“Liz… Liz… Liza…” aku memanggil, tapi gadis itu tetap diam.
Aku ulangi lebih keras di dekat telinga, juga diam. Aku guncang-guncangkan pundak Liza, juga diam. Nekad, aku membuka kedua kelopak mata Liza untuk lebih meyakinkan. Tetap tak ada reaksi.
“Hi hi hi… wah kesempatan nih aku bisa menikmati tubuhmu Liz… payudaramu bakal kuremas dan kumakan,”
Bisikku sambil meremas-remas kedua payudara Liza yang masih tertutup berlapis kain.
“Vaginamu ini juga bakal aku kerjain,” lanjutku sambil meremas-remas pangkal paha Liza dari luar pakaiannya.
Kuperlakukan seperti itu, Liza tetap tak bereaksi. Lalu aku membopongnya ke dalam kamarku dan membaringkannya di atas tempat tidurku. Lalu aku menutup semua pintu rumahku, lalu kembali lagi ke kamarku. Aku menyeringai melihat gadis yang telah kupacari selama sebulan itu dalam keadaan tak berdaya.

Seperti singa kelaparan menerkam mangsanya, kedua tanganku langsung mencengkeram gundukan di dada Liza yang tertutup baju. Aku terus meremas dan menarik-narik gumpalan daging dalam genggamannya itu ke kanan, kiri dan atas. Akibatnya, baju Liza di bagian dada kusut.
“Hmmm… Vaginamu boleh juga, tebel kayak kue apem,” bisikku sambil kini meremas pangkal paha Liza.

Aku lalu melepas 3 kancing di bagian atas baju Liza. Lalu, bagian bawah bajunya kutarik hingga melewati kepalanya. Liza ternyata mengenakan kaus lengan pendek bodyshape yang membuat payudaranya tampak menonjol dan kemulusan lengannya terlihat bebas. Tak berlama-lama, aku melepas kaus itu. Perhatianku beralih ke bagian bawah tubuh Liza yang tertutup rok dalam transparan. Rok dalam itu pun segera lepas. Aku kini berlutut di sisi Liza yang tetap berbaring dalam damai. Lalu aku melepaskan kaitan BH Liza. Bola mataku seperti akan meloncat keluar melihat keindahan payudara Liza. Begitu segar, mulus dan putih. Saking putihnya, pembuluh darah kebiruan di balik kulit mulusnya terlihat jelas. Putingnya mungil tapi cukup menonjol, seperti karet penghapus di kepala pensil. Kedua tanganku tak henti-henti meremas sementara mulutku terus melahap, mengulum dan menggigit-gigit puting susu Liza. Aku berhenti sebentar, lalu memandangi “hasil karyaku”.

Sekujur permukaan buah dada Liza kini basah oleh liurku, terutama dibagian kedua pucuknya yang kini makin tegak kemudian masing-masing kujepit dengan ibu jari dan telunjuk. Kutarik ke atas sampai batas maksimal. Dalam keadaan sadar, Liza pasti sudah menjerit-jerit kesakitan. Aku lalu melepas jepitanku, hingga kini gumpalan daging itu terjatuh dan berguncang ke sisi kanan dan kiri tubuhnya. Perhatianku kini tertuju ke CD Liza yang tampak penuh. Kuremas dengan penuh nafsu, sambil jari tengahku mencari-cari jalan masuk. Tak sabar, kutarik CD Liza turun.
“Edan, Vagina yang indah,” kataku sambil melorot hingga wajahku tepat di muka pangkal paha Liza.
Kurenggangkan paha gadisku itu, lalu dengan rakus kujilati kemaluan Liza itu. Dengan jari-jari aku menguakkan liang kemaluan di depanku. Perlahan daging segar itu membuka, memperlihatkan bagian dalam yang kemerahan dan basah.
“Asyiikk… cewekku ini masih perawan,” teriakku sambil membuka celananya.
Kini aku bersiap-siap menyetubuhi gadisku itu. Kepala penisku sudah terjepit bibir vagina Liza, sementara kedua tanganku berpegangan pada kedua payudara Liza yang tetap terpejam. Tiba-tiba pada saat itulah Liza tersadar dan membuka kedua matanya.
“Eh….. apa yang kamu lakukan mas “
Pekiknya karena mendapatkan dirinya dalam keadaan siap aku setubuhi. Liza lalu meronta dengan menendang perutku sampai aku terjatuh. Lalu ia mencari pakaiannya, dan dengan tergesa-gesa ia memakainya. Aku hanya bisa melihat gadisku itu memakai pakaiannya kembali. Ia lalu bergegas keluar kamar namun buru-buru aku cegah untuk menjelaskan semuanya kepadanya.

Setelah lama merayunya akhirnya ia mau mendengarkan penjelasanku, bahwa yang aku lakukan itu sebagai bukti cintaku dan itupun belum sampai merenggut kegadisannya. Akhirnya ia mau memaafkanku, dan aku pun segera merayunya lagi untuk menuntaskan nafsuku yang tadi soalnya sudah tanggung. Ia mengangguk tapi dengan syarat agar jangan sampai merusak keperawanannya.

Aku lalu memegang kedua tangannya, lalu secepat kilat mendaratkan ciuman di pipinya. Liza diam saja. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, lalu mulutku kuarahkan ke bibirnya. Liza tetap diam saja. Tidak menolak, tapi tanpa reaksi. Perlahan bibirnya kulumat, dan respon yang terjadi adalah Liza membuka mulutnya, sementara tangannya mencengkeram tanganku.
“Liz, tolong mulutnya dibuka..!” bisikku di telinganya sambil kemudian kembali mengecup bibirnya.
Liza kemudian mulai membalas memagut bibirku.
“Nah, begitu.., dibalas aja..!” kataku.
“Rasakan aja, nggak sakit kok..,” lanjutku sambil tangan kananku mengusap pinggangnya.

Pagutannya semakin cepat dan terdengar dengus napas yang semakin keras dari mulut Liza sambil tanganku menyingkap dan membuka bajunya sampai rambutnya yang hitam panjang tergerai. Saatnya mungkin hampir tiba, dan tidak kusia-siakan, bibirku kemudian turun ke lehernya yang jenjang dan putih. Kecupan-kecupan hangat kudaratkan di sekujur lehernya, sementara tanganku tidak hentinya mengelus pinggangnya. Sementara tangan kiriku tengah berusaha menyusup ke belahan dada Liza, dan supaya tidak ada protes dari Liza, bibirnya segera kukulum, lidahnya serta langit-langit mulutnya kujelajahi dengan lidah.

Rupanya Liza mulai terbakar birahi, hingga dia tidak sadar ketika aku menyingkapkan bajunya lalu salah satu tanganku telah berada di antara gundukan daging di dadanya. Beberapa kancing baju yang terlepas pun tidak disadari Liza, yang sekarang sibuk membalas lumatan bibirku dan mengeluarkan erangan-erangan kecil. Aku kemudian menunduk, dan bibirku mencari di antara dadanya yang menonjol itu. Hingga akhirnya kutemukan puting payudaranya yang keras, namun terasa lembut. Liza terpekik sejenak, manakala dia tahu, bibirku telah menjepit salah satu puting payudaranya. Namun birahi telah membakarnya, hingga Liza lupa apa saja yang telah terjadi padanya.

Tanganku bekerja cepat. Hasilnya, nampak payudaranya yang putih mulus menonjol besar. Liza hanya bersandar ke dinding. Wajahnya kemerahan, seakan menahan sesuatu. Pada saat aku menyedot dan menghisap payudaranya, Liza hanya mampu menggigit-gigit bibirnya. Tangan kananku bekerja kembali, kali ini meremas pantat Liza yang kenyal dan cukup proporsional. Aku yakin, jika dalam keadaan normal, Liza akan marah besar jika pantatnya kuremas. Tapi pada saat ini, dia seakan pasrah pada apa yang akan kuperbuat. Aku dalam posisi sedang menetek sambil berdiri, sementara Liza hanya menyandarkan punggungnya ke tembok. Tangan kananku sambil meremas pantat, mencari restlueting, yang akhirnya kutemukan.

Tangan kiriku berada tepat di selangkang Liza, dan tidak tinggal diam, bekerja mengusap bagian bawah Liza. Kedua tanganku bekerja optimal. Hingga tanpa disadari lagi oleh Liza, rok panjang yang dikenakannya telah jatuh ke lantai. Secepat kilat, aku jongkok lalu menciumi kemaluan Liza yang saat itu masih dibalut celana katun coklat muda. Liza sudah tidak mampu lagi berkata-kata. Kurasakan gundukan daging di selangkangan Liza lembab dan mengeluarkan aroma, antara bau keringat dan bau lain, mungkin khas bau kemaluan wanita.

Tampak bulu-bulu halus dan panjang ada di jepitan celana dalam. Tidak tertutupi secara sempurna, hingga tampak menyembul di selangkangannya. Perlahan pinggir celana tersebut kutarik, lalu lidahku mulai mencari-cari. Asin dan lembab terasa di lidahku. Tanpa memperdulikan rasa seperti itu, lidahku terus mencari. Napas Liza semakin memburu, dan setiap kali lidahku menari di antara belantara rambut kemaluannya, Liza menggerakkan pinggulnya searah dengan gerakan lidahku.

Lalu Liza kubimbing ke kursi makan, dan segera aku melucuti celana dalamnya yang basah kuyup oleh cairan asin. Kakinya kubuka selebar mungkin. Nampak di sana, sejumput rambut hitam sangat lebat, menutupi gundukan belahan daging. Merah muda dan mengkilap karena basah oleh cairan. Bibir vagina Liza dan tersembunyi, sementara klitorisnya coklat tampak mengeras. Cairan terus saja mengalir dari lubang di bagian bawah.

Liza menutup matanya kembali saat aku jongkok di hadapannya. Lalu lidahku mulai menari, mengusap dan menjilati seluruh bagian vagina Liza. Tangannya diletakkan di bahuku, kadangkala rambutku ditariknya saat klitorisnya kuhisap. Sambil menjilati serta mengulum kemaluan Liza, tangan kananku meremas-remas payudaranya. Bergantian dari kiri dan kanan. Putingnya keras mengacung. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, kedua kakinya mengatup, menjepit kepalaku serta tangannya menarik rambutku. Sakit.
“Ohh, Mas.. kenapa ini.. aduhh..!” katanya dengan suara lumayan keras.
Untung letak rumahku agak masuk dari jalan, jadi aku tidak perlu khawatir orang lain mendengar teriakan Liza orgasme. Hal ini berlangsung cukup lama, 5 menit mungkin. Liza orgasme, mungkin yang pertama kalinya dalam hidupnya. Aku biarkan saja, hingga tubuhnya kembali seperti semula.

Tetapi lidahku tidak berhenti mengusapi dan menjilati kemaluannya yang saat ini benar-benar sangat basah.
“Ohh.., aaghh.. aduh.. aduh.. jangan Mas..!” erang Liza saat lidahku bekerja secara cepat melumat lagi klitorisnya.
“Udah Mas. Aku udah nggak kuat..!” katanya kemudian.
Aku lalu berdiri, lalu mengeluarkan kemaluanku dari dalam celana.
“Ayo dong dipegang..” kataku sambil mengangsurkan penisku tersebut ke arahnya.
Liza menerima penisku itu dengan kedua tangannya. Terasa nikmat saat penisku berada dalam genggaman Liza. Tangannya halus, terutama saat mengelus ujung penisku.

Lalu Liza memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Perlahan kutekan keluar masuk berkali-kali. Liza tidak sadar, dan akibat kocokan serta himpitan di bibirnya, aku merasa ada sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhku.
“Liz, aku mau orgasme, tolong dikocok aja..” kataku.
Lalu keluarlah muntahan cairan hangat dari ujung kemaluanku. Sperma itu tumpah di dada Liza yang tidak tertutup sempurna, ada yang mendarat di pipi, juga di paha.
“Ogghh.., Liza.. ohhh..!”
Liza tidak berhenti mengocok, meski cairan mani sudah selesai tumpah.
“Liz, udah.. sakit..!”
Liza berhenti lalu mencari roknya dan segera menghambur ke kamar mandi. Aku juga mencari kain lap, untuk membersihkan sisa-sisa air maniku yang tumpah di kursi serta lantai. Setelah sekian waktu, Liza keluar dari kamar mandi. Dia tampak segar karena baru saja membasuh wajahnya. Pakaiannya juga sudah rapi. Aku mendaratkan ciuman di pipinya sambil tersenyum. Aku mengantarkan Liza hingga keluar dari halaman rumahku.

Seminggu kemudian kami pergi berlibur ke daerah pegunungan, namun ketika akan pulang ban motorku bocor sehingga aku menuntunnya untuk mencari tempat tambal ban. Namun karena hari sudah menjelang malam, kami tidak menemukan tempat tambal ban. Akhirnya aku dan Liza berunding dan kami sepakat untuk mencari penginapan. Lama kami mencari penginapan karena rata-rata sudah penuh karena saat itu hari libur, akhirnya kami mendapatkan penginapan tersebut namun hanya tinggal satu kamar VIP. Setelah berembug sebentar memesan kamar tersebut, namun tidurnya tidak seranjang.

Begitu masuk kamar aku langsung rebahan di sofa karena capek menuntun sepeda motor tadi, sedangkan Liza langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur samping sofa. Karena kami tadi sepakat bahwa aku tidur di sofa dan ia tidur di kasur. Tak lama kemudian Liza pun segera tertidur. Aku yang sejak tadi menahan buang air kecil segera masuk ke kamar kecil, setelah selesai aku melihat Liza tidur terlentang. Payudaranya yang cukup besar itu turun naik seiring dengan hembusan nafasnya. Aku pun semakin lama semakin terangsang, lalu aku mendekati tempat tidurnya.

Aku memperhatikan bibirnya tanpa terasa wajah kami makin dekat dan bibirku menyentuh bibirnya. Aku lalu merebahkan tubuhku diatasnya sambil meneruskan ciumanku. Tidak kuduga Liza mengangkangkan kedua kakinya hingga penisku merapat diatas vaginanya. Aku nggak ngebayangin melakukan sejauh ini.

Kemudian aku melakukan petting menekan-nekankan penisku ke vaginanya. Dadaku menempel di payudaranya dan penisku terus menekan-nekan vaginanya. Kemudian tanganku aku geser ke payudaranya yang lumayan besar. Aku remas-remas payudaranya hingga Liza terbangun.
“Liz.., Mas sayang padamu.”
Bisikku tiba-tiba sambil menggenggam tangannya, ia tersenyum dan entah kenapa secara spontan kucium keningnya.
“Aku juga mas.” ucapnya.
Liza ternyata juga memendam perasaan kangen ingin disetubuhi, setelah apa yang telah kami lakukan seminggu yang lalu. Aku memeluk tubuhnya dan menatap matanya dalam-dalam.
“Kamu cantik sekali.” Ucapku lalu mengecup hidung mancungnya, ia diam saja dan menikmatinya.

Aku semakin berani, kuciuminya seluruh wajahnya hingga kurasakan hembusan napasnya yang hangat. Dia pasrah karena menyukainya, lagi pula ada aliran aneh pada tubuhku yang menuntut lebih banyak lagi. Lalu aku mendaratkan bibirku di bibirnya, kulumat dan dia balas dengan mengulum lidahku lembut. Kulumanku membuatnya mulai sulit bernapas. Sementara itu tanganku mulai membuka jilbabnya dan menurunkan tali BHnya hingga payudaranya terlihat setengahnya. Kutarik tubuhnya untuk berdiri dan ia menurutinya. Sambil terus melumat bibirnya, kedua tanganku menarik-narik BHnya hingga akhirnya Liza terjatuh di antara kakinya. Aku mengelus-elus punggungnya yang sudah telanjang dan mendorong tubuhnya agar duduk di sofa.

Aku mendekatinya, kemudian berjongkok di antara kakinya. Kuelus-elus vaginanya yang masih terbungkus celana dalam. Liza melenguh saat jari-jariku mengelus belahan vaginanya. Kemudian aku menarik cd-nya hingga terlepas. Lalu aku tersenyum karena melihat vaginanya merekah di depan mataku. Aku mencium bibirnya dan ia membalas, kurasakan payudaranya menggesek-gesek dadaku yang membuatku kegelian. Ciumanku makin liar karena telah beralih ke telinga dan lehernya. Liza mulai mendesah pelan, kuusap-usap rambutnya dengan lembut.
Aku meneruskan jilatanku pada puting payudara kanannya, kujilati berputar-putar dan berulang-ulang, membuatnya semakin mendesah. Payudara kirinya kuremas-remas dengan lembut. Napasnya mulai memburu karena perlakuanku pada kedua payudaranya. Selama beberapa saat Liza hanya mendesa-desah.
“Mas.., ohhh.., ohhh..!”
“Mas ingin menjadikanmu sebagai istriku, kamu mau Liz..?” tanyaku sambil menghentikan jilatanku di payudaranya.
Liza menatap mataku dan menganggukkan kepalanya karena ia tidak dapat berpikir apa-apa lagi, karena nafsunya masih tinggi.

Aku tersenyum dan melumat bibirnya sambil mengelus-elus payudaranya yang sudah basah oleh air liurku. Lalu Aku menyuruh Liza mengangkat kedua kakinya ke atas sofa dan merenggangkannya lebar-lebar. Kemudian aku mendekatkan kepala di vaginanya yang sudah basah, dan mulai menjilatinya. Liza mendesah saat ujung lidahku menyentuh vaginanya,
“Ohh..!”
Aku terus menjilatinya secara teratur dan berulang-ulang. Liza menggeleng-gelengkan kepalanya menahan kenikmatan. Aku terus menjilatinya dan mulai menyedot-nyedot klitorisnya. Liza merengek dan merintih sambil menjambaki rambutku.
“Ahhh… terusss… terusss, enak masss..! Ohh..!”
Aku terus menyedot-nyedot dan Liza pun berteriak seiring dengan menjepit kepalaku kuat-kuat. Ia menyemburkan cairan kewanitaannya dan kujilati dan menghisapnya pelan sekali. Karena aku tahu kalau ia menahan ngilu pada vaginanya.

Aku lalu mencium payudara dan menghisapnya cukup lama hingga Liza terangsang kembali. Kemudian aku mendekatinya dan menindih tubuhnya, kucium bibirnya dengan hangat. Tanganku meremas-remas pantatnya, lalu bibirku turun di atas payudaranya dan kuciumi sambil kuhisap bergantian. Liza hanya mendesah keenakan ketika kubuka kedua kakinya dan berjongkok dan mulai menjilati vaginanya. Liza mendesah-desah tidak kuat, tapi aku terus menjilati dan menghisap-hisap vaginanya yang sudah basah lagi. Aku pun sepertinya sudah tidak tahan, sehingga kuarahkan penisku ke lubang vaginanya. Setelah semakin basah, aku menekan kepala penisku untuk masuk lebih dalam pada lubang vaginanya. Kemudian kugesek-gesekkan kepala penisku di belahan vaginanya berulang-ulang. Liza melenguh menahan sensasi nikmat di daerah vaginanya.

Aku mulai menekan dan Liza pun meringis … aku tekan lagi… akhirnya perlahan-lahan sedikit demi sedikit liang vaginanya itu membesar dan mulai menerima kehadiran kepala penisku. Liza menggigit bibir. Kulepaskan jemari tanganku dari bibir kemaluannya dan pleg …bibir kemaluannya langsung menjepit nikmat kepala penisku.
” Tahan sayang…”, bisikku bernafsu.
Liza hanya mengangguk pelan, matanya lalu dipejamkan rapat-rapat dan kedua tangannya kembali memegangi kain sprei. Agak kubungkukkan badanku ke depan agar pantatku bisa lebih leluasa untuk menekan kebawah. Heekkgggghhhh … aku menahan napas sambil memajukan pinggulku dan akhirnya kepala penisku mulai tenggelam di dalam liang vaginanya. Wooww..nikmatnya saat liang vaginanya menjepit kepala rudalku, daging vaginanya terasa hangat dan agak licin, namun cengkeramannya begitu kuat seakan-akan kepala penisku seperti diremas-remas saja, kulihat urat-urat batang kemaluanku makin menonjol keluar saking banyaknya darah yang mengalir ke situ.

Aku kembali menekan dan Liza mulai menjerit kesakitan, aku tak peduli, batang penisku secara pasti terus melesak ke dalam liang vaginanya dan tiba-tiba setelah masuk sekitar 4 centi seperti ada selaput lunak yang menghalangi kepala penisku untuk terus masuk. Aku terus menekan dan tessss …. aku merasa seperti ada yang robek, bersamaan dengan itu. Liza melengking keras sekali lalu menangis terisak-isak ….
“Wah selaput daranya robek nih”,
Pikirku, sebentar lagi pasti keluar darah, namun aku tak begitu peduli karena aku terus menekan batang penisku dengan ngotot terus memaksa memasuki liang vagina milik Liza yang luar biasa sempit itu. Kulihat bibir kemaluannya mekar semakin besar, kulihat betapa ketatnya liang kemaluannya itu menjepit batang penisku yang sudah masuk sekitar 6 centi.
“Aagghhhh….”
Aku menahan rasa nikmat jepitan vaginanya. Kupegang pinggul Liza yang seksi, dan kutarik kearahku,batang penisku masuk makin ke dalam, ooouuuhhhh nikmat sekali, Liza terus menangis terisak-isak kesakitan, sementara aku sendiri malah merem melek keenakkan.

Aku harus cepat kalau tidak Liza kekasihku terlalu lama menderita, kupegang pinggul Liza lebih erat lalu aku mengambil napas dan ancang-ancang, ini harus segera dibenamkan seluruhnya. Dan aku menghentak keras ke bawah. Dengan cepat batang penisku mendesak masuk liang vagina Liza,
“Aahhhgggghhhh ….” aku mengerang nikmat hampir saja air maniku muncrat saking kuatnya gesekan dan jepitan vagina milik Liza ini. Aku mengatur napas agar air maniku nggak keburu muncrat, kulihat tinggal sedikit yang belum masuk kuhentakkan lagi pantatku ke bawah dan akhirnya seluruh batang penisku secara sempurna telah tenggelam sampai kandas terjepit diantara bibir kemaluan dan liang vaginanya.
“Oooggghhhhh……”, aku berteriak keras saking nikmatnya,
Mataku mendelik menahan jepitan ketat vagina Liza yang luar biasa. Sementara Liza hanya memekik kecil lalu memandangku sayu. Bibirnya tergetar namun ia mencoba untuk tersenyum kepadaku. Wajahnya yang manis menatap sayu kepadaku.

Kami sama-sama tersenyum. Kurebahkan badanku diatas tubuhnya yang telanjang, aku memeluknya penuh kasih sayang, payudaranya kembali menekan dadaku. Nikmat, tubuh kami telah menyatu, dalam suatu persetubuhan indah. Kurasakan vagina Liza menjepit dan meremas kuat batang penisku yang sudah amblas semuanya. Kami saling berpandangan mesra, kuusap mesra wajahnya yang masih menahan sakit menerima tusukan alat vitalku.
” Mas …. bagaimana rasanya ….”, bisik Liza mulai mesra kembali, walaupun sesekali kadang ia menggigit bibir menahan sakit.
“Enak sayang… dan nikmaat, mas nggak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata sayang selangit pokoknya”, bisikku. Ia tersenyum senang dan mencubit pipiku. Kukecup mesra hidungnya yang mancung.

Aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dan iapun membalas dengan tak kalah bernafsu. Kami saling berpagutan lama sekali lalu sambil tetap begitu aku mulai menggoyang pinggul naik turun. Batang penisku mulai menggesek liang vaginanya dengan kasar. Pinggulku menghunjam-hunjam dengan cepat mengeluar masukkan batang penisku yang ngaceng. Liza memeluk punggungku dengan kuat, ujung jemari tangannya menekan punggungku dengan keras. Kukunya terasa menembus kulitku. Tapi aku tak peduli, aku sedang menyetubuhi dan menikmati tubuhnya. Batang penisku seakan dibetot dan disedot oleh liang vaginanya yang benar-benar super sempit itu. Liza merintih dan memekik kesakitan dalam cumbuanku.

Beberapa kali malah ia sempat menggigit bibirku, namun itupun aku tak peduli. Aku hanya merasakan betapa liang vaginanya yang hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat batang penisku, seakan mengenyot nikmat, ketika kutarik keluar terasa daging vaginanya seolah mencengkeram kuat alat vitalku, sehingga betapa aku memaksa untuk keluar daging vaginanya terasa ikut keluar
“Aggggggghhhh…” nikmatnya luar biasa sekali, aku sampai mendesis panjang saking nikmatnya.
Air maniku kurasakan sudah mendesak ingin muncrat keluar. Aku mendiamkan aktifitas tubuh sambil mengelus-elus tubuhnya. Tidak terasa air matanya menetes setelah beberapa saat aku menggerakkan pinggulku dan mulai mengeluar-masukkan penisku. Liza melenguh nikmat sekaligus perih. Aku menggenjotnya selama 10 menit. Vaginanya sudah semakin basah dan Liza menjerit karena mendapatkan orgasme lagi. Dirasakan vaginanya berdenyut-denyut. Aku mendiamkan batang kejantananku di dalam vaginanya sambil menyedot-nyedot payudaranya.

Kemudian aku mencabut penisku dan menyuruh Liza menungging. Ia rasakan vaginanya dimasuki kembali penisku, setelah itu mulai dikeluar-masukkan kembali ke vaginanya dengan pelan. Sementara itu tanganku masih meremas-remas dan menarik-narik puting payudaranya dengan kuat. Liza mulai mendesah menahan rasa nikmat.
“Mas.., ahhh.. teruss… sodokk… sodokk.. enakk sekali..!” ia merengek.
Aku terus menekan dan menarik penisku semakin cepat, dan ia semakin merengek-rengek tidak karuan. Aku terus menyodok vaginanya dengan kuat, Liza pun memaju-mundurkan pantatnya sehingga persetubuhan kami sangat menggairahkan. Aku dan Liza mendesah-desah penuh kenikmatan.
“Ohhh.. ahh… akhh..!” Liza pun makin keras mendesah.
Aku semakin cepat mengeluar-masukkan batang kejantananku.
“Ahhh… aku mau keluarr.. Mas..!” teriaknya karena akan orgasme.
Aku semakin gencar menyodok-nyodok vaginanya sambil terus menarik-narik dan meremas-remas payudaranya. Sodokan-sodokan pada vaginanya membuat ia menjerit karena merasa tidak tahan lagi.

Tubuhnya lemas sambil memelukku kuat-kuat. Namun aku terus mengeluar-masukkan penisku tanpa memperdulikan vaginanya yang kelihatannya masih ngilu.
“Ohhh… ahhh… aku enggga kuattt… aughh..!”
Teriakkannya malah makin membuatku semakin cepat menghujamkan penisku pada vaginanya.
“Mass… hampirr… Sayang.., tahan sebentar.. ohhh..!” lenguhku.

Lalu kupeluk ia erat-erat seiring dengan tembakan spermaku, rasanya hangat dan nikmat. Tubuh Liza lunglai dan aku masih mendiamkan penisku berada dalam vaginanya. Kami berpelukan sambil mengatur napas. Setelah agak tenang, aku mencabut penisku. Kemudian kami berciuman dengan mesra, lidah kami saling berpaut diselingi hisapan-hisapanku di lidahnya. Tanganku tentu saja meremas-remas payudaranya.

Semakin lama kami semakin terangsang kembali. Aku memainkan puting payudaranya, kujilat-jilat dengan rakus dan terus kuhisap dengan penuh nafsu. Liza mulai mendesah merasakan vaginanya basah kembali. Aku meneruskan jilatanku ke perutnya, kemudian kusuruh ia mengangkat dan melipat kedua kakinya ke atas hingga berada di antara kepalanya. Dengan posisi ini sudah jelas vaginanya yang basah terbuka lebar di depan mataku. Aku menjilat-jilat vaginanya sambil menusuk-nusukkan lidahnya di antara belahan vaginanya. Mendapat rangsangan seperti itu Liza mendesah tidak terkendali lagi.
“Ohh.. Maass.. enak sekali… terusss.. ohhh… hisappp teruss..! Hisapp.. Vaginaku .. ohhh..!”
Aku semakin cepat menghisap-hisap vaginanya yang banjir oleh cairan kewanitaannya. Liza semakin merenggangkan kedua kakinya lebar-lebar agar aku lebih leluasa melakukan gerakanku.

Jilatan-jilatan di vaginanya yang enak itu membuatnya memohon-mohon.
“Ohh.. Maass.., masukkan..! Liza.. mohon..!” pintanya padaku.
Aku pun menggesek-gesekkan batang kejantananku di vaginanya yang becek. Liza melenguh nikmat, mulutnya mendesis-desis tidak tahan. Aku memasukkan penisku pada lubang vaginanya. Penetrasi itu membuatnya terus merengek nikmat,
“Oh enakkk maass… yeahh… lebih cepat… ohhh.. enakk sekali… sodok.. terus… Vagina Liza Maass..! Akhhh.. mmff.. ohh..!”
“Iya Sayangku. Mas.. suka Vagina kamu.. ohhh…Lizzz..!” jawabku penuh nafsu.
Genjotanku di vaginanya semakin cepat dan liar hingga terasa menyentuh rahimnya.
“Liza.. mau keluar Maasss…. ohhh..!” teriaknya.
“Maass.. juga Sayang.., ohhh..!”
“Akhh…aakhh… aakhhhhhh..!” Kami berdua menjerit, bersamaan itu kurasakan tembakan spermaku yang kuat. Aku mencium bibirnya. Karena kelelahan, kami pun tertidur lelap.

Kejadian itu terus berulang selama 6 bulan dan hubungan kami tumbuh menjadi hubungan yang serius dan semakin hangat. Sampai akhirnya aku lulus kuliah dan diterima bekerja di lain pulau. Liza menangis waktu aku pamit kepadanya, ia bersikukuh ingin ikut denganku, namun karena ia masih kuliah aku pun berkeberatan. Aku berjanji akan membawanya kalau ia sudah lulus.

Sehari sebelum aku berangkat, Liza mengajakku ke rumahnya yang kebetulan sedang kosong untuk mengadakan pesta perpisahan di kamarnya. Setelah makan malam, kami berdua masuk ke kamarnya. Kemudian aku memeluknya dan mencium bibirnya. Saat itu aku merasakan Liza menangis, tapi aku berusaha menenangkannya dan akhirnya Liza pun membalas pelukanku. Aku dapat mencium harum tubuh Liza yang semakin merangsangku. Aku pun dapat merasakan payudara Liza yang kenyal dan hangat menekan dadaku dan benar-benar terasa nikmat. Liza yang sudah terpengaruh nafsu bahkan diam saja ketika tangan kiriku meraba dan meremas pantatnya sementara tangan kananku menurunkan celana panjang yang dipakainya.

Sementara lidahku beraksi di dalam mulutnya. Aku melepaskan ciumanku, dan kemudian membuka bajunya. Seiring dengan itu, kedua payudaranya yang kencang dan memenuhi BH putihnya (bahkan sangat penuh) berguncang. Aku lalu meremas gumpalan daging miliknya yang kiri, yang masih tertutup BH. Selanjutnya aku membaringkannya dan membuka celananya, dan dia memakai celana dalam putih tipis. Dapat kulihat bayangan bulu kemaluannya. Aku sangat bernafsu, maka aku pun melepaskan celana dalamnya. Liza merapatkan kedua kakinya, untuk menutupi lubang rahasianya. Semakin penasaran akan keindahan tubuhnya, aku terakhir kali membuka BH-nya. Kedua daging kembar yang kenyal tersebut seperti melompat ketika BH-nya benar-benar terlepas. Besar dan indah sekali. Akan sangat nikmat bila tanganku meremas, mencengkram dan menggenggam gumpalan daging itu.

Sebelum aku beraksi lebih jauh, Liza memotong,
“Mas juga buka dong,! Masa aku saja nih…”
Aku turuti permintaannya. Dalam sekejap aku pun bertelanjang bulat di hadapannya. Batang penisku sudah menegang keras sejak tadi. Aku tak bertanya lebih lanjut. Langsung saja kuraih Liza dalam pelukanku, dan kuelus sebelah payudaranya dengan tangan kananku. Oh.. Nikmat sekali. Kenyal, padat dan aku bisa merasakan dagingnya yang begitu empuk! Sementara Liza mengeluarkan suara desahan pelan. Aku mengambil posisi duduk, sementara ku pangku Liza berhadapan denganku. Tangan kananku masih mengelus-elus sebelah payudaranya, sementara mulutku meraih puting yang menonjol dari payudara lainnya. Putingnya berwarna merah, sedikit tua. Kusedot dengan sangat kuat sehingga Liza terpekik kecil.
“Uhhh… Mas, kamu nyusunya ganas banget sihh..” komentar Liza sambil meringis.
Di bawah, penisku bersentuhan dengan bibir vaginanya. Hangat dan basah di sana. Aku bisa merasakan pula bulu kemaluannya pada penisku. Sedikit demi sedikit kugerakkan tubuhku agar alat sanggama kami saling bergesek.
“Ah… enak sekali rasanya…”

Selang kemudian Liza lepas kontrol, sehingga dia berbisik di telingaku,
“Uh.. Mas, jangan dielus saja dong, remes payudaraku…Liza nggak tahan kalo cuma digituin saja!”
“Ah, hisap dulu penisku Liz. Mau kan?”
Liza mengangguk dan kepalanya menunduk di antara selangkanganku. Kemudian tak lama kurasakan hangat, basah dan geli luar biasa pada penisku. Liza telah mengulum penisku. Rasanya luar biasa. Aku hanya bisa memegang rambutnya dan merasakan sejuta nikmat pada penisku. Terkadang Liza menjilat atau menggigit dengan lembut batang penisku sehingga tubuhku bergetar keenakan. Sementara tangannya memijat halus kedua biji penisku. Tak hanya itu, bahkan Liza juga mengulum kedua biji penisku itu. Dia menyedot dan memainkan lidahnya, membuatku seperti terbang.

Akhirnya merasakan penisku berdenyut-denyut aku menghentikan Liza dan membaringkannya. Aku di atas dan dia dibawah. Tanganku memegang tangannya. Kugesek-gesekkan batang penisku dengan bibir vagina dan klirotisnya sehingga Liza mengerang merasakan nikmat. Kedua payudaranya berguncang-guncang pelan seirama dengan gerakanku. Gerakanku semakin cepat, dan kurasakan vagina Liza sangat basah serta mengeluarkan banyak cairan. Liza bahkan menjerit pelan.
“Liz, aku masukin ya?”
Liza diam saja. Maka aku pun siap tancap, aku mengambil posisi kesukaanku. Aku duduk di bawah sementara dia ku pangku, kubuka liang vaginanya dengan kedua jariku, dan kududukkan dia di atasku. Perlahan penisku masuk ke dalam vaginanya. Sebelum selesai, kupaksa dia turun sehingga Liza mengerang. Penisku seluruhnya berada dalam kehangatan genggaman vaginanya. Ohh.. enak luar biasa di dalamnya. Panas, sempit, dan berdenyut!

Liza mulai bergerak naik turun di hadapanku. Akh… penisku geli luar biasa. Liza pun merintih-rintih sambil bergerak. Kedua tangannya bertopang pada bahuku, sementara kedua payudaranya tepat berada di depan wajahku. Bayangkan, kedua daging kenikmatan tersebut melonjak-lonjak di hadapanku. Aku tidak dapat menahan diri, kemudian tangan kananku meraup miliknya yang kiri, kucubit dan kupuntir puting susunya dengan telunjuk dan jempolku. Sementara lidahku menjilati puting susu dan permukaan payudaranya yang lain. Cairan dari vagina Liza menimbulkan bunyi berkecipak pada persenggamaan kami. Sekali lagi aku mengulum puting susunya dan menyedot sekuat yang kubisa. Kali ini membuat puting susu Liza tertarik kencang karena gerakan Liza yang naik turun sementara aku menarik puting susunya.

Saat itu terlintas di kepalaku untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Aku tiba-tiba saja mengambil kendali persenggamaan tersebut. Kugenggam, kuremas dan kutarik kedua payudara Liza ke arahku sehingga posisiku terlentang dan Liza menindihku! Sekali lagi Liza mengaduh-aduh dengan kekasaranku tadi. Selanjutnya, dengan masih menggunakan kedua payudaranya sebagai peganganku, aku mendorong Liza sehingga dia terlentang dengan keras. Kali ini aku yang menindihnya. Pinggangku kugerakkan naik turun dengan kasar dan keras sehingga seakan-akan penisku berusaha mendobrak jebol vaginanya. Kali ini Liza menjerit cukup keras! Tak sampai disitu, kuraih tubuh Liza dan kupeluk dengan tangan kiriku. Tangan kananku menggenggam dan memeras payudara kirinya dengan kuat,seperti memeras santan. Aku bisa merasakan isi dari payudaranya digenggamanku.

“Adduhh, Mas! kamu bisa hancurin payudaraku… aduh..aduh… lepasin dong!”
Aku tidak mempedulikannya. Yang ada dalam pikiranku bahwa kami tidak akan melakukan ini lagi dalam waktu dekat, sebab besok pagi aku sudah harus berangkat. Bahkan aku menggigit bagian bawah payudaranya yang sebelah lagi. Aku berusaha menggigit setiap inci dari payudara tersebut. Tangan kananku pun semakin buas. Bukan hanya memeras, tapi juga menarik dan seakan berusaha mencabut daging kenyal tersebut dari tubuh Liza. Aku semakin kasar sehingga Liza menjerit-jerit, dan akhirnya pingsan. Hanya beberapa saat setelah Liza pingsan, penisku berdenyut-denyut dan memuntahkan cairan nikmat ke dalam rahim Liza. Aku terkulai lemas dan menindih tubuh Liza yang telah pingsan. Pinggangku terasa amat pegal dan selangkanganku sedikit ngilu. Tapi aku merasa puas karena tanganku terasa enak. Tanganku telah beroperasi sebebasnya dan sepuasnya pada payudara Liza. Penisku masih berada di dalam rahimnya, terasa panas.

Kemudian kucabut penisku dan aku memakai bajuku. Kutinggalkan Liza yang pingsan dalam keadaan telanjang bulat. Sebelum pergi, aku menyentil puting susunya. Besok pagi aku akan berangkat ke lain pulau. Hanya saja aku akan terus mengingat kenikmatan yang kuperoleh saat itu.

Lama aku tidak bertemu dengan Liza, karena perusahaan tidak membolehkanku pulang selama masa training itu. Setahun kemudian aku pulang, tapi sengaja aku tidak memberitahunya supaya ada kejutan. Sampai di pelabuhan aku lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta api, lalu aku masuk ke dalam kereta eksekutif jurusan kota kelahiranku lalu duduk di kursi yang berada dibelakang, aku melamunkan Liza sambil melihat keluar dari jendela kereta sehingga tanpa terasa ada seorang penumpang bertanya :
“Maaf Mas apa kursi ini kosong?” tanya suara itu.
Aku terkejut. Oh Tuhan rupanya aku melamun cukup lama tadi itu, gumamku dalam hati. Belum habis rasa terkejutku aku tersentak ketika aku memalingkan kepada seraut wajah itu.
“Ka… kaa.. mu.. Liz!” teriakku demikian pula gadis itu.
“Maas.. ..” sahut gadis itu yang ternyata adalah Liza dan ia tidak dapat membendung air matanya dan jatuhlah ia dalam pelukku.
“Aku kangen padamu Liz!” aku membuka perbincangan kami berdua.
“Aku juga kangen Mas!” bisiknya sambil merebahkan pundaknya di bahuku.

Rupanya Liza baru saja akan pulang dari tempat saudaranya yang sedang sakit di kota itu. Aku yang sudah terangsang sekali karena setahun tidak ketemu dia. Kulumat bibirnya yang paling kusukai itu dan desahannya semakin menjadi saat ujung lidahku memainkan belakang kupingnya. Aku mengambil kedua pahanya dan aku tumpukan pada pahaku sementara kepalanya bersandar pada bantal. Tepat disela-sela pantatnya batang kemaluanku yang sedari tadi bangkit dan menyembul mendorong celana jeans-ku.

Takut dengan penumpang lain, aku buru-buru menyumpali bibirnya dengan bibirku. Tanganku dibimbingnya menuju busungan dadanya. Tanpa diperintah aku menelusupkan tanganku ke kedua bukitnya yang kenyal itu.
“Mass! aku kangeen banget sama mas,” bisiknya saat aku mulai mengecup mesra putingnya.
Sementara aku mangambil bantal satu lagi dan kusandarkan di “legrest” dekat jendela. Dia menjambak rambutku amat kuat saat putingnya kugigit-gigit. Sementara puting satunya kupilin dengan telunjuk dan jempolku. Badanku mulai hangat, demikian pula tubuh Liza semakin menggelinjang tak karuan. Aku masih saja memberikan sensasi kenikmatan pada kedua putingnya yang masih kenyal dan ternyata itu merupakan titik didihnya.

Desahnya saat aku menyedot kencang payudaranya hingga tenggelam setengahnya di mulutku. Ia menggelinjang pelan dan ia menggosok-gosok kedua pahanya dan celana panjangnya mulai lembab oleh cairan vaginaya. Sesaat kemudian kupelorotkan celana panjangnya serta CD-nya dan Liza makin menggelepar hebat dan secepat kilat aku mencium rambut-rambut di bawah pusarnya, hhhmm.. harum sekali. Tiba-tiba kepalaku ditekannya menuju lubang kewanitaannya dan aku bagai kerbau di congok menuruti saja apa yang ia inginkan. Sementara jari tengahku memainkan liang kemaluannya. Kutusuk pelan-pelan dan kukeluar-masukkan dengan lembut.

Liza semakin tak menguasai dirinya dan mengambil bantal untuk menutup mulutnya dan aku hanya mendengar suara desahan yang tak begitu jelas. Akan tetapi Liza bereaksi hebat dan tak lagi menguasai posisinya di pangkuanku. Batang kemaluanku yang sedari tadi tegang rasanya sia-sia kalau tidak aku sarangkan di lubang kemaluan wanita yang kukangeni itu. Aku mengangkat sedikit pinggulnya dan lalu kukeluarkan batang kemaluanku, sementara aku mulai mengatur posisi Liza untuk kumasuki.

“Slepph!” dengan mudah kepala batang kemaluanku masuk karena lubang kemaluannya sudah lembab dari tadi. Bersamaan itu Liza mengernyitkan dahinya dan mendesah. Liza menjerit lirih saat semua batang kemaluanku menjejali rongga rahimnya. Rasanya begitu hangat dan sensasional dan aku membisikkan padanya agar jangan menggoyangkan pantatnya. Kami rindu dan ingin berlama-lama menikmati moment kami kedua yang amat indah, syahdu dan nikmat ini. Aku melipat pahaku dan aku menyelusupkan dibalik punggungnya agar dia merasa nyaman dan memaksimalkan seluruh batang kemaluanku di rahimnya. Kurengkuh tengkuknya dan kulumat bibirnya dengan lembut bergantian ke belakang telinga dan lehernya yang jenjang. Tangan kiriku memberikan sentuhan di klitorisnya, kutekan dan kugoyang ujung jariku disana.

“Oookkh… Masss … aaaku… kaan.. ngen… “
katanya terbata saat aku menciumi belakang lehernya. Tubuhnya mulai menggigil dan Liza diam sesaat merasakan pejalnya batang kemaluanku mengisi rahimnya, wajahnya menahan sesuatu untuk diekspresikan. Aku merasakan bahwa ia sebentar lagi mendapatkan orgasmenya, lantas buru-buru kubisikkan ditelinganya.
“Tumpahkan semua rindumu Sayang.. aku akan menyambutmu…” bisikku mesra.
Aku membantunya mempercepat tempo permainan ujung jariku di klitorisnya, sementara itu ujung lidahku juga tidak ketinggalan memutar-mutar putingnya dan sesekali menyedotnya lembut.

“Aakhh.. aakkhh… Masss…sshh…” hanya itu yang ia ucapkan.
Desahan-desahannya membuatku semakin bernafsu menjelajahi seluruh tubuhnya dengan ujung lidahku dan buru-buru Liza menarik kepalaku. Ia lantas melumat bibirku kesetanan bagai tiada hari esok dan lantas aku melumat bibirnya dan kulepas permainanku diklitorisnya. Tangan kiriku kutarik ke atas untuk menstimulasi puting kirinya dan ternyata usahaku tidak sia sia.
“Oookhh… nikkk… matt…Saayy.. yang…” desah Liza dalam erat dekapanku.
Desahannya mengakhiri orgasmenya menandakan kepuasan dari cinta kami berdua. Aku mengambil jaketku dan menutupi bagian pribadi kami yang sempat morat-marit. Meskipun batang kemaluanku masih tertancap dalam-dalam! Akan tetapi aku tidak ingin mengakhirinya dengan ejakulasiku karena situasi saja yang tidak memungkinkan.
“Aaawww… geli Masss…” desah Liza geli oleh denyutan batang kemaluanku.
“Baik Liza sayang.. aku akan mencabutnya…”
“Aaahhh,” Liza menjerit lirih kegelian.
Kami pun tertidur bersama hingga sampailah kami di kota kami yang penuh kenangan bagi kami berdua.
“Eh Mas mau kemana sekarang?” selidik Liza.
“Mau pulang ikut yuk,” jawabku enteng.
Aku lantas merangkul dia ke dalam pelukanku. Angan laki-lakiku pun mulai berimprovisasi dan aku telah menemukan retorika tepat untuk dia.

“Liz aku khan belum puas melepas rindu sama kamu, kita lanjutin di rumahku yukk!” ajakku.
Singkatnya kami segera menuju rumahku. Kebetulan rumahku sedang sepi. Setelah mandi dan makan malam kami terlibat obrolan agak lama tentang kenangan kami. Lalu aku pangku Liza. Dalam keadaan berdekatan kayak gini, aku punya inisiatif untuk memeluk dan menciumnya. Dan Liza sudah berada dalam pelukanku, dan bibirnya sudah dalam lumatan bibirku. Dia diam saja dan mulai memejamkan matanya menikmati percumbuan ini. Tangannya perlahan berganti posisi menjadi memeluk leherku. Tanganku yang tadinya memegang pinggulnya, turun perlahan ke pangkal pahanya dan akhirnya..

Aku berhasil meraba merasakan betapa mulus dan lembutnya paha Liza. Kuraba naik turun sambil sedikit meremasnya. Sedang bibir kami masih saling berpagutan mesra dalam keadaan mata masih terpejam. Tanganku mulai naik lagi. Sekarang aku mengangkat bajunya, dan kelihatanlah buah dadanya yang masih terbungkus rapi oleh BHnya. Aku lumat lagi bibirnya sebentar sambil tanganku ke belakang tubuhnya. Memeluk,. dan akhirnya aku mencari kancing pengait BHnya untuk kulepas. Tidak lama terlepaslah BH pembungkus buah dadanya. Dan mulailah tersembul keindahan buah dadanya yang putih dengan puting kecoklatan diatasnya.

Benar-benar pemandangan yang menakjubkan buah dada Liza yang terawat rapi selama setahun ini belum pernah kulihat lagi. Akhirnya aku mulai meraba dan meremas-remas salah satu buah dadanya dan kembali kulumat bibir mungilnya. Terdengar nafas Liza mulai tidak teratur. Kadang Liza menghembuskan nafas dari hidungnya cepat hingga terdengar seperti orang sedang mendesah. Liza makin membiarkan aku menikmati tubuhnya. Birahinya sudah hampir tidak tertahankan. Saat kurebahkan tubuhnya di sofa dan mulutku siap melumat puting susunya, Liza menolak sambil mengatakan,
“Mas, jangan disini,.dikamar mas aja!” ajaknya dan segera aku bopong tubuhnya menuju ke kamarku.
Begitu pintu ditutup dan dikunci, langsung kupeluk Liza yang sudah telanjang itu dan kembali melumat bibir mungilnya dan melanjutkan meraba-raba tubuhnya sambil bersandar di tembok kamarnya. Lama-lama cumbuanku mulai beralih ke lehernya yang jenjang dan menggelitik belakang telinganya. Liza mulai mendesah pertanda birahinya semakin menjadi-jadi. Saking gemesnya sama tubuh Liza, nggak lama tanganku turun dan mulai meraba dan meremas bongkahan pantatnya yang begitu montoknya.

Liza mulai mengerang geli, terlebih ketika aku lebih menurunkan cumbuan gue ke daerah dadanya, dan menuju puncak bukit kembar yang menggelantung di dada Liza. Dalam posisi agak jongkok dan tanganku memegang pinggulnya, aku mulai menggerogoti puting susu Liza satu persatu yang membuat Liza kadang menggelinjang geli, dan sesekali melenguh geli. Kujilati, kugigiti, kuemut dan kuhisap puting susu Liza, hingga Liza mulai lemas. Tangannya yang bertumpu pada dinding kamar mulai mengendor.

Perlahan tanganku meraba kedua pahanya lagi dan rabaan mulai naik menuju pangkal pahanya.. Dan aku mengaitkan beberapa jari di celana dalamnya dan “srreet!!!” Lepas sudah celana dalam Liza. Kuraba pantatnya, begitu mulus dan kenyal, sekenyal buah dadanya. Dan saat rabaanku yang berikutnya hampir mencapai daerah selangkangannya..tiba-tiba,
“Mas, di tempat tidur aja yuk..! Liza capek berdiri nih.”
Sebelum membalikkan badannya, Liza memelorotkan celana panjangnya di hadapanku dan tersenyum manis memandang ke arahku. Ala mak, senyum manisnya itu..Bikin aku kepingin cepat-cepat menggumulinya. Apalagi Liza tersenyum dalam keadaan bugil alias tanpa busana. Liza mendekati aku dan tangannya dengan lincah melepas celana panjang dan celana dalamku hingga kini bukan hanya dia saja yang bugil di kamarnya. Batang kemaluanku yang tegang mengeras menandakan bahwa aku sudah siap tempur kapan saja.

Lalu Liza mengambil tanganku, menggandeng dan menarikku ke ranjang. Sesampainya di pinggir ranjang, Liza berbalik dan mengisyaratkan agar aku tetap berdiri dan kemudian Liza duduk di sisi ranjangnya. Liza mengulum batang kemaluanku dengan rakusnya. Lalu dia dengan ganasnya pula menggigit halus, menjilat dan mengisap batang kemaluanku tanpa ada jeda sedikitpun. Kepalanya maju mundur mengisapi kemaluanku hingga terlihat jelas betapa kempot pipinya. Aku berusaha mati-matian menahan ejakulasi agar aku bisa mengimbangi permainannya. Ada mungkin 15 menit Liza mengisapi batang kemaluanku, lalu dia melepas mulutnya dari batang kemaluanku dan merebahkan tubuhnya telentang diatas ranjang.

Aku mengerti sekali maksud gadisku ini. Dia minta gantian aku yang aktif. Segera kutindih tubuhnya dan mulai berciuman lagi untuk beberapa lamanya, dan aku mulai mengalihkan cumbuan ke buah dadanya lagi, kemudian turun lagi mencari sesuatu yang baru di daerah selangkangannya. Liza mengerti maksudku. Dia segera membuka, mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar membiarkanku membenamkan muka di sekitar bibir vaginanya. Kedua tangan aku lingkarkan di kedua pahanya dan membuka bibir vaginanya yang sudah memerah dan basah itu. Aku julurkan untuk menjilati bibir vaginanya dan buah kelentit yang tegang menonjol.

Liza menggelinjang hebat. Tubuhnya bergetar hebat. Desahannya mulai seru. Matanya terpejam merasakan geli dan nikmatnya tarian lidahku di liang sanggamanya. Kadang pula Liza melenguh, merintih, bahkan berteriak kecil menikmati gelitik lidahku. Terlebih ketika kujulurkan lidahku lebih dalam masuk ke liang vaginanya sambil menggeser-geser klitorisnya. Dan bibirku melumat bibir vaginanya seperti orang sedang berciuman. Vaginanya mulai berdenyut hebat, hidungnya mulai kembang kempis,dan akhirnya..
“Mas.ohh..mas.udahh..cepetan masukin punya massshh….. oh…..!!”
Liza memohon kepadaku untuk segera menyetubuhinya. Aku bangun dari daerah selangkangannya dan mulai mengatur posisi diatas tubuhnya dan menindihnya sambil memasukkan batang kemaluanku ke dalam lorong vaginanya perlahan. Dan akhirnya aku genjot vagina Liza secara perlahan dan jantan. Masih terasa sempit karena sudah setahun tidak dipakai, dan remasan liangnya membuatku tambah penasaran dan ketagihan. Akhirnya aku sampai pada posisi paling dalam, lalu perlahan kutarik lagi. Pelan, dan lama kelamaan aku percepat gerakan tersebut. Kemudian posisi demi posisi kucoba dengan Liza.

Aku sudah nggak sadar berada dimana. Yang aku tahu semuanya sangat indah. Rasanya aku seperti melayang terbang tinggi bersama Liza. Yang kutahu, terakhir kali tubuhku dan tubuh Liza mengejang hebat. Keringat membasahi tubuhku dan tubuhnya. Nafas kami sudah saling memburu. Aku merasa ada sesuatu yang memuncrat banyak banget dari batang kemaluanku sewaktu barangku masih di dalam kehangatan liang sanggama Liza. Habis itu aku nggak tahu apa lagi. Sebelum tertidur aku sempat melihat jam. Alamak..! dua setengah jam.

Waktu aku sadar besoknya, Liza masih tertidur pulas disampingku, masih tanpa busana dengan tubuh masih seindah dulu. Sambil memandanginya, dalam hati aku berkata,
“Akhirnya aku bisa ngelampiasin nafsu yang aku pendam selama setahun ini”.

6

Sore itu, aku terbangun. Kulihat jam di mejaku menunjukkan pukul 4.00 sore. Iseng aku memanjat dinding tembok pembatas kamarku, mau “melihat” tetangga sebelahku. Melalui ventilasi kulihat Mas Arif dan Mbak Nida sedang tidur-tiduran sambil mengobrol di atas tempat tidur. Aku mengawasi terus, kulihat Mas Arif hanya memakai singlet, begitu juga Mbak Nida yang hanya memakai baju dalam.

“Dasar pengantin baru, pasti mau main, ayo kapan mainnya ?” pikirku mulai tak sabaran.

Kulihat Mas Arif dan Mbak Nida berbicara sambil berpelukan, aku kurang bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Sesekali Mbak Nida tertawa cekikikan. Beberapa kali pula aku amati Mas Arif meremas payudara Mbak Nida.

Lama aku menunggu, hingga akhirnya yang aku harapkan terjadi juga. Tiba-tiba Mas Arif membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mbak Nida, menyuruh Mbak Nida memegang penis Mas Arif. Mbak Nida kelihatannya menurut dan me-masukkan tangannya ke dalam celana Mas Arif, tetapi baru sebentar sudah ditariknya kembali, tampaknya Mbak Nida menolak.

“Yaaa….. itu aja nggak mau, apalagi kalau disuruh karaoke” desahku dalam hati kecewa.

Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Arif tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini ia hanya bercelana dalam dan bersinglet. Kemudian serta merta ia memeluk Mbak Nida. Aku tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya mengentot tampaknya akan terpenuhi.

Tak lama, Mas Arif melepas pelukannya dan Mbak Nidapun mulai melepas celananya. Kini sama seperti suaminya, Mbak Nida hanya bersinglet dan bercelana dalam. Kulihat pahanya, putih dan mulus sekali.

Kemudian mendadak Mas Arif mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya.

“Kecil sekali, dibandingkan punyaku,” kataku dalam hati melihat penis Mas Arif.

Mas Arifpun langsung meng-himpit Mbak Nida, tampaknya Mas Arif akan mempenetrasi Mbak Nida. Kulihat Mbak Nida memelorotkan celana dalamnya hanya sampai sebatas paha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Arif memasukkan penisnya ke dalam lubang vagina Mbak Nida yang tertutup bulu jembut. Setelah penis Mas Arif masuk keseluruhannya ke dalam pepek Mbak Nida, Mas Arif langsung memeluk Mbak Nida sambil menciumnya bertubu-tubi. Itu dilakukan cukup lama.

Aku sedikit keheranan kenapa Mas Arif tidak melakukan genjotan, tidak mendorong-dorong pinggulnya ? Mas Arif hanya diam memeluk Mbak Nida.

“Waaah…..ini pasti karena Mas Arif nggak tahan bermain lama, nggak seperti aku” kataku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Arif.

Disinilah aku mulai melihat adanya kesempatanku untuk turut melakukan “tumpangsari” pada Mbak Nida.

Ditambah lagi, kejadian itu hanya berlangsung sangat singkat, sekitar 5 menit. Meskipun kulihat Mbak Nida tetap bisa mencapai orgasmenya, tetapi cepat pula Mas Arif menyusulnya. Aku me-nangkap kekecewaan di muka Mbak Nida, meski Mbak Nida berusaha tersenyum setelah “permainan” itu, tapi aku yakin ia tidak puas dengan permainan Mas Arif.

*****************

Peristiwa “observasi awal” hari kemarin itu membuatku mengambil kesimpulan, ada kemungkinan aku menyetubuhi Mbak Nida dan merasakan nikmat tubuhnya, kalau perlu aku juga akan menanam saham di tubuh Mbak Nida !

Itulah tekadku, aku mulai me-nyusun taktik. Mas Arif itu belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Mbak Nida. Apalagi aku punya kenalan yang bekerja di perusahaan, namanya Toni.

Siang ini aku menjumpai Toni di kantornya,

“Hai Bud, apa kabar ?” tanya Toni sambil menjabat tanganku.

“Baik“ jawabku sambil ter-senyum.

“Silahkan duduk”

Setelah aku duduk di kursi kantornya yang empuk itu, aku mulai mengajukan permintaan,

“Ton, aku butuh bantuanmu”

“Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa ?”

“Aku butuh pekerjaan”

“Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana ? gaji berapa ?”

“Oh..nggak ! Maksudku bukan untuk diriku, tapi ini untuk orang lain”

“Hm memangnya untuk siapa ?”

“Untuk temanku, Mas Arif, kamu wawancarai, tempatkan di mana saja kamu suka, nggak perlu tinggi-tinggi betul jabatannya”

“Aneh…tapi jika itu maumu, yaa tidak apa-apa”

“Yang penting kamu wawancarai dia cukup lama, beberapa kali”

“Oke, baik kalau gitu”

“Tapi…nanti jadwal wawanca-ranya aku yang tentuin”

“Terserah kamu”

Maka mulailah aku menyusun jadwal wawancaranya, mulai lusa, hari rabu sampai jum’at dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.

Toni menyetujuinya, kemudian aku permisi pulang.

Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayang nikmatnya tubuh Mbak Nida itu.

Sesampainya di kos-kosanku, aku langsung bertemu dengan Mas Arif di tempat cuci, tampak Mas Arif sedang menyuci bajunya.

“Mas…….saya ingin bicara se-bentar” kataku mulai membuka percakapan.

Mas Arifpun menoleh dan menghentikan pekerjaannya.

“Ada apa Bud ?”

“Begini…….saya dengar Mas Arif mencari pekerjaan, kebetulan tadi saya ke tempat teman saya, dia perlu pegawai baru, dianya sih malas menaruh iklan di koran, soalnya dia hanya butuh satu orang” jawabku panjang lebar menjelaskan. Sedikit berdebar-debar aku menunggu tanggapan, takut tawaranku ditolak.

Lama Mas Arif kulihat terdiam, merenung, lalu

“Hmmm….saya pikir dulu, sebelumnya terima kasih ya ?!”

“Ya Mas” kataku dengan senyuman.

Dalam hatiku, aku berpikir “Habislah sudah kesempatanku !”

Tapi setelah di dalam kamar, sekitar 2 jam kemudian aku yang tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek-ngucek mataku, melihat dari jendela. Tampak Mas Arif berdiri menunggu. Akupun cepat-cepat membuka pintu

“Wah..sedang tidur ya, kalau gitu nanti saja” Mas Arif tiba-tiba permisi.

“Eee….nggak..nggak koq Mas, saya sudah bangun nih” kataku berusaha mencegah Mas Arif pergi.

“Gangguin tidur kamu nggak ?”

“Ndak…ndak kok, masuk aja” kataku mempersilahkan.

Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku,

“Begini, ini soal lamaran kerja yang kamu bilang itu, tempatnya di mana sih ?” Mas Arif bertanya.

“Ooo…itu di Kaliurang km 7 nomor 14, nama perusahaannya DHL, nggak jauh kok”

“Syaratnya gimana ?”

“Saya kurang tau juga tuh, Mas Arif pergi saja ke sana. temui teman saya, Toni, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Budi”

“Wah…kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja” Mas Arif sepertinya keberatan.

“Enggak….nggak… koq, perusa-haannya besar, Mas ke sana juga belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu” kataku meya-kinkan Mas Arif.

“Hmmm…baiklah, tak coba dulu, jam berapa ya ke sana ?”

“Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja” kataku me-nyarankan.

Mas Arif hanya mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak lupa berterima kasih kepadaku. Aku hanya tersenyum, berarti selangkah lagi keinginanku tercapai.

*****************

Hari ini selasa, sesuai pre-diksiku, Mas Arif pagi-pagi sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.

Aku menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu,

“Assalamu’alaikum” aku mem-beri salam.

“Wa’alaikumussalam” terdengar jawaban Mas Arif dari dalam kamarnya.

Lama baru pintu dibuka, dan Mas Arif mempersilahkanku un-tuk masuk. Kulihat di dalam ka-marnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan me-makai jilbab putih, tersenyum padaku. Mbak Nida tampak cantik sekali.

“Bagaimana Mas, tadi ?” ta-nyaku

“Oh…nanti saya disuruh ke sana lagi, besok untuk test wawancara”

“Alhamdulillah, tak do’ain supa-ya berhasil”

“Terima kasih”

Setelah berbasa – basi cukup lama, akupun permisi.

“Eehh…nanti dulu, kamu khan belum minum” Mas Arif berusaha mencegahku.

“Ayo Nida buatkan air minumnya dong” perintah Mas Arif me-nyuruh istrinya, Mbak Nida.

Aku menolak dengan halus,

“Ah nggak usah Mas, saya sebentar aja koq, ada urusan”

“Oh baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya”

Aku tersenyum mengangguk, kulihat Mbak Nida tidak jadi membuat minuman. Akupun pergi ke ka-marku, riang karena sebentar lagi “adikku” akan bersarang dan me-nemukan pasangannya.

*****************

Hari ini rabu, Mas Arif sudah berangkat dan meninggalkan Mbak Nida sendirian di kamarnya. Ren-cana mulai kulaksanakan. Aku membongkar beberapa koleksi Vcd pornoku, memilih salah satunya yang aku anggap paling bagus, Vcd porno dari Indonesia sendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu.

Kemudian sambil membawa bungkusan Vcd itu, aku menuju ke kamar tetanggaku, mengetuk pintu,

“Assalamu’alaikum” aku mem-beri salam.

Lama baru terdengar jawaban,

“Wa’alaikumussalam” jawaban Mbak Nida dari dalam kamar itu.

Pintunyapun terbuka, kulihat Mbak Nida melongokkan kepalanya yang berjilbab itu dari celah pintu,

“Ada apa ya ?” tanyanya.

“Ini ada hadiah dari saya, saya mau memberikan kemarin tetapi lupa” kataku sambil menunjukkan bungkusan Vcd itu.

“Oh, baiklah” kata Mbak Nida sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku itu.

“Eee…tunggu dulu Mbak, ini isinya Vcd, saya mau lihat apa bisa muter nggak di komputernya Mas Arif” kataku mengarang alasan.

Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mbak Nida mempersi-lahkanku untuk masuk, aku yakin dia juga kurang ngerti tentang komputer.

Di dalam kamar, aku menghi-dupkan komputer dan mengope-rasikan program Vcd playernya, lalu kumasukkan Vcd-ku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku Vcd itu berjalan bagus.

“Mbak pingin nonton ?” tanyaku sambil melihat Mbak Nida yang sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.

“Film apa sih ?” tanya Mbak Nida kepadaku.

“Pokoknya bagus” jawabku sambil kemudian memberikan pe-tunjuk bagi Mbak Nida , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya.

Mbak Nida hanya mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mum-pung filmnya belum masuk ke bagian “intinya”.

Pintu kamar tetanggaku itupun kembali ditutup, aku bergegas ke kamarku, mau mengintip apa yang dilakukan Mbak Nida.

Setelah di kamarku. melalui ven-tilasi kulihat Mbak Nida menonton di depan komputer. Dia tampaknya kaget begitu melihat adegan porno langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.

Menit demi menit berlalu hingga sudah 15 menit kulihat Mbak Nida masih tetap menonton. Aku senang berarti Mbak Nida menyukainya.

Lalu terjadi sesuatu yang lebih dari aku harapkan, tangan Mbak Nida pelan masuk ke dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.

“Hhh…..hhhh….oohhh…..oohhh”suara Mbak Nida mendesah–desah , tampaknya merasakan kenikmatan.

Aku kaget,

“Wah….hebat….dia masturbasi” kataku dalam hati.

Ingin aku masuk ke kamar Mbak Nida, memeluknya dan langsung menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini perlu proses.

Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengintip, dan berinisiatif mengukur kemampuanku. Akupun mulai melakukan onani dengan memain-mainkan penisku.

Film di komputer itu terus berjalan…… hingga telah hampir 1,5 jam lamanya, pertanda film itu akan habis dan Mbak Nida kulihat sudah empat kali orgasme, luar biasa. Dan ketika filmnya berakhir, Mbak Nida ternyata masih me-neruskan masturbasinya hingga menggenapi orgasmenya menjadi lima kali.

“Akkkhhhhhhh………” Mbak Nida terpekik pelan menandai orgasmenya.

Sesaat setelah orgasme Mbak Nida yang kelima akupun ejakulasi.

“Oooorghhhh………” suara berat-ku mengiringi luapan sperma di tanganku.

Aku senang sekali, berarti aku lebih tangguh dari Mas Arif dan bisa memuaskan Mbak Nida nan-tinya karena bisa orgasme dan ejakulasi bersamaan.

Kemudian Mbak Nida sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan Vcdnya dan mematikan komputer.

*****************

Setelah siang hari, Mas Arif baru pulang. Sedikit berdebar-debar aku menunggu perkem-bangan di kamar tetanggaku itu, takut kalau – kalau Mbak Nida ngomong macam – macam soal Vcd itu, bisa berabe aku !

Tetapi lama…..kelihatannya tak terjadi apa-apa. Kembali aku me-ngintip lewat ventilasi, apa yang terjadi di sebelah.

Begitu aku mulai mengintip, aku kaget ! Karena kulihat Mbak Nida dalam keadaan hampir bugil, hanya memakai celana dalam dihimpit oleh Mas Arif, mereka bersetubuh ! Namun seperti yang dulu-dulu, permainan itu hanya berlangsung sebentar dan tampaknya Mbak Nida kelihatan tidak menikmati dan tidak bisa mencapai orgasme. Bahkan aku melihat Mbak Nida seringkali kesakitan ketika penetrasi atau ketika payudaranya diremas.

“Ah…Mas Arif nggak pandai merangsang sih”, pikirku.

Bagaimanapun aku senang, langkah keduaku berhasil, mem-buat Mbak Nida tidak bisa lagi men-capai orgasme dengan Mas Arif. Prediksiku, Mbak Nida akan sangat tergantung pada Vcd itu untuk kepuasan orgasmenya, sedangkan cara menghidupkan Vcd itu hanya aku yang tahu, disinilah kesem-patanku.

*****************

Kamis, pukul 08.00. Aku bangun dari tidur, mempersiapkan segala sesuatunya, karena hari ini bisa jadi saat yang sangat bersejarah bagiku. Kemarin aku telah meng-intip Mbak Nida dan Mas Arif seharian, mereka kemarin ber-setubuh hanya dua kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yang penting bagiku, Mbak Nida tidak bisa orgasme.

Malam kemarin aku juga sudah bersiap-siap dengan minum se-gelas jamu kuat, yang bisa menambah kualitas spermaku.

Pagi itu, setelah aku mandi, aku berpakaian sebaik mungkin, parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti aku melangkah ke tetangga sebelahku, Mbak Nida yang sedang sendirian.

Kembali aku mengetuk pintu kamarnya pelan,

“Assalamu’alaikum” aku mem-beri salam.

“Wa’alaikumussalam” suara lem-but Mbak Nida menyahut dari dalam kamar.

Mbak Nidapun membuka pintu, kali ini ia berdiri di depan pintunya, tidak seperti kemarin yang hanya melongokkan kepala dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.

“Oh ya, saya lupa membe-ritahukan cara menghidupkan Vcd kemarin” kataku sambil tersenyum.

Tiba-tiba raut muka Mbak Nida menjadi sangat serius,

“Kamu kurang ajar ya, masa’ ngasiin Vcd porno gituan ke Mbak” kata Mbak Nida sedikit keras.

Aku kaget, “ternyata ia marah”, pikirku. Lalu cepat aku mengarang alasan,

“Oh ma’af Mbak, Vcdnya yang hadiah itu, isinya film soal riwayat Nabi-Nabi buatan TV3 Malaysia, ma’af kalau tertukar, yah saya ambil saja lagi”

Mbak Nida masuk ke dalam kamarnya, ia tampak kecewa, aku senang berarti ia takut kehilangan Vcd itu. Lalu akupun masuk ke kamarnya melalui pintu yang sedari tadi terbuka.

Mbak Nida kaget, melihatku mengikuti langkahnya,

“Eeeh…kamu kok ikut masuk juga ?!”

Sambil menutup pintu, tenang aku menjawab,

“Alaa….Mbak jangan munafiklah, tokh Mbak juga menyukai Vcd porno itu, saya lihat Mbak sampai masturbasi segala”

“Kurang ajar kamu ! Keluar ! Kalau tidak saya akan berteriak” bentak Mbak Nida.

“Mbak jangan marah dulu, coba Mbak pikirkan lagi, sejak menonton Vcd itu, Mbak tidak bisa lagi orgasme dengan Mas Arif khan” kataku sambil merebut Vcd itu dan mematahkannya.

Mbak Nida terkejut,

“Kamu…..”

Tak sempat ia menyelesaikan kata-kata, aku memotongnya,

“Saya bersedia memberikan kepuasan kepada Mbak Nida, saya jamin Mbak Nida bisa orgasme bila main dengan saya”

“Kurang ajar ! Keluar kamu !”

“Eeee….tidak segampang itu, ayolah Mbak Nida jangan marah, pi-kirkan dulu, saya satu-satunya ke-sempatan, bila Mbak Nida tidak me-makai saya, seumur-umur Mbak Nida nggak akan pernah mencapai orgasme lagi” aku mulai meng-hasutnya.

Mbak Nida terdiam sebentar, aku senang dan berpikir ia mulai termakan rayuanku, tapi…

“Tidak ! Kata Mbak tidaaak ! Sekarang keluar kamu !”

Aku gemetar, tapi tetap ber-usaha,

“Mbak sebaiknya pikirkan lagi, di sini cuma saya yang mengajukan diri memuaskan Mbak, saya satu-satunya kesempatan Mbak, kalau Mbak tidak mengambil kesempatan ini, Mbak akan rugi !” kataku sedikit tegas.

Lama kulihat Mbak Nida terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping ranjangnya. Aku pura-pura mengalah…

“Yah, sudahlah, jika Mbak tidak mau, saya pergi saja, saya itu cuma kasihan ngelihat Mbak !” kataku sambil beranjak pergi.

Tetapi kulihat Mbak Nida hanya diam terduduk di ranjangnya, aku membatalkan niatku, pintu yang telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam. Perlahan aku mendekati Mbak Nida, kulihat ia menangis,

“Mbak….jangan menangis, tidak ada maksud saya sedikitpun menyakiti Mbak” kataku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.

Lalu pelan-pelan kupegang pun-dak Mbak Nida dan kudorong pelan dia agar berbaring di ranjang. Ter-nyata Mbak Nida hanya menurut saja, aku kesenangan, rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.

Kemudian aku mulai membuka resleting celana panjangnya, ia tampaknya menolak, tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan tanganku ke dalam celananya. Tanganku masuk kedalam kolornya, lalu langsung jariku menuju ke tengah “lubang” birahinya. Aku sudah terburu nafsu, mencucuk-cucukkan jemariku ke dalam lubang itu berkali-kali.

“Akhhh…..akhhh…….ahhhhhh” desahan Mbak Nida mengiringi setiap tusukan jemariku.

Aku ingin membuatnya terang-sang dan mencapai orgasme. Lalu dengan cepat kutarik celana pan-jang dan kolornya, sehingga terlihatlah pahanya yang putih dan mulus, aku langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi, menjilat paha putih Mbak Nida dengan merata. Akupun mengincar kelentit Mbak Nida yang tersembul ke luar dari bagian atas pepeknya.

Langsung aku kulum kelentit itu di dalam mulutku,

“Elmm…..mmmm…….emmmm” dan lidahku menari-nari di atasnya, terkadang kugigit pelan-pelan berkali-kali,

“Akhh….ooohhhh……aaahhhhh” suara Mbak Nida mendesah kuat tanda terangsang.

Jemari tanganku semakin kuper-cepat menusuk pepek Mbak Nida dan lidahku makin menggila menari-nari di atas kelentitnya yang berwarna merah jambu itu.

Perlahan kubimbing Mbak Nida mencapai puncaknya, hingga akhirnya……

“Aaaaaaakkkhhhhhh…………” pekikan pelan Mbak Nida mengiringi orgasmenya.

Kulihat jemari tanganku basah, bukan karena liurku tetapi karena cairan vagina Mbak Nida yang orgasme. Aku mencium vagina itu, tercium bau khas cairan vagina wanita yang orgasme.

Aku tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mbak Nida mencapai orgasmenya. Tetapi aku tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah memelankan tusukan jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat,

“Ahhh….ahhhh….yaah…..yaahh” suara Mbak Nida mulai meracau.

Sementara tangan kiriku beroperasi di vagina Mbak Nida, tangan kananku mulai meremas blus Mbak Nida, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan menarik kutangnya hingga menyembullah payudara Mbak Nida yang indah membukit.

Kemudian aku menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas payudara Mbak Nida bergantian,

“Slurrpp….slrrrrpp…..slluuurpp” aku menghisap puting Mbak Nida, sementara desahan Mbak Nida terdengar halus di telingaku,

“Akhh….teruuss…..teruuusss” Sementara tangan kiriku tetap beraksi di vagina Mbak Nida, dan vagina itu semakin becek,

“Crrtt…..crrtt……slrrpp”

Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mbak Nida yang mendesah-desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam-dalam, Mbak Nida sedikit kaget,

“Ohhh….oomlmmm…elmmmm” Mbak Nida tidak bisa lagi bersuara, karena bibirnya telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yang menari-nari.

Aku memang berusaha mem-bimbing Mbak Nida agar orgasme untuk kedua kalinya. Agar di saat orgasmenya itu aku bisa me-masukkan penisku, mempenetrasi vaginanya. Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran penisku lebih besar dari punya Mas Arif yang biasa masuk.

Sambil mencium dan merang-sang pepek Mbak Nida, tangan kananku mulai melepas celana panjangku dan kolorku, lalu melem-parkannya ke lantai. Tangan kananku mengelus-elus kontolku yang terasa mulai mengeras.

Lama akhirnya Mbak Nida mencapai orgasmenya yang kedua kali,

“Ooorrggghhhhh………..”

Mbak Nida mengerang, tetapi belum selesai erangannya, aku langsung menusukkan penisku pelan-pelan ke dalam vaginanya.

“Aaaaaahhhhh…………” suara Mbak Nida terpekik, matanya sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, aku tersenyum.

Akupun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha Mbak Nida dengan kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kontolku pelan-pelan lama kelamaan men-jadi semakin cepat. Bunyi becekpun mulai terdengar,

“Sllrrttt…cccrrttt….ccrrplpp” suara becek itu terus berulang-ulang seiring dengan irama tusukanku.

“Akhhh….yaaahh…terus…” suara desahan Mbak Nida keenakan. Akupun semakin mempercepat tusukan, kini kedua kakinya ku-sandarkan di pundakku, pinggul Mbak Nida sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku ber-ulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, tampaklah rambut hitam sebahu milik Mbak Nida yang indah, sambil menggenjot aku membelai rambut hitam itu.

“Ahhh…..ahhh….aaahhh”

“Ohhh……ohhhh……..hhhh”

Suara desahanku dan Mbak Nida terus terdengar bergantian seperti irama musik alam yang indah.

Setelah lama, aku mengubah posisi Mbak Nida, badannya kutarik sehingga kini dia ada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan, sementara penisku dan vaginanya masih menyatu.

Tanganku memegang pinggul Mbak Nida, membantunya badannya untuk naik turun. Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah pepaya montok nan segar yang ber-senggayut dan tergoyang-goyang akibat gerakan kami berdua. Langsung kubenamkan kepalaku ke dalam kedua payudara itu, menjilatnya dan menciumnya ber-gantian.

Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama…..

“Oooohhhhhhh……………..” lenguhan panjang Mbak Nida menandai orgasmenya, kepalanya terdongak menatap langit-langit kamarnya saat pelepasan itu terjadi.

Aku senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirya kuhentikan sesaat. Lama kami saling bertatap-tatapan, aku lalu mencium mesra bibir Mbak Nida dan Mbak Nida juga menyambut ciumanku, jadilah kami saling berciuman dengan mesra, oh indahnya.

Tak lama, aku menghentikan ciumanku, aku kaget, Mbak Nida ternyata menangis !

“Kenapa Mbak Nida ? saya me-nyakiti Mbak ya ?!” tanyaku lembut penuh sesal.

Masih terisak, Mbak Nida menjawab,

“Ah…..nggak, kamu justru telah membuat Mbak bahagia”

Kami berdua tersenyum, ke-mudian pelan aku baringkan Mbak Nida. Perlahan aku mengencangkan penetrasiku kembali.

Sambil meremas kedua payu-daranya, aku membolak-balikkan badan Mbak Nida ke kiri dan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,

“Ahhh…..ahhh….aaahhh”

“Ohhh……ohhhh……..hhhh”

Terus….lama, hingga akhirnya aku mulai merasakan urat-uratku menegang dan cairan penisku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.

Aku ingin melakukannya ber-sama dengan Mbak Nida. Untuk itu aku memeluk Mbak Nida, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku berhasil karena perlahan Mbak Nida kembali terang-sang, bahkan terlalu cepat.

Dalam pelukanku kubisikkan ke telinga Mbak Nida,

“Tahan……tahan………Mbak, kita lakukan bersama-sama ya”

“Ohhh…ohhh….ohhhh…..aku su-dah tak tahan lagi” desah Mbak Nida, kulihat matanya terpejam kuat menahan orgasmenya.

“Pelan…..pelan saja Mbak, kita lakukan serentak” kataku membisik sambil kupelankan tusukan penisku.

Akhirnya yang kuinginkan ter-jadi, urat-urat syarafku menegang, penisku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku berulang-ulang dengan cepat.

“Akhhh….ooohhh….ohhh” suara Mbak Nida mendesah. Kepalanya tersentak-sentak karena dorongan penisku.

“Lepaskan…..lepaskan……Mbak, sekarang !” suaraku mengiringi de-sahan Mbak Nida, Mbak Nida menuruti “saranku”, diapun akhirnya mele-paskan orgasmenya,

“Aaaakkhhhhh…………”

“Ooorggghhhhh………” suara be-rat menandakan ejakulasiku, meng-iringi orgasme Mbak Nida. Erat ku-peluk ia ketika pelepasan ejakulasi itu kulakukan.

Setelah “permainan” itu, dalam keadaan bugil aku tiduran ter-lentang di samping Mbak Nida yang juga telanjang. Mbak Nida me-melukku dan mencium pipiku berkali-kali seraya membisikkan sesuatu ke telingaku,

“Terima kasih Bud”

Mbak Nida kulihat senang dan memeluk tubuhku erat, tertidur di atas dadaku. Dalam hatiku aku merasakan senang, gembira, tapi juga sedih. Aku sedih dan me-nyesal melakukan ini dengan Mbak Nida, aku takut ia tidak akan pernah lagi mencapai orgasme selain de-ngan diriku, ini berarti aku me-nyengsarakan Mbak Nida.

Sambil merenung, aku kecup rambut hitam sebahunya itu dan kubelai serta kuusap pe

4

Tia cemburu berat. Tidak kurang tiga kali ia melihat pacarnya meraba-raba tubuh Uswatun. Semula ia lah yang membantu Tody membius Uswatun dan membiarkannya meraba dan memelototi tubuh gadis itu. Belakangan ia jadi sebal, karena Tody justru menaruh perhatian kepada gadis itu dan mulai mengabaikannya. Uswatun anak kost baru di pondokan yang dikelola Bu Lik Tia. Sebetulnya rumahnya masih di Yogya. Tapi karena terlalu jauh dari Bulaksumur, ia memutuskan kost di sana, sebab hanya 5 menit ia butuhkan untuk sampai ke kampus dengan angkutan umum.

Meski keponakan ibu kos, Tia punya kamar sendiri, bercampur dengan 6 anak kos lainnya, termasuk Uswatun. Yang menyenangkan baginya. Bu Lik-nya tak mau tahu urusan anak kos. Itu sebabnya, Tody bisa bebas keluar masuk pondokan, bahkan keluar masuk kamar Tia. Bahkan, Tody pernah menginap di kamar Tia dan menghabiskan malam Minggu bersamanya dengan “pertempuran” yang dahsyat. Ketika Tody pulang pada Minggu pagi, Tia bahkan tak sanggup membuka matanya karena kelelahan dan baru bangun sore harinya. Sejak awal Uswatun masuk, Tia memang sudah memendam kecemburuan. Pertama, Uswatun jauh lebih cantik darinya. Bahkan diam-diam ia mengagumi wajah cantiknya yang mirip Maudy Koesnaedi itu. Kedua, Uswatun diterima kuliah di PTN favorit, sedangkan ia hanya di akademi yang tak terlalu ngetop. Ketiga, mahasiswi baru ini tampak sangat alim dengan busana panjangnya yang longgar dan jilbab yang panjangnya sampai ke pinggul. Tentu saja, Tia merasa rikuh jika menerima Tody di kamarnya, sementara Uswatun melihatnya. Rasa rikuh itu akhirnya menjadi kejengkelan ketika suatu hari Uswatun menegurnya.

“Mbak, mbok jangan terima tamu lelaki di kamar tho…,” katanya lembut.
“Memangnya kenapa? Kami nggak ngapa-ngapain kok!” sahut Tia ketus.
“Ya nggak pantes aja… ” timpal Uswatun kalem.
Melihat ketenangan dan kelembutan gadis itu, Tia makin jengkel. Apalagi, tak cuma sekali itu Uswatun menasehatinya. Kejengkelan itu mencapai puncaknya ketika Uswatun justru menegur Tody yang baru saja akan masuk pondokan.
“Mas, mbok nemuin Mbak Tia-nya di teras saja, jangan di kamar…” katanya.
“Memangnya kamu ibu kos baru ya?” sahut Tody jengkel sambil nekad tetap masuk.

Di kamar Tia, Tody terus ngomel-ngomel.
“Iya, aku juga sebel sama dia. Enaknya diapain ya tuh anak?” kata Tia.
“Kamu suruh saja Bu Lik-mu mengusir dia,” timpal Tody jengkel.
“Alasannya?” sahut Tia.
Tody diam, tak punya alasan memang.
“Huh, aku jadi pengen memperkosa dia,” lanjut Tody.
“Memperkosa?”
“Iya, aku pengen gigit pentilnya sampai dia teriak minta ampun,” kata Tody gemas.
“Kamu serius?”
“Tentu saja, tapi bagaimana?”
“Aku tahu caranya.”
“Bagaimana?”
“Nanti kuberitahu. Tapi, sekarang perkosa aku dulu dooong…” Tia menggelendot manja di leher Toddy.

Lalu tiba-tiba kedua tangan Tody mencengkeram kedua payudaranya dan mendorong Tia hingga terhempas ke ranjang. Mungkin terbawa emosi, Tody mencengkeram payudara Tia yang tak seberapa besar dengan agak kasar. Akibatnya, Tia menjerit kesakitan.
“Aduhhh… pelan-pelan dong, Tod,” katanya.
Tody nyengir.
“Katanya minta diperkosa?”
“Iya, tapi merkosanya pelan-pelan, biar enak gitu…” sahut Tia yang mulai mendesah karena t-shirt ketatnya telah terdorong ke atas dan payudaranya yang terbuka bebas kini diremas lembut kekasihnya.
“Iya deh, nanti saja kasarnya kalau memperkosa cewek sok alim itu,” kata Tody.
Lalu, malam panjang pun diawali dengan pergumulan penuh aroma nafsu di kamar kos yang sempit itu.

Hari perkosaan itu pun tiba. Tia menunggu Uswatun pulang. Biasanya, tiap Jumat mahasiswi baru itu pulang petang. Tia tak tahu apa kegiatan calon korbannya itu sampai harus pulang setelah gelap. Yang jelas, tadi ia telah menyelinap masuk ke kamar Uswatun dengan kunci cadangan yang disimpan Bu Liknya. Lalu, ke dalam wadah air bening milik Uswatun dimasukkannya serbuk obat tidur. Dilebihkannya sedikit agar gadis itu betul-betul menikmati tidur panjang hingga esok hari. Tia tahu betul kebiasaan Uswatun. Pulang kuliah, masuk kamar, minum segelas air putih, lalu tiduran-tiduran sambil membaca majalah. Entah majalah apa, yang jelas cover-nya bergambar gadis berjilbab. Tia tak pernah tertarik membaca majalah seperti itu. Ia lebih suka membaca majalah anak muda masa kini.

Akhirnya yang ditunggu pun datang. Tia yang duduk di depan TV berlagak tidak melihat. Tapi diam-diam dia tercengang ketika melirik dan menyaksikan betapa cantiknya Uswatun hari itu. Ia seperti biasanya mengenakan jilbab putih sepanjang pinggang dan kali ini memakai busana longgar panjang semata kaki (Uswatun menyebutnya jubah) berwarna hijau muda dengan kembang-kembang putih. Sambil terus berpura-pura menonton TV, Tia melirik lewat pintu kamar yang tak ditutup. Ritual rutin itu sudah mulai berjalan. Uswatun duduk di tepi ranjang, melepas sepatu berhak tipis dan membiarkan kaus kaki tetap terpasang. Lalu, diraihnya wadah air bening dan menuangkan isinya ke dalam gelas. Tia tersenyum, rencananya berjalan mulus.

Uswatun tampak sangat haus. Air segelas pun langsung tandas. Lalu, ia membuka tasnya dan mengambil majalah kesayangannya. Disusunnya bantal untuk bersandar di dinding. Lalu kakinya pun selonjor di atas kasur dan ia mulai membaca. Tia mulai melakukan perhitungan mundur. Dilihatnya jarum detik jam dinding. Senyum Tia makin lebar. Pada hitungan detik ke-30, ia melihat tubuh Uswatun mulai miring ke kanan, tapi kemudian tegak kembali. Rupanya ia mencoba melawan kantuk. 10 detik kemudian, kembali miring ke kanan dan tegak lagi. Tapi kali ini Uswatun menggeser tubuhnya hingga pada posisi berbaring dengan kepala diganjal dua bantal dan mulai membaca lagi. 10 detik kemudian, Uswatun menyerah. Tangannya yang memegang majalah melemas dan terkulai ke bawah ranjang dan majalah itu pun tergeletak di lantai. Tia menghitung lagi hingga 10, Uswatun tak bergerak lagi.

Perlahan Tia masuk ke kamar Uswatun. Wajah gadis cantik itu betul-betul damai. Tia kini berdiri di sisinya dan melihat bagian dada Uswatun naik-turun dengan tenang, seperti orang yang tidur lelap. “Mbak… Mbak Us… Mbak…” Tia memanggil, tapi gadis itu tetap diam. Diulangnya lebih keras di dekat telinga, juga diam. Diguncang-guncangnya pundak gadis itu, juga diam. Nekad, Tia membuka kedua kelopak mata Uswatun. Tetap tak ada reaksi. “Hi hi hi… kena kamu anak sok tahu… tetekmu bakal dimakan si Tody,” kata Tia sambil meremas-remas kedua payudara Uswatun yang masih tertutup berlapis kain. “Memekmu ini juga bakal disodok kontolnya anak badung itu,” lanjut Tia sambil meremas-remas pangkal paha Uswatun dari luar jubahnya. Diperlakukan seperti itu, Uswatun tetap tak bereaksi. “Tood… hei… ini udah siap!” teriak Tia. Tia memang bisa berteriak sekeras itu karena yakin tak ada yang mendengar. Di lantai dua ini, cuma ada 3 kamar. Yang terisi cuma kamarnya dan kamar Uswatun, sedang anak-anak kost di lantai satu, jarang sekali main ke lantai dua.

Tody yang sejak tadi bersembunyi di kamar Tia langsung menghambur ke kamar Uswatun. Tody menyeringai melihat gadis yang dibencinya itu dalam keadaan tak berdaya. Seperti singa kelaparan menerkam mangsanya, kedua tangan mahasiswa itu langsung mencengkeram gundukan di dada Uswatun yang tertutup jilbab. Tody terus meremas dan menarik-narik gumpalan daging dalam genggamannya itu ke kanan, kiri dan atas. Akibatnya, jilbab Uswatun di bagian dada kusut. “Hmmm… memeknya boleh juga, tebel kayak kue apem,” kata Tody sambil kini meremas pangkal paha Uswatun. Tia senyum-senyum saja melihat pacarnya seperti anak kecil mendapat mainan baru. Ia tengkurap di ranjang sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, saat Tody mengangkat ujung jilbab Uswatun dan menyampirkan ke pundaknya. Tody kini mulai melepas 3 kancing di bagian atas jubah Uswatun. Lalu, bagian bawah jubah ditariknya melewati kepala.

Sepasang kekasih itu tertawa ketika melihat di balik jubahnya, Uswatun ternyata mengenakan kaus lengan pendek bodyshape yang membuat payudaranya tampak menonjol dan kemulusan lengannya terlihat bebas. Tak berlama-lama, Tody melepas kaus itu. Perhatian Tody beralih ke bagian bawah tubuh Uswatun yang tertutup rok dalam transparan. Rok dalam itu pun segera lepas. Tody kini berlutut di sisi Uswatun yang tetap berbaring dalam damai. Di sisi berseberangan, Tia masih telungkup bertopang dagu, menonton aksi pacarnya. Tapi kini ia membantu Tody melepaskan kaitan BH Uswstun. Bola mata Tody seperti akan meloncat keluar melihat keindahan payudara Uswatun. Begitu segar, mulus dan putih. Saking putihnya, pembuluh darah kebiruan di balik kulit mulusnya terlihat jelas. Putingnya mungil tapi cukup menonjol, seperti karet penghapus di kepala pensil. Tia tampak iri, payudaranya tak sebesar dan seindah milik Uswatun.

Sambil merengut, dipandanginya pacarnya melahap keindahan itu. Kedua tangan Tody tak henti-henti meremas sementara mulutnya terus melahap, mengulum dan menggigit-gigit puting susu Uswatun. Tiba-tiba Tody berhenti, lalu memandangi “hasil karyanya”. Sekujur permukaan buah dada Uswatun kini basah oleh liur Tody, terutama di bagian kedua pucuknya yang kini makin tegak. Bagian itulah yang kemudian masing-masing dijepit ibu jari dan telunjuk Tody. Ditariknya ke atas sampai batas maksimal. Dalam keadaan sadar, Uswatun pasti sudah menjerit-jerit kesakitan. Tody lalu melepas jepitannya, hingga kini gumpalan daging itu terjatuh dan berguncang ke sisi kanan dan kiri tubuhnya. Tody melakukannya berulang-ulang, seperti tengah menguji tingkat kekenyalannya. Tody kembali berhenti. Perhatiannya kini tertuju ke CD Uswatun yang tampak penuh. Diremasnya dengan penuh nafsu, sambil jari tengahnya mencari-cari jalan masuk.

Tak sabar, ditariknya CD Uswatun turun. “Edan, ini memek yang indah,” katanya sambil melorot hingga wajahnya tepat di muka pangkal paha Uswatun. Direnggangkannya paha gadis itu, lalu dengan rakus dijilatinya kemaluan cewek alim itu. Tia memandangi dengan cemburu ketika Tody dengan jari-jarinya menguakkan liang kemaluan di depannya. Perlahan daging segar itu membuka, memperlihatkan bagian dalam yang kemerahan dan basah. “Asyiikk… cewek ini masih perawan. Nggak kayak kamu dulu waktu pertama kali tak kenthu,” kata Tody sambil membuka celananya. Tia mencibirkan bibirnya, sebel. Tia makin sebel ketika Tody menyuruhnya mengulum penisnya. “Biar gampang, memeknya masih seret… maklum perawan,” kata Tody sambil meringis-ringis karena Tia mengulum penisnya kuat-kuat.
Kini Tody bersiap-siap menyetubuhi gadis berjilbab itu. Kepala penisnya sudah terjepit bibir vagina Uswatun, sementara kedua tangannya berpegangan pada kedua payudara Uswatun yang tetap terpejam.
“Eh, tunggu dulu…” tiba-tiba Tia menahan dada Tody.
“Kenapa?” kata Tody jengkel karena terganggu.
“Kamu bilang dia masih perawan?”
“Iya, kenapa?”
“Bagaimana kalau nanti dia curiga, karena memeknya sakit dan berdarah? Dia pasti menuduh kamu…”
“Terus bagaimana?”
“Kamu jangan perkosa dia di rumah ini, karena dia pasti menuduh kamu. Kan kamu lelaki yang paling sering dia lihat di sini…” ujar Tia.

Omongan Tia termakan juga oleh Tody. Bagaimanapun, dia tak mau berurusan dengan polisi.
“Terus, bagaimana aku membawa dia keluar rumah ini sekarang? Di bawah banyak orang kan?”
“Ya bukan sekarang dong Tod… Lain waktu kamu culik dia. Entar aku bikinin skenarionya deh…”
“Terus sekarang gimana, udah nanggung nih!”
“Udah deh, kamu selesaikan sama aku. Sambil, kamu apain kek cewek ini. Kamu jilatin kek, remes kek asal bukan kontolmu masuk ke memeknya…” lanjut Tia sambil melepas celananya.

Akhirnya, sambil menahan kesal, Tody pun menyelesaikan hajatnya dengan Tia. Emosinya bahkan sempat membuat Tia kesakitan. Tentu saja ia tak melupakan Uswatun. Sepanjang memompa penisnya ke dalam milik Tia, lidah dan tangannya tak pernah berhenti menikmati tubuh telanjang Uswatun. Bahkan, sekali telunjuknya menusuk anus gadis itu. Menjelang pagi, Tody akhirnya ambruk dengan penis menancap jauh di dalam vagina Tia. Namun, wajahnya melekat erat di selangkangan Uswatun. Tia tak membiarkannya berlama-lama seperti itu. Cepat disuruhnya Tody merapikan kembali korbannya. Tak lama kemudian, Uswatun kembali dalam posisi tidur nyenyaknya, lengkap dengan jubah dan jilbab panjangnya.

Uswatun baru bangun menjelang matahari terbit. Kaget juga ia menyadari telah tidur begitu lama, masih lengkap dengan pakaian yang dikenakannya saat kuliah. Gadis itu duduk di ranjang dan merasakan heran karena sekujur tubuhnya terasa seperti habis bekerja keras. Padahal, ia habis tidur begitu lama. Tapi ia tak membiarkan dirinya berdiam diri berlama-lama. Cepat ia bangkit, menyambar handuknya dan ke kamar mandi. Di kamar mandi, Uswatun keheranan karena merasakan ngilu pada kedua payudaranya, terutama pada putingnya. Hal yang sama juga dirasakannya pada pangkal paha. Yang juga membuatnya khawatir adalah pedih di anusnya. Tetapi Uswatun lagi-lagi tak ingin berlama-lama di kamar mandi. Apalagi, ia ada janji bertemu teman pukul 07.00 pagi nanti.

Pengalaman malam Sabtu di kamar gadis berjilbab itu membuat Tody ketagihan. Sejak Sabtu sore ini, ia sudah kembali berada di rumah kos pacarnya. Tia jadi jengkel, karena Tody menyuruhnya melakukan hal yang sama seperti Minggu lalu. Betul saja, malam itu pun ia cuma jadi penonton ketika Tody habis-habisan mencumbu tubuh telanjang Uswatun yang tak sadarkan diri akibat obat tidur. Bedanya, kali ini Tody bawa kamera foto. Dipotretnya Uswatun yang berjilbab tapi tak mengenakan apapun di bagian bawah tubuhnya. Disuruhnya pula Tia memotretnya tengah berlagak menjepitkan kepala penisnya di antara bibir vagina Uswatun dan saat ia memasukkan penisnya ke mulut mungil gadis itu. Lagi-lagi, Tia cuma jadi keranjang sampah. Jadi pelampiasan nafsu Tody yang sudah sampai ke puncak.

Seminggu kemudian, Tody meminta hal yang sama. Tapi kali ini Tia menolak. Diam-diam ia cemburu. Apalagi, Tody sering membanding-bandingkan tubuhnya dengan tubuh gadis itu. “Memek Uswatun wangi, memekmu bau kecut,” atau “Tetekmu melorot, nggak kayak punya Uswatun, masih kenyalll…” begitu Tody biasa mengatakannya. Meski Tia tak mau, Tody nekat melakukannya sendiri. Menjilati, meremas, mengulum atau sekadar menggesekkan penisnya ke bibir vagina Uswatun. Bagaimanapun, Tody masih tak mau merusak keperawanan gadis itu di kamar kosnya. Kali ini, Tody keasyikan memperkosa mulut Uswatun. Ia lupa daratan dan satu semprotan spermanya masuk ke mulut gadis itu. Lima semprotan lagi menodai wajah sendu Uswatun. Sebagian bahkan menumpuk di kelopak matanya yang memejam. “Wah gawat, dia bisa tahu nih!” pikirnya sambil susah payah melap wajah dan bagian dalam mulut Uswatun dengan tisu. Tapi Tody masih beruntung. Saat bangun, Uswatun memang merasakan sesuatu yang amis di mulutnya. Ia muntah, tapi tentu saja tak terpikir olehnya bahwa spermalah yang ada di mulutnya. Ia malah menduga, mulutnya diberaki cecak!

Empat minggu sudah Tody berlaku seperti itu. Tapi belum juga ia menemukan cara untuk membawa Uswatun keluar dari kostnya dan memperkosanya. Sementara Tia makin cemburu. Cemburu akhirnya membangkitkan dendam. Tia kemudian meminta tolong lima teman lelakinya untuk membalaskan dendamnya. Pembalasan dendam itu menemukan jalannya ketika Uswatun pulang agak malam dari kampus. Di tepi jalan, temannya yang mengantar dengan sepeda motor barusan bergerak pergi. Uswatun melangkah menuju tangga ke ruang bawah. Dari tempat tersembunyi, Tia memberi kode pada lima temannya. Dekat tangga, di tepi jalan, sebuah mobil Kijang tahu-tahu terbuka pintunya. Uswatun menengok sebentar, seorang lelaki turun. “Mbak, numpang tanya…” katanya. Uswatun berhenti, tapi tahu-tahu ada yang meringkus dan membekap mulutnya dari belakang lalu menyeretnya ke mobil yang langsung melesat pergi. Di dalam mobil Uswatun meronta-ronta, tapi percuma, kedua tangannya dipegangi kuat-kuat. “Toloongg… akhhh… aufff… tollong,” teriaknya. Tapi empat lelaki yang menghadapinya justru tertawa-tawa. “Tidak ada yang mendengar kamu, suara musik di mobil ini yang justru terdengar di luar. Jadi lebih baik kamu diam dan menurut,” kata salah seorang.

Tapi tak urung Uswatun meronta dan menjerit-jerit ketika jubahnya mulai dilucuti, lalu seluruh kain yang melekat di tubuhnya, tinggal jilbabnya saja. Empat orang itu terus menciumi dan meraba sekujur tubuhnya sepanjang jalan sambil tertawa-tawa. Mobil akhirnya berhenti di sebuah rumah besar di tempat yang sunyi. Tubuh telanjang Uswatun digotong ke dalam lalu dihempaskan di lantai keramik. Lima lelaki itu langsung menelanjangi diri mereka sendiri. “Kamu harus tahu, ini peringatan buatmu agar tidak sombong,” kata seorang yang tampaknya pemimpin mereka sambil mengacungkan penis telanjangnya. “Sa… saya… nggak ngerti,” sahut Uswatun kebingungan. “Tidak usah belagak bego, rasakan ini,” kata lelaki itu sambil menindihinya. Uswatun memekik, sesuatu yang besar, keras dan panas menekan liang vaginanya. Meronta pun percuma, empat temannya membantu memegangi tangan dan kakinya sambil merabai seluruh tubuhnya. Uswatun menjerit histeris saat vaginanya akhirnya ditembus penis lelaki itu.

Nafasnya tersengal-sengal saat akhirnya ia merasakan cairan yang hangat memenuhi rongga vaginanya. Lalu lelaki pertama menarik penisnya keluar. Seseorang mendorong kepalanya yang masih berjilbab dan memaksanya melihat cairan putih kental meleleh keluar dari rongga vaginanya. Ia terisak melihat cairan putih itu berwarna kemerahan. Tak lama kemudian, orang kedua memperkosanya juga. Lalu ketiga, keempat dan kelima. Uswatun nyaris kehilangan kesadarannya. Ia tergolek miring di lantai yang dingin. “Babak kedua,” kata pemimpin kelompok itu ketika dilihatnya Uswatun meringkuk di lantai. Empat orang lalu merenggut jilbabnya. Rambutnya yang panjang tergerai kemudian ditarik. Gadis itu menjerit. Dengan rambut itu, ia diikat tergantung hingga kakinya jinjit. Tangannya diikat dengan BH-nya sendiri. Kelima lelaki itu kemudian mengguyur tubuhnya hingga bekas pemerkosaan hilang.

Dalam keadaan tubuh basah kuyup kembali ia diperkosa. Sepanjang pemerkosaan, seorang di antara pemerkosanya memotretnya dari segala sudut, termasuk ketika Uswatun disodomi dan berkali-kali menerima semburan sperma di mulutnya. “Foto-foto ini akan kami sebar kalau kamu melapor kepada siapapun. Dan dengan foto ini pula, kamu harus mau melakukan apapun yang kami inginkan kapan saja kami mau,” kata si pemotret. Akhirnya Uswatun tak tahan. Ketika lelaki terbesar memperkosanya lagi, padahal anusnya tengah dimasuki sebatang penis, mahasiswi baru itu semaput. Dalam keadaan pingsan, ia dikembalikan ke kamarnya, digeletakkan begitu saja di kasur. Telentang, telanjang, seorang pemerkosanya bahkan menyelipkan pisang ambon ke lubang vaginanya. Tia tahu kedatangan teman-temannya yang membalaskan dendamnya, melarang Tody keluar kamar. Tapi Tody bukan tak tahu, maka kini Tia yang dibiusnya lewat minuman. Saat Tia tertidur, Tody mendatangi kamar Uswatun. Ia geleng-geleng kepala melihat vagina mahasiswi itu disodok pisang ambon besar lengkap dengan kulitnya.

3

Pagi itu saya lihat Marfuah anak tetangga samping rumah yang biasanya selalu memakai jilbab ketika pergi ke sekolah, sedang mau mandi sebelom berangkat ke sekolah di kamar mandi yang letak nya di belakang rumah saya,timbul niat saya untuk ngintipin Marfuah mandi,maklum karena di rumah Marfuah belom punya kamar mandi sendiri jadi tiap hari mandi nya di kamar mandi di belakang rumah saya.

setelah Marfuah masuk ke kamar mandi perlahan saya berjalan mendekati kamar mandi,setetah mencari-cari celah buat ngintip akhir nya saya dapetin celah walaupun celah nya hanya sebesar lobang paku,tapi saya bisa lihat Marfuah melepas pakain nya,oohhh
sungguh pemandangan yang luar biasa.

tubuh Marfuah yang putih mulus terlihat dengan buah dada yang begitu montok nya di hiasi punting yang masih ramun apalagi mem*k Marfuah yang masih di tumbuhi bulu-bulu tipis di sekitar mem*k nya yang membuat saya lebih bernafsu ngelihat nya.
saya liat Marfuah mulai membasahi tubuh nya dengan air dan mulai menyabuni seluruh badan nya,oohhh betapa nikmat nya klau saya bisa menikmati tubuh nya yang begitu menggoda,
rupanya Marfuah enggak tau klau sedang saya intip,terkadang Marfuah meremas-remas buahdada nya sendiri menambah pemandangan saya lebih hott,tanpa sadar oleh saya kalau Marfuah dah mo selesai mandi nya,buru-buru saya meninggal kan kamar mandi terus duduk di teras belakang rumah saya sambil nungguin Marfuah lewat di depan teras.

selang 10 menit kemudian Marfuah lewat depan teras rumah saya,oohh Marfuah lewat di depan teras saya hanya memakai jilbab dan pakain longgar,….mari om tumben kok belom berangkat kerja sapa Marfuah,langsung saya panggil Marfuah.
Marfuah ke sini sebentar om mau ngasih sesuat ke Marfuah

apa sih om??ntar aja klau Marfuah dah ganti baju dulu,Marfuah kan malu.
gpp cuma sebentar aja kok lagian napa meti malu Marfuah kan masih pake handuk,bentar aja.

apa sih om kata Marfuah sambil berjalan masuk ke teras rumah saya.yuk masuk dulu san gak enak klau ngasih sesuatu nya di luar bujuk saya.
akhir nya Marfuah masuk ke rumah saya,tanpa sepengetahuan Marfuah langsung saya kunci pintu rumah dari dalam.
mang mo ngasih apa om,buruan ntar Marfuah terlambat pergi ke sekolah nya kaya Marfuah.

om mau ngasih sesuatu ke Marfuah tapi Marfuah harus pejamin mata dulu biar surprice,iihh om ini ada-ada aja pake acara pejamin mata segala sih,setalh Marfuah mejamin mata nya saya ajak masuk ke kamar saya,setelah sampai di kamar saya kunci kamar saya dari dalam dan saya lepasin pakaian saya hingga telanjang.

dah belom om cepetan ntar Marfuah telat berangkat sekolah nya kata Marfuah yang masih memejam kan mata nya.
setelah saya telanjang saya peluk Marfuah dari depan sambil bisikin sekarang Marfuah buka mata nya.

haahhhh,,,,,oommmm mau ngapain,,,,sambil mencoba berontak berusaha ngelepasin dekapan saya.
jaaangggaannnn,,,ommmm,,,,jangannn perkosa Marfuah,,,jangan,
diemm klau Marfuah berani teriak om bunuh,sambil saya tarik bajunya longgarnya yang menutupi tubuh mulus nya.
sambil saya dekap saya rebahin tubuh Marfuah di atas ranjang saya,
langsung saya tindih tubuh Marfuah sambil saya jilatin buahdada Marfuah yang montok,kadang kadang saya gigit puting nya hingga Marfuah merintih kesakitan.
ammmpunnn ommmm,,ampuunnn,,jangan perkosa Marfuah,,,tanpa menghiraukan rintihan Marfuah saya gesekin jari saya ke mem*k Marfuah,
ahhh,,aahhh,,,ahhh,,,tanpa sadar Marfuah mendesah saat saya menggosok clitoris nya,perlahan saya coba masukin jari saya ke mem*k Marfuah.oooohhhh,,,saaaakiiiiittt ommmm,,,saat jari saya masuk ke mem*k Marfuah.
wah nih anak masih perawan kayak nya,saya cabut jari saya terus saya naik ke atas kepala Marfuah hingga kont*l saya tepat di depan wajah Marfuah.
sekarang Marfuah hisap kont*l om klau gak mau Marfuah saya tampar,,gakk mau Marfuah gak mau sambil berusaha menghindari kont*l saya,om bilang hisap sambil saya tampar pipi nya,tampak Marfuah syok sehabis saya tampar.perlahan Marfuah membuka mulut nya langsung saya masukin kont*l saya ke mulut nya yang mungil.
tampak mulut Marfuah penuh dengan kont*l saya,saya dorong lagi kont*l saya lebih dalam ke mlulut Marfuah..aaakkkhhh,,,aaakhhh rupa nya Marfuah tersedak karena kont*l saya lebih masuk di dalam mulut nya,
perlahan saya gerakin kont*l saya maju mundur sambil saya pegangin kepala Marfuah,

setelah 15 menit kemudian saya lepasin kont*l saya dari dalam mulut Marfuah,tampak Marfuah menangis karena takut klau saya bunuh dan Marfuah terlihat pasrah apa yang akan saya perbuat.
saya lebarin kedua paha Marfuah hingga membentuk huruf v saya jilatin mem*k Marfuah terkadang saya sedot clitoris nya sehingga
tanpa sadar Marfuah ikut menggerakkan pantat nya,setelah mem*k Marfuah basah dengan air liur saya dan cairan kenikmatan nya saya arahin kont*l saya yang dah gak sabar pengin merobek keperawanan Marfuah,
setelah kont*l saya pas di lobang mem*k nya saya dorong dengan sekuat tenaga sambil saya pegangin pantat nya.

ooooocchhhhh,,,saaaakkiiiitttttttttttt,,,,sssaaakk iitttt,,,,,ammmpppuunnnn jerit Marfuah saat kont*l saya masuk menembus mem*k nya yang masih perawan,tenang aja Marfuah nikmain aja ntar juga nikmat kok kata saya sambil terus mendorong kont*l saya yang baru masuk setengah,saya lihat Marfuah meringis kesakitan akibat mem*k nya saya masukin kont*l saya,
setelah kont*l saya masuk seluruh nya saya diemin sambilo meresapi nikmat nya jepitan mem*k abg,saya lihat tampak darah perawan Marfuahmengalir dari sela-sela kont*l saya hingga membasahi sprei ranjang saya.

perlahan saya genjot mem*k Marfuah sambil saya jilatin buahdada Marfuah yang masih kencang dan montok.
ooohhh,,oohhh,,,ampuunn omm sakittttt,rintihan Marfuah membuat nafsu saya lebih memuncak.saya genjot mem*k Marfuah yang masih sempit hingga Marfuah mengerang ooocchhh,,,aakkkhhhh,,,akhhhh,

bosen ngent*tin Marfuah dengan gaya missionary saya balikin tubuh Marfuah hingga sekarang tubuh Marfuah berada di atas saya.langsung saya genjot tanpa kenal ampun.
goyangin pantat loe sambil saya remas buah dada nya dengan keras hingga Marfuah menjerit..aaakkkhhhh,,iiiiyaaaa ommm

oooohhhh nikmat nya goyangan mu sannnn,ayoo goyangin terus sambil saya tampar pantat saat Marfuah berhenti menggoyangkan pantat nya.
setetah 15 menit saya ent*tin Marfuah,saya suruh Marfuah turun darui tubuh saya trus saya suruh nungging dengan tangan bertumpu pada pinggir ranjang.
sekarang saya pengen ngent*tin Marfuah dari belakang kata saya sambil meremas pantat Marfuah yang semok
perlahan saya selipin kont*l saya di antara paha Marfuah hingga akhir nya saya tempelin kont*l saya di lobang mem*k Marfuah yang tampak membengkak akibat saya sodok.
dengan satu hentakan keras saya masukin lagi kont*l saya ke mem*k Marfuah dari belakang sambil saya tarik pantat Marfuah ke belakang hingga membuat kont*l saya masuk seluruh nya,
goe ent*tin Marfuah sambil saya ramas-remas buah dada ya yang tampak terayun-ayun karena sodokan saya.ooohhh..ooohhh.oooh nimat banget mem*k kamu Marfuah sambil terus saya ent*tin Marfuah.

tanpa sadar hampir 1jam saya menyetubuhi Marfuah dan geu ngerasa klau saya dah mau klimaks,langsung saya cabut kont*l saya dri mem*k Marfuah
saya suruh Marfuah jongkok di depan saya sambil saya paksa masukin kont*l saya ke mulut nya lagi.
Marfuah yang terlihat sudah lemas hanya bisa nurutin kemauan saya,perlahan kont*l saya masuk ke mulut nya yang mungil.
langsung saya pegangin kepala Marfuah sambil terus saya genjot kont*l saya hingga akhir nya
cccoorttt,ccrrrooott.ccrooott,saya tahan kepala Marfuah sambil saya semburin sperma saya ke mulut Marfuah,
Marfuah mencoba melepaskan kepalanya tapi usaha nya sis-sia karena pegangan tangan saya di kepala nya terlalu kuat hingga sperma saya tertelan oleh Marfuah..ooohhh..ooohhh nikmat nya mulut kamu Marfuah,semburan demi semburan tanpa ada sperma saya yang keluar dari mulut Marfuah,setelah kont*l saya menyemburkan sperma nya di mulut Marfuah perlahan saya cabut kont*l saya,saya suruh Marfuah membersihkan sisa-sisa sperma saya yang masih melekat di kont*l saya.

timbul pikiran saya,
saya ambil hp saya langsung saya foto Marfuah yang masih telanjang sambil saya ancam lagi klau Marfuah berani macam-macam ama saya akan saya sebarin foto-foto telanjang Marfuah ke teman-teman Marfuah

2

Siapa yang menduga ternyata aktivis PKS yang selalu tampak santun, alim dan sholehah adalah seorang pelacur high class? Sehari-hari ia bukan hanya senantiasa menjaga diri dari pergaulan dan menutup auratnya dengan jubah panjang longgar dan jilbab lebar, tetapi sangat rajin dalam kegiatan dakwah dan pengajian.

Ifah, demikian panggilannya akrabnya, memang terkenal sebagai seorang akhwat muda yang disegani. Ia sering diundang ceramah terutama tentang “pentingnya seorang muslimah menjaga aurat dan pergaulan” ke berbagai tempat, di samping memimpin sebuah majelis pengajian ibu-ibu.

Hal itulah yang membuatku tak percaya sama sekali kalau ia bisa “dipakai”. Sampai akhirnya karena penasaran, aku mengontak nomor yang diberikan Diana, sekretaris cantik sebuah perusahaan yang sering kugarap itu. Ohya, sebelumnya perkenalkan. Namaku Suhendra, 43 tahun, seorang direktur perusahaan minyak.

Terdengar “Assalamulaikum” yang sangat merdu dan lembut dari seberang, sehingga membuat jantungku berdebar keras. “Walaikum Salam,” jawabku agak gugup, lalu dengan ragu-ragu menyebutkan “kode” yang diberikan Diana.

Hasilnya di luar dugaan, membuatku tercengang-cengang.
“Bayaran saya 20 juta semalam, Pak. Tidak bisa ditawar-tawar,” terdengar jawaban dari seberang, tetap dengan nada yang sangat santun, “Apakah Bapak sanggup?”

“Ya saya sanggup,” jawabku dengan dada berdegup kencang, “Kapan kita bisa bertemu?”
“Saya hanya “bekerja” setiap malam Minggu. Tapi sebelumnya saya punya syarat sendiri. Jika Bapak bersedia dan menyanggupi syarat-syarat ini, saya baru bersedia melayani Bapak.”
“Apa syaratnya Mbak Ifah? Ohya panggil saya Mas saja, jangan Bapak. Mas Hendra.”
“Baiklah Mas Hendra, syarat saya yang pertama, saya tidak mau main di hotel, jadi silahkan Mas cari rumah atau villa. Saya tidak mau mengambil resiko identitas saya terungkap. Kedua, saya tidak akan pernah membuka jilbab saya apapun kondisinya kecuali mandi. Hal ini sudah komitmen saya sejak awal. Bagaimana?”

“Oke, saya setuju. Tapi ada satu hal yang saya ingin tanyakan pada Mbak. Sebelumnya perlu Mbak ketahui, saya ini maniak seks, kalau menikmati tubuh perempuan tak ada yang mau saya lewatkan seinci pun. Apakah saya boleh mencicipi lubang dubur Mbak Ifah juga?”

Terdengar suara tertawa lembut di sana, “Boleh saja Mas Hendra. Mas boleh menikmati seluruh lubang yang ada di tubuh saya… Kalau sudah menetapkan tempatnya, silahkan SMS saya ke nomor ini. Terima kasih dan sampai ketemu, Mas. Assalamualaikum…”

Akhirnya hari yang saya nanti-nantikan pun tiba. Sesuai kesepakatan, Afifah tidak mau dijemput atau bertemu di luar. Ia akan datang sendiri ke alamat villa yang telah saya sewa ini dengan taksi.
“Assalamualaikum…” terdengar sapa lembut nan santun yang sangat khas lalu menyusul dering bel. Buru-buru aku berlari ke depan dan membukakan pintu. Dan saat itu juga, serta merta aku terpana takjub. Bahkan terpaku di ambang pintu laksana patung hidup. Betapa tidak, seumur hidupku belum pernah kulihat gadis seanggun, semanis, dan secantik gadis berjilbab lebar berwarna ungu yang berdiri dengan santunnya di hadapanku ini. Kedua matanya bening menyejukan dan menatapku dengan malu-malu. Hidungnya mancung, dengan sebentuk bibir mungil yang tipis namun penuh. Tampak merah basah dan segar. Begitu serasi dengan bentuk wajahnya yang bujur telur. Kulit wajahnya halus sekali, putih bersih dengan pipi merona kemerah-merahan dan dagu berbelah.

“Assalamualaikum… Mas Hendra?” ia mengurangi salamnya dan bertanya.
“Wa-walaikum Salam… I-iya, iya, saya sendiri. Ini Mbak Ifah kan?” jawabku belum juga bisa menutupi kegugupan. Ah, memalukan sekali!
“Benar Mas. Saya Afifah…,” ia tersenyum tipis, “Dan saya telah datang sesuai dengan kesepakatan di telepon.” Aduh, Mak! Cantiknya. Senyumnya betul-betul memikat dengan sebaris gigi yang putih bersih dan dua buah lesung pipit di pipinya di kiri kanan.

Aku mengulurkan tangan hendak mengajaknya bersalaman, tetapi seperti umumnya akhwat-akhwat alim, ia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Hal itu membuatku jadi kikuk sekali dan dengan wajah bersemu merah menarik kembali tanganku yang terlanjur terulur. Sialan! Untunglah dengan cepat aku bisa menguasai diri kembali.

“Ah, silahkan masuk Mbak,” kataku kemudian bergegas menepi dari ambang pintu membuka jalan. Ifah kembali tersenyum dan melangkah masuk dengan anggun. Kedua telapak kakinya dibungkus sandal berhak sedang dan tertutup rapat kaus kaki. Setiap langkah yang dibuatnya begitu gemulai. Sayang, pinggulnya tertutup baju kurung panjang berwarna sama dengan jilbab lebarnya dan rok panjang lebar berwarna putih yang menutupi sampai mata kaki. Kalau tidak, batinku, goyangannya pasti memabukkan.

Ia kemudian duduk di sofa ruang tamu di hadapanku dengan sangat santun. Kedua tangannya diletakkan di atas pangkuan kakinya yang tertutup rapat, badannya tegak. Tas kecilnya diletakkan di sampingnya. Benar-benar bikin gemas! Membuatku bingung bagaimana cara memulai. Untunglah tak lama Bi Sumi datang menghantarkan minuman. Kupersilahkan ia minum.

“Saya tahu, Mas Hendra sudah tidak sabar lagi menggeluti tubuh saya, menelanjangi dan merasakan kenikmatan memek saya… Tapi saya ingin pastikan dulu, apakah Mas Hendra sanggup mematuhi syarat saya kedua itu. Yaitu tidak pernah membuka jilbab saya kecuali kalau Mas hendak memandikan saya?”

“Tentu saja saya sanggup, Mbak! Justru saya sendiri ingin Mbak tetap mengenakan jilbab! Soalnya Mbak lebih cantik dan merangsang kalau dingentot dengan tetap pakai jilbab!” kataku dengan bernafsu. Ifah tertawa kecil, dan mengulurkan tangan padaku, “Kalau begitu, kita sekarang sudah boleh salaman! Anggap saja kita sudah muhrim!”

Langsung saja kusambar tangan mungilnya yang putih mulus itu, hingga Ifah terpekik, “Aaauuww! Mas, yang lembut dong! Bringas sekali!”

“Habis kamu nafsuin banget! Kungentot kau sampai tak bisa berdiri, lonte berjilbab!” teriakku kalap dan menerkamnya. Sekali lagi Ifah memekik, tapi detik berikutnya ia sudah berada dalam dekapanku. Kuserbu bibir tipisnya yang ranum hingga ia gelagapan. Begitu lembut, kenyal, manis dan segar. Kulumat habis-habisan, hingga kedua mata muslimah binal sok alim santun ini terbeliak-beliak. Kusedot sampai mengeluarkan bunyi kecipak, dan lidahku menyelinap masuk ke dalam mulutnya membelit-belit lidahnya. Tanpa diduga, ia membalas serangan ganasku dengan balas melumat dan menyedot. Lidahnya mulai bergerak liar, beradu dengan lidahku.

Mulai terdengar desahan demi desahannya yang merdu. Sebelah tanganku bergerak meremas buah dadanya yang masih tertutup rapat jilbab dan baju panjang. Terasa kenyal, padat membusung walau tidak besar.

“Oougghh, Masss.. Enaaak..!” rintihnya lirih ketika ciuman kami terlepas. Tanganku yang satu lagi dengan tak sabaran menyingkap rok panjangnya, ternyata ia masih memakai sehelai rok dalam warna krem. Dengan penuh nafsu, kusingkap saja rok dalam itu sekalian, dan tanganku pun menyelinap masuk. Ssseeerrrrhhh…! Pahanya mulus sekali! Kuelus dengan penuh nafsu, lalu kuremas-remas dengan kuat. Begitu kencang dan padat.

Ia merintih, mendesah-desah, dan mengerang. Rok panjang dan rok dalamnya kini sudah tersibak lebar memperlihatkan segala keindahan aurat yang selama ini selalu ditutup-tutupinya dalam perannya sebagai seorang akhwat alim sholehah. Kedua kakinya, dari betis sampai pangkal paha, sungguh super mulus dan super putih menggiurkan! Sehingga kurasa air liurku pasti sudah meleleh di luar kesadaranku. Celana dalam putih yang dikenakannya membuatku melotot besar tak berkerdip. Cd mungil itu begitu tipis menerawang dan tampak mengembung padat hingga tak mampu menyembunyikan lekuk lipatan memek muslimahnya.

“Massss Sayaaanggg… Celana dalam Ifah udah basah, Masss… Bukain dong!” pintanya mendesah manja sambil membuka kedua pahanya semakin lebar. Pinta itu membuat tanganku yang masih mengelus pahanya segera merayap naik hingga menyentuh bukit kecil di tengah selangkangannya. Ia emang tidak bohong, jari-jariku merasakan permukaan celana dalam itu sudah basah kuyup! “Iiihh..!” keluh akhwat manis ini tertahan.

Kutarik celana dalam itu ke bawah dan terus menanggalkannya dari ujung kakinya yang masih terbalut kaos kaki. Kubuang jauh-jauh. Ifah dengan penuh inisiatif mengangkang selebar-lebarnya yang ia mampu. Senyum teramat manis terbit di bibirnya, “Indah kan memekku, Mas?”

Jangan dikata lagi! Aku mau gila rasanya menyaksikan memek perempuan termolek yang pernah kulihat seumur hidupku ini. Apalagi pemiliknya masih mengenakan pakaian muslimah dan jilbab lebar lengkap! Kemaluan akhwat ini bagiku sungguh tak ada tandingannya! Bentuknya mungil tapi mengembung tembam. Berwarna kemerah-merahan, tampak basah, dan dicukur bersih tanpa sehelai bulu jembut pun. Meskipun terkangkang lebar sedemikian rupa, tapi memek itu tampak cukup rapat. Liang vaginanya hanya terkuak sedikit memamerkan isinya yang merah basah, dengan itil mencuat mungil.
Dibandingkan memek Afifah ini, memek Desi, Diana, dan Lydia kalah telak. Meskipun tentu saja memek masing-masing punya keistimewaannya tersendiri.

“Mas boleh jilati memekku sampai puas…”

Kuhirup habis cairan orgasme yang melimpah keluar dari dalam liang memek akhwat cantik ini dengan rakus. Ifah mengeluh lirih membiarkan aku mengulas sisa-sisa lender encer harum nan gurih itu. Wajahnya yang cantik dalam balutan jilbab lebar ungu tampak setengah tengadah bersandar pada sofa, memperlihatkan ekspresi kenikmatan tiada tara pasca keluarnya cairan suci dari dalam rahimnya yang subur.
Kemudian aku membuka celana panjangku berikut celana dalam dan duduk di sofa. Batang kejantananku tampak mengacung tegang dengan kerasnya. Terangguk-angguk. Ifah sudah tahu apa yang harus ia lakukan. Setelah membenahi roknya yang awut-awutan, kini gantian akhwat berwajah alim itu berjongkok di depan kedua kakiku. Ia tersenyum tipis demi menyaksikan betapa panjang dan besarnya batang penisku yang perkasa.
Perlahan, demi lembut diulurkannya tangannya menyentuh kontolku. Jari-jarinya begitu lentik dan halus. Membuatku mengeluh lirih. Dibelai-belainya kepala kontolku yang merah dan berbentuk seperti kepala jamur lalu turun ke batang. Kemudian digenggamnya dan dikocok-kocok dengan lembut.
“Oooh, enaaak Sayaannngg.. Ennaaaak..! Aaah!” keluhku gak tahan nikmatnya.
“Mau yang lebih enak lagi?” tanyanya genit sambil terus mengocok sesekali memelintir lembut.
“Maauu, maaauu!” teriakku dalam derita surga dunia itu. Maka sambil tersenyum, ia pun mendekatkan mulutnya ke kepala kontolku. Tanpa sungkan-sungkan, bibir mungilnya yang ranum terbuka dan mengulum batang kejantananku. Kulumannya benar-benar dashyat. Lalu dengan begitu piawai dijilat-jilatnya kepala penis dan seluruh batang kontol kebanggaanku itu selama beberapa waktu, sebelum akhirnya dikulum lagi dan dihisap-hisap dengan keras.

Entah sudah berapa puluh kali aku dioral cewek, baik ABG, mahasiswi, gadis-gadis desa, ibu rumah tangga, janda, sekretaris cantik, bahkan artis. Tapi belum pernah sekalipun kurasakan oral seks yang senikmat ini. Jilbaber ini benar-benar ahli hisap kontol alias nyepong!

Aku semakin blingsatan ketika melihat wajahnya yang keibuan. Wajah cantik memikat yang masih tetap dibalut jilbab itu tampak begitu lugu dan tanpa dosa dalam kesibukannya mengoral batang kejantananku. Lidahnya yang merdu mengaji itu semakin trampil saja mencari dan mengulas titik-titik kelemahan batang kontolku.
Ada sekitar 30 menit oral seks itu berlangsung, hingga akhirnya aku tak tahan lagi. Sekujur tubuhku bergetar menahan rasa nikmat yang sulit dilukiskan, batang kontolku pun berdenyut-denyut keras. Ifah tampaknya tahu benar apa yang akan segera terjadi. Dimasukkannya batang kejantananku sampai separuh dalam kuluman mulutnya dan ia pun menyedot kuat-kuat. Jari-jarinya yang melingkari pangkal batang membantu dengan kocokan. Akibatnya….
“Aaaaaaaaakkkkhhhhhh, Ifaaaaahhhh! Ooohhh, Ifaaaahh!” aku meraung dashyat dan menyemburkan berliter-liter sperma kental ke dalam mulut akhwat bertampang tanpa dosa yang sudah ngelontekan diri dua tahun ini! Nikmatnya luarbiasa!! Saking banyaknya spermaku yang tersembur, sebagian tak tertampung lagi dalam mulutnya yang mungil dan meleleh keluar ke sela bibir dan dagunya. Terdengar jelas olehku bagaimana ia menelan air maniku di dalam mulutnya itu.
Tak sampai di situ, ia juga menjilati bibirnya, dan dengan jari menyeka sperma yang meleleh keluar dan memasukkannya ke mulut. Setelah itu, dengan telaten dijilatinya sisa-sisa cairan putih kental itu yang masih melekat di batang kontolku. Lalu masih dihisapnya kepala kontolku sampai tetesan yang terakhir ludes.
“Istirahat sebentar ya Mas? Ifah mau sholat dzuhur dulu,” bisiknya mesra sambil mengerdipkan sebelah mata lalu berdiri meninggalkanku terkapar di sofa ruang tamu.
Tak lama kemudian, ia mengirim SMS padaku bahwa ia sudah menungguku di kamar terbesar di villa itu. Buru-buru aku bangkit dan menuju ke sana. Sekilas aku melihat celana dalamnya masih tergeletak di lantai ruang tamu, berarti… Jangan-jangan ia sholat tanpa mengenakan celana dalam??? Waaah!!
Pintu kamar tertutup rapat. Dengan perlahan kuputar gerendel dan mendorongnya halus. Jantungku berdebar keras ketika melihat jilbab lebar, baju kurung dan rok panjang tersampir di sandaran kursi depan meja rias. Lalu kulihat juga sajadah lebar berwarna merah bergambar kabah terhampar di lantai kamar. Ah, apakah ia telanjang bulat? Apakah akhirnya ia memutuskan melanggar syaratnya sendiri dengan membuka jilbabnya?
Ternyata tidak! Tapi pemandangan di atas ranjang itu lebih luarbiasa lagi dari yang bisa kubayangkan. Akhwat cantik itu duduk di tepi ranjang mengenakan mukenah putih bersih dengan sebelah kaki ditekuk dan sebelah kaki lagi terjuntai ke bawah hingga mukenahnya tersingkap lebar di bagian paha memperlihatkan pangkal pahanya yang putih mulus dan bukit memeknya yang terbuka polos tanpa celana dalam! Luarbiasa!!!
Aku sampai tertegak di ambang pintu dengan mata melotot besar tak berkerdip.
“Kok cuma bengong, Mas? Terpukau ya sama memekku?” tanyanya genit lalu tertawa kecil.
“Ka-kamuu sholat tidak pake cd?” aku balas bertanya dengan tergagap-gagap karena dilanda oleh sensasi yang demikian hebat. Dengan wajah tersipu-sipu, ia menggeleng, “Nggak Mas. Di rumah kalau sholat, Ifah juga sering gak pake cd dan bra. Polos aja di balik mukenah…”

“Oooh, dasar lonteee berjilbab!!! Kungentot kau sampai nangis-nangis minta ampuun…!” teriakku lalu melompat ke atas ranjang menerkamnya. Ifah terpekik lalu cekikikan, disambutnya terkaman ganasku dengan membuka kedua pahanya seluas-luasnya. Liang memeknya megap-megap menerima sodokan kontolku. Lubang nikmat itu seolah menyedot batang kejantananku.
Kedua kaki mulusnya melingkar ketat di pinggulku, kedua tangannya mencengkram kuat bahuku. Rintihan nikmat begitu merdu keluar tiada henti dari mulutnya, “Ooohh, enaaaak Masss, enaaaakk! Yaaa Alllaaahh, eeenaaaakkknyaaa dingentttooot Masss!”
Aku seperti kesetanan menghentakkan batang penisku yang perkasa menghujami liang vaginanya. Tentu saja, seumur hidup baru kali inilah aku menyetubuhi seorang perempuan yang sedang mengenakan mukenah. Sebuah sensasi yang sangat luarbiasa bagiku!
Setengah jam berlalu, tapi belum ada di antara kami yang mau menyerah. Sudah tiga kali berganti posisi. Kini Ifahlah yang berada di atas. Sambil merintih-rintih hebat ia menaik turunkan pantatnya dengan deras di atas tubuhku, sehingga membuat kontolku yang tertegak keras terhujam-hujam ke liang memeknya yang kain becek.
Kuseret ia turun dari ranjang, lalu sebelum ia sadar apa yang kulakukan, aku sudah mendorongnya hingga ternungging di atas hamparan sajadah. Batang kontolku kembali melesat dan sekali tembak langsung tertanam dalam di liang kemaluannya yang ternganga merah.
“Aaarrrrggghhh!!! Maaasss, jangaan di atas sajadaaah… Jangaaan di atas sajaadaaah, Masss!” ia berusaha meronta, tapi pinggulnya yang montok kucengkram erat-erat. Liang nikmatnya kungenjot dengan dashyat. Ia mengerang-erang, lalu tak sampai 10 menit kemudian: “Aaaakhhh, keluaaaarrr…! Keluuaaarrr…! Ya ampuuuun…”
Kurasakan batang kejantananku disembur cairan hangat di dalam lubang memeknya. Spermaku sendiri sudah tak terbendung lagi, muncrat dengan deras…
“Aaahh… kotor deh sajadah Ifaah…,” keluhnya ketika kucabut batang kontolku. Sebagian lendir memeknya dan spermaku meleleh keluar dan menetes ke atas hamparan sajadah bergambar kabah itu. Kubersihkan kontolku dengan ujung mukenahnya…
“Ntar Mas beliin sajadah baru deh, Sayang…,” bisikku lembut sambil menciumi pipinya.

1

Hujan turun deras sekali penglihatan sedikit kabur karena kaca mobil tertutup embun yang menempel dikaca depan. AC kunyalakan walaupun udara terasa dingin menusuk tulang. Saat itu sudah jam 7.30 pagi jadi sudah tak mungkin lagi menunda untuk berangkat kekantor apalagi jam 8.00 ada janji meeting dengan client. Mobil kujalankan pelan dan hati hati, maklum jalan didepan rumah tidak begitu lebar.

Dari rumah ke jalan raya tidaklah begitu jauh setelah satu tikungan kekiri maka akan kelihatan sebuah kaca spion besar warna merah diperempatan jalan dan itulah jalan raya yang akan membawa arah perjalananku menuju kantor. Persis ditikungan sebelah kiri didepan sebuah wartel seseorang melambaikan tangan meminta aku berhenti untuk minta tumpangan. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena terhalang hujan yang sangat deras, tetapi mengenakan jilbab lebar warna putih yang berkibar-kibar tertiup angin.Sekilas nampak wajahnya sangat cantik,kulit kuning tinggi semampai. Mobil kupelankan, dan tanpa tunggu aba aba lagi dia lansung membuka pintu depan dan duduk disebelahku.

” ma’af Om saya kehujanan, dari tadi nunggu angkot penuh melulu ya dari pada terlambat terpaksa mobil Om ku stop, sorry ya Om “. Dia berkata polos sambil mengibaskan jilbabnya yang basah kuyup kena air hujan.

Saat dia membetulkan jilbabnya di bagian depan,sekilas tanpa sengaja lehernya dan tengkuknya kelihatan, putih bersih .. dan ditumbuhi rambut rambut halus yang mebentuk satu garis lurus ditengahnya.

” Ngak apa apa kok, memang hujan hujan begini angkotnya jadi sulit, apalagi diujung jalan sana biasanya kan banjir, jadi sopir angkot jadi enggan lewat sini”. Aku menjawab seadanya sambil kembali konsentrasi melihat jalan yang sudah digenangi air hujan.

” Om kantornya dimana ? ” dia memecah kesunyian. ” Di daerah kuningan, memangnya kamu habis pulang kuliah nih? dimana ? ” aku bertanya sambil melirik wajahnya. Wow rupanya seorang bidadari muda sedang duduk disebelahku, wajahnya sungguh cantik. Bibirnya tipis kemerahan, hidungnya runcing dan mancung sedangkan alis matanya hitam melengkung tipis diatas matanya yang bulat bersinar.Terhias oleh kerudung putih bersih, mengenakan jubah atau baju panjang terusan sampai mata kaki.

Dalam hati aku bertanya- tanya..wah..seperti apa nih tubuhnya kalo telanjang? Aku sedikit gugup dan kehilangan konsentrasi, mobil tiba tiba memasuki genangan air yang cukup dalam. Air terbelah dua dan muncrat kepinggir seperti gulungan ombak pantai selatan. ” Hati hati Om, banyak genangan dan licin! Kita bisa slip nih ” dia mengingatkan sambil menepuk pundakku. ” I I I ii ya ” jawabku sedikit tergagap. ” Kamu kuliah di dimana ? ” ku ulangi pertanyaan yang belum dia jawab sekedar menghilangkan rasa kaget dan gugup yang datang tiba tiba. Perempuan memang maKhluk yang luar biasa, aku sudah terbiasa menghadapi banyak ragam perempuan, mulai dari yang centil di karaoke, yang kenes di bar-bar sampai mantan pacar dirumah, tetapi kok aku tiba tiba seperti menjadi seperti seekor tikus di incar kucing dihadapan seorang gadis berjilbab.Maklum…aku tak biasa bergaul dengan wanita berjilbab,terlebih mahasiswa seperti gadis di sampingku sekarang ini.

Sebab menurut pengetahuanku,gadis berjilbab adalah gadis suci yang alim,bersih,dan tak ternoda. Aku merasa kehilangan bahan pembicaraan , padahal dikantor aku terkenal tukang bikin ketawa dengan omonganku yang suka ngelantur. ” Di .. ” dia menyebutkan sebuah Universitas di kota Yogya ini. didaerah Yogya Utara. ” O, kalau begitu kamu bisa ikut sampai deket kaliurang nih, nanti tinggal nyambung naik metromini ” Rasa gugupku mulai hilang, pengalaman sebagai tukang cipoak berhasil mengontrol dan mengembalikan rasa percaya diriku. ” Makasih Om, kalau sudah sampai situ sih , jalan kaki juga ngak jauh kok ” E ngomong ngomong kamu tinggal dimana sih, kok rasanya saya ngak pernah lihat kamu selama ini “. ” Terang aja ngak pernah Om, orang aku baru pindah kok ” Dulu aku sekolah di Kudus sama Ibu,tapi karena keterima kuliah di Yogya,,aKhirnya kami pindahj ke Yogya” dia terdiam dan kelihatan wajahnya seperti menyembunyikan sesuatu, apalagi aku dan dia sama sekali belum berkenalan. ” Oh .. pantas aja dong, e ee nama mu siapa ” aku bertanya tiba tiba agar dia tidak merasa jengah karena aku tau dia tidak mau meneruskan cerita tentang masa lalunya di Kudus sana. ” Nurul Om, Nurul Khomsiyah.”sesekali ia mengusap wajahnya yg masih basah kedinginan, sambil sesekali menarik baju panjangnya agar tak menempel dan mencetak bentuk tubuhnya. “Wah itu betul betul sebuah nama yang pas buat kamu ” aku mulai melepaskan tembakan pertama sambil tersenyum semanis mungkin, ha ha ha ha ha awas ada semut. ” Ah.. Om bisa aja ” dia menjawab sambil tersipu. Woooooouuuuu .

Hatiku meronta melihat rona pipinya yang tiba tiba memerah bak awan senja diufuk barat ” Awan diufuk barat merah apa kuning ya !!!!! sebodoh amatlah .. ” Tolong ambilkan uang di box dibawah tape itu Khom, buat kasih pengamen. Dia menundukkan badan untuk menjangkau uang dalam didalam box , aku melirik kekiri, tiba tiba pemandangan indah terbentang disela sela jilbab panjangnya,tersingkap sehingga keliatan agak membuka kerah bajunya. BH ukuran sedang terisi dengan sempurna oleh gelembung payudara yang kelihatan tambah putih dibalik baju muslimahnya ” Yang ini Om oup ” tiba tiba dia menyadari aku sedang menatap kedua payudaranya yang kelihatan jelas dari balik kancing baju yang terbuka diurutan paling atas. ” Ma af, . iya yang itu.. yang lima ribuan ” aku menjawab sambil memalingkan muka dan lansung menginjak rem karena mobil didepan berhenti tiba tiba. Tangan kanannya yang tadinya akan menutup kerah baju tiba tiba menggapai sesuatu untuk pegangan agar dia tidak terantuk ke dashboard mobil yang kurem secara mendadak. Kali ini dia berteriak kecil ” Ma af Om a aa aaku ngak sengaja ” tiba tiba dia menutup muka dengan kedua tangannya karena malu dan jengah, soalnya sewaktu mencari tempat berpegangan tadi, tangannya masuk kesela sela pahaku dan dia memegang sesuatu yang sedang bergerak tumbuh menjadi keras nun dibalik cd ku.

Aku merasakan hentakan yang luar biasa keluar dari pangkal pahaku menjalar ke batang penis dan terus bergerak bagai kilat ke arah kepalanya, gerakan itu begitu dahsyat dan tiba tiba akibat terpegang oleh tangan halus gadis berjilbab ini.Jilbab lebar warna putih,sepadan dengan jubah muslimah warna biru tua kembang2,wow…cantik nian gadis ini. Ruisleting celana ku seperti didorong sesuatu sehingga menonjol runcing kedepan dan hapir mentok di stir mobil. Alah mak. Jan kepalaku atas bawah berdenyut kencang, tetapi klakson mobil dibelakang mengejutkan aku agar segera memberi jalan. ” Oi .., pacaran jangan di jalan, no pergi ke Kaliurang” sisopir mengumpat sambil menyebutkan sebuah nama pantai yang terkenal sebagai surganya mobil goyang. Itu adalah awal perkenalanku dengan Khomsiyah, gadis Kudus mahasiswi semester 2 di Yogya ini. Semenjak itu hampir tiap pagi Khomsiyah dengan setia menunggu didepan wartel untuk berangkat bareng dengan mobilku.Wajahnya yang teramat cantik dihias jilbab yang kadang berkibar,menanbah pesona dan kecantikannya.

Kami mulai bercerita tentang keadaan masing masing, rupanya dia pindah ke Yogya ikut pamannya karena orang tuanya bercerai dan Ibunya tidak sanggup membiayai sekolahnya. Di Jakarta dia hidup sangat prihatin, maklum tinggal dengan orang lain walaupun dia paman sendiri tetapi tentu saja sipaman akan lebih memperhatikan kepentingan anak serta istKhomya terlebih dahulu sebelum buat si Khomsiyah.Hampir tiap hari dia hanya dibekali uang yang hanya cukup buat ongkos angkot sedangkan buat jajan dan lain lain adalah suatu kemewahan kalau memang lagi ada. Tugasku sebagai salah satu manager dengan bisa kutinggalkan 1 atau 2 jam toh ada sekretaris yang ngurusin. Aku juga tidak menegerti kenapa Khomsiyah jadi begitu dekat denganku, kami jalan bersama, nonton makan dan adakalanya dia minta dibeliin sesuatu, seperti baju ataupun parfum. Tetapi itu tidak terlalu seKhomg yang paling dia harapkan dari aku adalah perhatian karena pernah satu hari dia terus terang bicara. ” Om maaf ya kalau 2 minggu kemaren Khom ngak nemui Om dan juga sama sekali ngak ngasih kabar ” dia berhenti sejenak sambil menatap aku, saat itu kami sedang berjalan dipantai parangtritis, dia memegang erat lenganku sambil menyandarkan kepalanya.Tanpa dia sadari tangan kiriku sudah berulangkali menyentuh ujung payudaranya apalagi ketika dia semakin erat merangkul. Payudara itu begitu kenyal,walah terhalang jilbab dan terbungkus jubah panjang muslimahnya, dan kelelakianku tiba tiba mulai terusik. ” Memangnya ada apa ” aku menjawab sambil mengajak dia duduk disebuah bangku tembok dibawah pohon kelapa. ” Tadinya Khomsiyah sudah mau berhenti kuliah habisnya uang udah 2 bulan tidak dikirim,dan buat beli buku juga ngak punya “. Dia merenung sambil memandang jauh ketengah laut yang ditaburi kerlap kerlip lampu nelayan dan sesekali kelihatan lampu pesawat yang hendak turun di bandara adisucipto. ” O .. itu masalahnya, lantas kenapa kamu ngak ngomong aja sama Om ” ” Ngak enak Om, ntar dikirain saya matre lagi..” dia menjawab sambil tersenyum. ” Khom… gini aja deh, kamu kan udah tau kalau Om mau Bantu kamu, tapi kalau kamu ngak bilang,.. ya terang aja Om ngak tau ! iya yoh ? “” Makasih Om .. terus terang memang Khom mau minta tolong Om untuk yang satu ini. Om ngak usah mikiKhom mau Bantu yang lain deh, tapi aku akan berterimakasih sekali kalau Om bisa menyelamatkan kuliahku itu aja.”

Dia tertunduk, wajahnya begitu sendu dan sorot matanya hampa tanpa gairah. Aku begitu terenyuh melihat seorang Nurul Khomsiyah,gadis cantik berjilab yang hari haKhomya seharusnya dihiasi oleh tawa ceria dan penuh optimisme ternyata harus menanggung beban demikian berat. ” Oup .” Khom berteriak kecil karena kaget ketika wajahnya kutiup untuk memutus siklus lamunannya. ” Om nakal ya.. ” dia menepuk bahuku dengan mesra dan aKhirnya malah memeluk aku. Bau harum tubuhnya memenuhi rongga hidungku dan membangkitkan keinginan untuk balas memeluknya. Kuraih bahu kiKhomya kurebah kan dia dia atas kedua pahaku, dia sedikit kaget, ingin menolak tetapi itu terjadi demikian cepatnya. AKhirnya Khomsiyah meraih tangan kiriku dan entah sengaja atu tidak tanganku didekap erat didadanya. Oooooooh lembutnya daging itu, payudara muda yang masih segar dan ranum telah mengalirkan sensasi elektrik ribuan vol kesekujur tubuhku. Aku yakin Khomsiyah merasakan sesuatu yang bergerak menyentuh punggungnya, karena posisi tidurnya persis tepat di atas batang penisku. Aku tahu itu karea Khomsiyah berusaha mengangkat pungungnya untuk kembali duduk dan wajahnya kelihatan memerahmalu. Tapi dengan lembut gerakan duduknya kutahan dengan menekan dadanya.

” Khom udah tidur aja nih Om kipasin biar ngak gerah” aku hanya sekedar bicara karena jujur aja otakku sudah ditaburi bayangan lain yang lebih seru. Tapi kuyakinkan diriku ” Ini si Khomsiyah yang sama sekali belum berpengalaman, sedikit saja kamu salah langkah akan bubar semuanya . Sabar .sabar, gunung ngak usah dikejar emang dia ngak pernah lari kok”. Dia kembali tidur dipangkuanku dan sekarang dia malah membiarkan tanganku menelusup ke balik jilbab putihnya,menekan ke dua payudaranya. Kulihat nafasnya mulai tidak beraturan ketika pelan pelan tanganku bersentuhan dengan pucuk payudaranya. Ini adalah pengalaman pertama buat payudaranya disentuh tubuh laki laki. Walaupun itu hanya dari balik baju dan BH, tetapi buat Khjomsiyah,gadis berjilbabyg alim ini yang baru pertama merasakan, sudah membuat dia sulit bernafas karena mulai terangsang. ” Khom kita pulang yok , udah jam 8 nanti pamanmu bingung dan lapor i’. Kataku sambil bercanda. ” Nati aja Om. bentar lagi, Khom masih ingin disini 2 jam lagi.” dia makin erat memelukku. ” Oupt besok besok kita bisa jalan kesini lagi, tapi kalau kamu dimarahin karena terlambat pulang, ya.. kita akan kesulitan untuk jalan jalan lagi.”. aku berkata sambil mebangunkan Khomsiyah dari pangkuanku. ” Ok deh Om. ” dan secepat kilat dia mengecup pipiku aku hanya bisa terdiam kaget, karena ngak nyangka. Persis kayak kagetnya Bush ketika WTC di bom Alqaedah.

” Lho kok bengong Om katanya mo pulang ayo ” Khomasiyah menarik tanganku. ” Ayok ” kami berjalan berdekapan. Hari berlalu, hari itu hari Jumat dan Khomsiyah memberitahuku agar aku menemuinya di tempat biasa kami ketemu, disebuah wartel dibawah kantorku jam 4 sore.Aku sampai disitu persis jam 4, tapi aku ngak lihat batang hidungnya si Khomsiyah, tiba tiba ada bisikan lembut dibelakang kupingku. ” Surprise. ” aku sempat ngak percaya dengan apa yang kulihat. Seorang wanita cantik berjilbab dengan rok panjang warna hitam,berjilbab merah muda, berkaos ketat, berdiri didepanku. Pahanya yang panjang dan mulus terlihat jelas dibalik balutan rok panjangnya. Disela pahanya tergambar jelas belahan kewanitaan yang belum pernah tersentuh laki laki. Kaos ketat mempertegas beberadaan dua gunung kembar didadanya, sedangkan bagian bawah kaos yang sedikit pendek memperlihatkan kulit putih, bersih dan dihiasi sebuah tahi lalat kecil tepat di bawah pusar . Oh . Sungguh pemandangan yang indah dan langka.Gadis cantik berjilbab namun….wow sexy sekali..I like it..!!! ” Jangan ngliatin gitu dong Om.! emangnya ngak pernah lihat orang pakai cantik?” Sorry, Khom .. kamu luar biasa, membuat Om jadi linglung “.” Ah jangan ngerayu ah” ” Ngak kok, hei kenapa tiba tiba kamu tampil beda begini ?” aku bertanya sambil menggamit tangannya untuk mencari tempat duduk. ” E h e m.ada yang lupa rupanya, hari Ini ulang tahun yang ke 23 lho….” Eh ingat kita lagi di wartel. tuh lihat tuh orang orang pada mandangin kamu.”” Sorry lah .. , habisnya hanya dengan Om aku bisa berbagi rasa jadi jangan salahkan daku kalau ngak bisa nahan diri”.” Khom , ngak enak dilihatin tuh ” aku berlagak alim lah dikit. ” Justru karena banyak yang lihatin Khomsiyah brani nyium Om, kalau ditempat yang sepi .. wah bisa bahaya dong.

Dia mencubit hidungku dengan gemas.Aku bisa menduga isi fikiran orang orang disekitar kami ” Lha ini bapak sama anak atau Om sama ..pacar mudanya ya !” Mereka ngak salah, Khomsiyah adalah seorang gadis cantik yang sedang mekar, sedangkan aku adalah laki laki ” Tua sih belum tapi muda udah lewat ” ibarat mangga udah mengkal kata orang Betawi , udah ngak enak dirujak. Tapi waktu, tempat dan kesempatan mempertemukan kami sehingga membuat kehidupan saling mengisi dan malah sudah saling membutuhkan. Aku butuh semangat dan gairah muda yang berkobar dari Khomsiyah sedangkan dia butuh tempat berlindung yang kokoh dan teduh dari aku.. klop deeeeh. ” Hei jangan nglamun ” Khomsiyah mencubit pahaku ketika pelayan sudah berdiri tepat didepanku tapi aku tidak menghiraukannya.

Kami masuk ke warung cafe sebelah,danh oh oh iya Mbak .es jeruk buat aku dan klapa kopyor itu buat dia ” aku memberitahu mbak pelayan sambil menunjuk Khiomsiyah. ” Om . Kalau kali ini Khom minta sesuatu boleh ngak ! ” ” Kenapa tidakkalau Om sanggup pasti Om kabulkan” ” Sebetulnya Khomsiyah mau memberikan satu hadiah spe buat Om tapi sebelumnya Khomsiyah minta sesuatu dulu gimana Om ?”.” Ok ngak masalah”,. Jawab ku sambil mempersilahkan dia minum. ” Khom tau kok, Om ngak pernah mau ngerayain HUT Om , tapi kali ini Khom minta sebagai hadih juga buat Khom kita rayain ya ! “. Kulihat wajahnya sangat berharap. Betul sekali, aku mamang paling ngak suka dengan yang namanya pesta HUT gitu, jadi wajar saja kalau aku lupa hari itu aku sebetulnya ulang tahun,yang ternyata bersamaan dengan ulanmg tahun Khomsiyah. ” Well kita mau ngerayain seperti apa, dimana degan siapa aja Khom ? ” ” Maksud Khom kita rayain berdua aja, gimana kalau kita cari tempat yang jauh dari keramayan agar lebih leluasa ? kayak dipantai gitu ! ” belum sempat kujawab Khomsiyah sudah ngrocos lagi.” Jangan kawatir, Khomsiyah tadi udah pamit mau nginap dirumah teman sama paman ” Dia seperti bisa membaca jalan fikiranku. ” OK apa kita mau ke Parangtritis” Jangan Om disana terlalu ramai, Khomsiyah ingin ke Kaliurang.

Setelah telpon kerumah memberitahukan bahwa aku ada rapat dinas, maka kami lansung tancap gas ke Kaliurang. Disitu ada sebuah hotel yang memang sudah tidak terlalu bagus lagi karena termakan usia, tetapi sangat strategis, tempatnya dipinggir jalan raya .Setelah mandi, Khosiyah tidak lagi paklai jean ketat, tetapi rupanya dia sudah siap dengan baju panjangh muslimahnya,lengkap dengan jilbab lebar warna ungu…wow cantik nian gadis ini tidur putih setengah transparan sehingga lekuk tubuh dan tonjolan dadanya begitu jelas. ” Khom Om masih penasaran kamu mau ngasih hadiah spe apa sih sama Om ” aku bertanya sambil telentang ditempat tidur.” Nanti ajadeh.. Om pasti bakal tau juga ” Khom merebahkan diri disamping kanan ku.Tiba tiba kami saling menghadap sehingga wajah kami hampir bersentuhan.

Aroma nafasnya menerpa hidungku dan bau mulutnya yang wangi membuat gelora hasratku terpancing.Bibir gadis berjilbab ini sangaty mungilsan sensual. Kulingkarkan tangan kiriku ketubuhnya, dia diam dan malah memejamkan matanya. Pelan tapi pasti bibirku menyentuh bibir Khom dengan lembut. Khomsiyah seperti tersentak tiba tiba. Tubuhnya sedikit mengigil dan nafasnya jadi memburu. Kuhentikan gerakan bibirku persis diantara kedua bibir nya, ujung lidahku kudorong keluar sedikit demi sedikit dan bibir Ranum itu mulai kujilati dengan penuh perasaan.Aku sengaja mengontrol gerakan dan keinginan ku sedemikian rupa agar ia dapat merasakan suatu sensasi kelembutan yang membuai dan akan membuat dia terhanyut dalam kenikmatan.”Tubuhnya bergetar dan posisi tidurnya tidak lagi menghadap aku tetapi bergerak telentang dalam dekapanku. “Aku segera mengecup kupingnya yg masih tertutup jilbab,sambil pelan2 tanganku menelusup ke balik jilbabnya..mencapai lehernya..mengecup kulit putih tepat leher jenjang itu.Ia mengerang ” Om. geli bulu ……” Ngak papa Khom… ” aku menjawab sambil terus mengerakkan bibir dan lidahku meluncur di lehernya yang jenjang. Leher mulus itu kujilat dengan lembut dan pelan, terus turun.. turun dan Ouh..Baju muslimahnya tiba tiba terbuka dibagian dadanya, buah dada itu begitu ranum, kulitnya putih dan halus, disekitar putingnya berwarna coklat kemerahan, ditumbuhi bintik bintik putih halus melingkar memagari ptuing susunya yang kehitaman dan sudah berdiri egak.

Sungguh satu pemandangan yang sangat indah melihat payudara gadis berjilbab dan baru pertama mengalami ransangan sexual. Bentuknya masih bulat dan padat mebuat aku tidak sanggup lagi menahan diri. Putting muda itu kuhisap dengan lembut dan tubuh ia kembali bergetar . ” Oooouhhhhh Om.. ngak tahan Om.” ” Ngak tahan apanya … Ngak tau Om. ngak tahan aja ” Kalau Khomi ngerasa sesuatu ikutin aja ” aku berkata sambil memutarkan jempol dan telunjukku keputing susunya. ” Om.. terus Om. ” ” Iya Khom.Tanganku makin jauh menelusup ke dalam BH di balik baju muslimahnya.Khom….Semua pakaian Khom kulucuti …jilbab lebar kulepaskan pelan2..baju muslimahnyapun aku lepaskan dengan sangat hatiu2…begitu juga aku..kubuka opakaianku.., kami sekarang telanjang lonjong eh ..bulat. Tubuh putih polos gadis berjilabb sekarang terhidang pasrah dihadapanku. Sementara penisku sudah mulai teler mengeluarkan cairan putih bening pertanda siap tempur.Ia kembali kudekap dengan pelan, penisku kutempatkan persis ditengah belahan vagina ” Ouuuuuuuuuuuuh Om.. Khom jadi basah Om..” ” Iya sayang .. Om Juga ” Kugerakkan pinggulku turun naik penuh irama , pelan pelan penisku menyentuh clitoris Khomsiyah.. ” A aaa duh Om..”

Cengkraman tanga Khomsiyah seperti mau merobek kulit punggungku. Dia mulai teransang dengan hebatnya, matanya sayu dan redup, bibirnya merekah setengah terbuka dan basah oleh hasrat kewanitaan yang minta dipuasi.

Sementara aku mulai merasakan cairan panas mengaliri batang penisku, itu adalah cairan vagina Khom yang keluar bagaikan mata air pegunungan sukabumi., kental dan licin. Kedua tanganku mulai membelai payudara nya,kubelai-belai susu kenyal itu, denga gerakan melingkar bawah keatas dan beraKhir diputingnya yang tegak berdiri. Aku menyadari ini belumlah saat yang tepat untuk melakukan penetrasi, gadis berjilbasb ini harus diberi kenikmatan puncak senggama dengan cara lain, setelah nikmat klimaks itu dia cicipi buat pertama kali didalam hidupnya, barulah hal itu akan kulakukan. Pelan pelan kedua kaki Khomsiyah kudorong kepinggir, sekarang vagina nya terbentang jelas dihadapan penisku. Bulunya sedikit kepirangan ( ngak pernah disampoin kali ) tepat diatas clitorisnya bulu tersebut membentuk lingkaran kecil seakan disiapkan buat tempat pendaratan lidahku.Aku sudah mau menjilat clitoris itu sambil menunduk tapi tiba tiba ” Om jangan dijilat ya Khom pasti ngak tahan, kata teman teman kalau vagina dijilat, Khom pasti lansung klimaks.

. oooouuuuuuh padahal Khom masih kepingin lebih lama ngerasain seperti ini. ” Ku urungkan niat untuk menjilat vagina yang sudah terbuka lebar tersebut. Kulit diseputar vagina itu putih dan bersih, sementara ketika bibir vagima kusibak dengan jariku, kelihatan warna merah membayang dipinggir bibir dan lubang vagina yang sekarang telah dipenuhi cairan putih bening nan wangi. Kakinya kuangkat lebih tinggi dan sedikit mengangkan sehingga bibir vagina Khomsiyah betul betul terbuka menantang penisku. ” Khosiyah sayaang… kita peting aja dulu ya.” “Peting itu apa Om..” ” Nih . begini nih ” Batang penisku kuletakkan persis ditengan tengah bibir vagina Khom dan dengan gerakkan turun naik yang berirama penisku mulai menggosok bibir vagina dan clitoris /Aku merasakan tangan Khomsiyah mulai menekan pinggulku agar batang penisku lebih erat menepel di vaginanya. Gerakkanku semakin cepat dan pingul Khom mulai turn naik seirama tarian dangdut penisku. Lendir vagina Khom semakin banyak membuat penisku dengan leluasa bergerek didekapan vaginanya. Akibat licin dan hangat, serta sensasi clitoris yang tersentuh oleh ujung penisku, aku mulai merasakan gerakan sperma menyeruak ingin menyemprot, kukendalikan diri agar airbah sperma ku jangan tumpah duluan sebelum Khom dapat kupuaskan.

” Oooooooooooommmmmm Khom ngerasa melayang.dan ooooouuuuuh ada yang mendesak dari bawah vaginaku. Ohhhh apa ini kok rasanya seperti ini. Ooooooooooooooommm ngak tahan..Om tolong gosokkan penisnya yang kencang…ooooooooooouhhhhhhhhhhh dia datang ouhhhhhhhhh.. Sebelum Khomsiyah terkulai lemas karena klimaks pertamanya, akupun merasakan gerakan sperma yang tiba tiba kuat menekan dari sela sela kedua torpedoku, terus meniti batang, terus kebagian kepala dan ” oooooooooooooooooOOOOOOOOuuuu sekarang tepat diujung penis OOOuuhhhh ..

Khomsiyah..Ommmmmmmmmmmmmm lepassssssssssssssssssssssssayang. Spermaku muncrat menyirami pusar Khomsiyah yang putih bersih, sperma itu begitu kental seperti ingus yang udah mingguan nginap dihidung., diam dan sama sekali tidak meleleh ke bawah, sekalipun dia dipinggir perut Khomsiyah yang telah tertidur pulas. Jam 12 malam kami terbangun karena lapar, tetapi sebelum bangun tiba tiba aku menyentuh payudara Khomsiyah. Akibatnya Ruar biaa.sa . Khomsiyah lansung teransang dan mencium bibirku penuh semangat. Tak ada pilihan lain biarkan perut menunggu sebentar, toh yang bibawah perut juga kelaparan. Ciuman Khomsiyah kusambut dengan hangat, pelan tapi pasti pergumulan kembali terulang, remas berbalas remas, kecup dibalas kecup, jilat dibayar jilat, dan itulah yang saat ini sedang aku lakukan.

Vagina nya kusibak dengan jariku, ujung lidahku menerobos dengan lembut menuju clitorisnya. Clitoris itu kuhisap bagaikan menghisap puncak es cream, lembut, pelan dan sedikit dijilat dengan ujung lidah. Dengan gerakan tiba tiba ia mebalikkan tubuhku sehingga dia sekarang mengangkangi kepala ku dengan vaginanya dan multnya persis berada didepan penisku. Bibir yang lembut dan basah kurasakan menyentuh lubang kecil diujung penisku” OOOuuhhh jilat terus sayang…… “I yyyyyyy aaaaaaaaaa Om tapi Om jangan diam dong” Aku lupa dengan tugasku karena keasyikan dihisap Lidahku kembali beraksi, kali ini sedikit menerobos kedalam vagina karena posisi ku tepat dibawahnya.

Khomsiyah menggelinjang hebat.. pahanya makin menjepit mukaku, tapi hisapan dan kulumannya dipenisku juga semakin kencang. Kupikir inilah saat nya keperawanan Khomsiyah harus kuambil. Dengan klimaks yang dia rasakan ditambah dengan ransangan yang saat ini dia alami, maka penetrasi pertama ku kedalam vagina kukira tidak akan membuat dia kesakitan. Posisi kurubah, sekarang Khomsiyah telentang tepat dibawahku, kulihat bibirnya masih berlepotan ciran bening penisku, dia mejilat sudut bibirnya dan cairan itupun besih menghilang.

Kakinya terentang membuat posisi vaginanya jelas terbuka, pelan pelan kutempatkan ujung penisku dilubang vagina Khomsiyah tetapi aku masih dian. Aku ingin dia merasakan sensasi dan getaran hangat dari ujung penisku. ” Oooooom ayo dong”, Khomsiyah menyodorkan payudara kiKhomya untuk kuhisap ” Mmmmm . ” aku lansug menghisapnya, tubuh Khom kembali bergetar hebat dan tanpa dia sadari. Ujung runcing penisku pelan pelan telah membuka jalan masuk ke vaginanya. ” Ommmm .. perih” Khomsiyah mendekapku ketika batang penisku telah hampir separuh jalan menuju singasananya. Dinding vagina Khom yang masih perawan terasa menjepit dan menahan gerakan maju penisku, itu mungkin yang mambuat dia merasa sedikit perih. Kutarik penis ku dengan pelan, ujungnya kuarahkan ke Clitorisnya.

Dengan gerakan mencongkel yang lembut ujung penisku beradu dengan clitorisnya. “oooouuuuuuuuOOOOOOOOOO!!!!!, Om aku angak tahan..” “Oh ouhhhh masuk semua ya Om..! rasanya sesak sekali.”

” Masih perih saying ….” kataku berbisik dikupingnya

” Ngak papa OOOmmmm terus aja” ” Nih . OOOOM tusuk ya..” ” Iya OOOOOOOOOOOm ,.. yang dalam Ommmmmmmmm .” ” Iya.. Om udah masuk semua nih, Khomsiyah..Khomsiyah.. ???oh Khom…. terimaksih ya … Sungguh nikmat sekali saya…..ng” ” Iya O…..m ini hadiah istimewa dari Khom. “Ohhhhhhhhhh Om….. Khom ngak tahan .terus Om. yang kencang Om…. Ohhh iya Ommmmmmmmm terus . kayak itu ..aja Ouhhhhhhhhhh

Dendam Ustazah Nur #3

“Haji, Kumar, ni air panas minum la dulu,” ajak Ustazah Nur.

“Kamu dah mandi Nur?” Tanya Haji Ismail.

“Iyelah Haji, rehatkan badan dulu, kejap lagi Haji nak lagi kan!” Kata Ustazah nur.

“Haa… Mana kamu tau?”

“Tu! Tengok konek tu dah naik.. Haji tak nak bukak ke kopiah tu?” Juih mulut Ustazah Nur sambil bertanya.

“Alah kalau kau pakai tudung, boleh?” Pinta Haji Ismail.

“Ni si Kumar suka,” jawab Ustazah Nur.

“Betul la Haji, saya banyak suka la,” kata Kumar.

“Ok… Kumar, kau rehat dulu, aku nak main dengan Nur dulu,” ujar Haji Ismail.

“Ayoo.. Banyak cepat! Baru pukul 2petang la,” perli Kumar.

“Iye la Haji, awal lagi,” sambung Ustazah Nur.

“Kejap lagi mencarik pulak Kak Kah kau, dah cepat,” tak sabar-sabar Haji Ismail menjawab.

Ustazah Nur cuma senyum, dia terus menongeng di birai kerusi, menyelak kain baju kurungnya ke atas. Haji Ismail menelan air liur sahaja, dicium-ciumnya punggung Ustazah Nur. Sempat juga dia membuatkan love bite.

“Haji nak terus ke?” Tanya Ustazah Nur.

“Iyalah… cepat Nur, aku dah tak tahan ni,” jawab Haji Ismail.

“Tak nak hisap dulu?” Tanya Ustazah Nur lagi.

“Tak payah, malam nanti aku datang lagi.”

Haji Ismail terus menyula puki Ustazah Nur. Laju hentakkannya. Ustazah Nur menahan penuh nafsu. Haji Ismail mencapai buah dada Nur, digentel-gentelnya buah Nur sesekali. Ustazah Nur mengemut kuat batang Haji Ismail, membuatkan Haji Ismail hilang arah. Kuat tujahan Haji Ismail kali ini, membuatkan Ustazah Nur senak perut.

“Aahhh… Ahhh.. Laju lagi Haji,” jerit Ustazah Nur.

“Uuuhhh… Rugi kaki kau Nur, kemut kau keliling,” balas Haji Ismail.

“Aahhh… Ahh.. Kak Jah tak kemut ke?” Tanya Ustazah Nur.

“Eemmphh… Kak Jah kau, tak payahlah.”

“Aahhh… Ahh… Kak Liza ada, apasal tak main dengan dia emphh…” tanya Ustazah Nur lagi.

“Aahhh.. Kau gila Nur, dia ahhh.. Dia kan anak aku!” Jawab Haji Ismail.

“Eemphh.. Ahh… Anak ke tak, janji boleh ahh.. Empphh.. Kemut Haji!”

Haji Ismail terus melantak lubang puki Ustazah Nur. Dia tak ambik pusing pasal Liza, anak dara suntinya yang baru habis SPM tetapi Ustazah Nur ingin membalas dendam terhadap Haji Ismail akan perbuatannya sebentar tadi meliwatnya secara senyap.

“Emmpphhh… Aahhh… Nur aku nak pancut!” Raung Ustazah nur.

“Nur sekali Haji”

“Eerrrggghhhhhhh….. Arggghhhh…….” Mereka berdua terkapai-kapai.

Kumar memerhatikan sahaja aksi mereka. Ustazah Nur kembali membersihkan lebihan air dari Haji Ismail, dilapnya pakai tisu. Haji Ismail mengenakan bajunya dan meminta diri. Ustazah Nur kembali kepada Kumar sambil membelai batang Kumar.

“Macam mana Haji boleh ikut?” Tanya Ustazah nur.

“Dia ada cakap, dia banyak geram sama you!” Jawab Kumar.

“Ooo.. Kiranya sekarang, Kumar jual saya la,” rajuk Ustazah Nur.

“Bukan la Ustazah..”

“Ok, kalau macam tu, saya ada satu pertolongan, boleh ka? Atau lepas ni takde main saya punya puki lagi,” kata Ustazah Nur sambil mengugut.

“Apa? Cakap la?”

“Ini malam Haji datang mesti punya, betul ka?” Tanya Ustazah Nur.

“Betul…”

“Sekarang saya mau Kumar bawak dia punya anak Liza mari sini, kasi tengok dia punya bapa main sama saya,” kata Ustazah Nur.

“Ok small matters la,” jawab Kumar.

Tepat 10 malam, Haji Ismail datang menuntut lubang puki dari Ustazah Nur tetapi kali ini dia membawa rakannya untuk menjamu Ustazah Nur, iaitu Sudin ketua kampung dan Pak Ali.

Ustazah Nur keluar menjemput mereka masuk. Ustazah Nur memakai baju kurung kedah berwarna hijau. Terbeliak mata Sudin dan Pak Ali melihat Ustazah Nur berjalan masuk. Mereka terus dibawa ke bilik utama rumah tersebut. Ustazah Nur terus duduk di atas katil

“Emmmphhh… Nampaknya malam ni Haji bawak kawan,” kata Ustazah Nur.

“Iyer mereka sahaja yang tahu perkara ni,” jawab Haji Ismail.

“Kalau begitu baik kita mulakan,” Ustazah Nur seperti pelacur murahan menarik Haji Ismail dan terus menghisap batangnya.

Pak Ali terus berbogel, begitu juga Sudin. Pak Ali terus menyingkap kain dan terus menjilat puki Ustazah Nur. Sudin bermain dengan tetek. Tidak lama sebab Ustazah Nur ada agenda lain, terus ditarik tangan Haji Ismail. Ustazah Nur terus menarik batang Haji Ismail ke dalam pukinya. Ustazah Nur saja berlakon untuk stim habis supaya biar Liza tahu bahawa bapanya Haji Ismail kaki burit.

“Emmpphhh.. Ahhh.. Laju lagi Haji…” rintih Ustazah Nur.

“Aahhh… Uhh.. Sudin kau tengok Ustazah ni, gian batang,” kata Haji Ismail.

“Uuhhh… Yer la aku macam dalam mimpi,” kata Pak Ali.

“Ali, amacam best ka?” Tanya Sudin.

“Best!!! Aku suka”

Sedang mereka asyik melayan Ustazah Nur, Liza muncul dari belakang. Liza mula menitiskan air mata melihat bapanya bak seperti seekor harimau membaham daging. Pak Ali dan Sudin terkaku sebentar melihat Liza berada di situ tapi Haji Ismail terus menghentak batangnya ke puki Ustazah Nur, sehingga Sudin menegur Haji Ismail.

“Mail, kau tengok tu?”

“Kenapa?” Tanya Haji Ismail.

“Kau kenal budak tu?” Tanya Sudin.

Haji Ismail melihat ke belakang, Terkejut dia kerana Liza di belakangnya. Dia yang berbogel berada di celah kangkang Ustazah Nur, cepat-cepat menutup kemaluannya.

“Kau… Kau buat apa sini Liza?” Tanya Haji Ismail.

“Saja nak tengok,” selamba Liza menjawab.

“Dah… dah, kau pergi balik,” arah Haji Ismail.

Liza menghampiri katil di mana Ustazah Nur berada. Sudin dan Pak Ali terpaku melihat Liza.

“Kalau ayah boleh, Liza pun boleh,” kata Liza.

“Pak Sudin dan Pak Ali, mari sini puaskan Liza macam mana Ayah puas layan Ustazah,” kata Liza.

“Betul ke Liza? Aku pun dah lama ngidam badan kau ni,” kata Sudin.

“Betul tu Sudin, orang dah sorong bantal apa lagi!” Sambung Pak Ali.

“Liza, kau balik,” arah Haji Ismail.

“Dah terlambat ayah…”

Ustazah Nur tersenyum puas. Kini anak Haji Ismail menjadi ganti tubuhnya. Liza terus membogelkan dirinya. Terbeliak mata Sudin dan Pak Ali. Mereka tanpa membuang masa terus mengomol Liza yang terbaring, walaupun airmatanya mengalir.

Ustazah Nur meninggalkan bilik dan memberi ruang kepada Kumar dan kawannya yang berada di luar seramai 3 orang, termasuk Kumar. Jadi keseluruham di dalam bilik tersebut ada 7 orang, termasuk Haji Ismail membaham Liza seorang.

Ustazah Nur menguncikan dirinya di bilik bawah. Dia puas. Dendamnya tercapai sudah dan malam ini dia boleh berehat kerana ada orang mengantikannya.